MAKALAH FITOFARMAKA

 

MAKALAH FITOFARMAKA

“Corynebacterium sp”

 

 

 

                                                                                                      

Disusun oleh :

KELOMPOK 3

 

Eka Maulida Riskiya                    1710517220001

Muhammad Nur Separnawa         1710517210013

Samsudin                                        1710517210017

 

 

Dosen Pengampu :

IR. ELLY LIESTIANY, M.P.

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

 

2020


KATA PENGANTAR

            Dengan menyebutkan nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tak lupa kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Corynebacterium sp”

            Makalah  ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini

            Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

            Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Corynebacterium sp” ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi serta menjadi sumber bacaan yang bermanfaat bagi yang membacanya.

 

 

 

 

 

Banjarbaru, 29 April 2020 

    

                                                                                                      Kelompok 3


DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI...............................................................................................              i

KATA PENGANTAR................................................................................             ii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................            1

1.1 Latar Belakang...........................................................................            1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................             2

1.3 Tujuan Pembahasan....................................................................             3

BAB II ISI...................................................................................................            4

2.1  Morfologi dan Siklus Hidup…………………………………              4

2.2  Antibiotik/ Senyawa yang Dihasilkan dan  Mekanisme

Corynebacterium sp………………………………………..                5

2.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi……………………….                 6

2.4  Penggunaannya sebagai Biopestisida……………………..                  7

2.5  Cara Isolasi & perbanyakan, serta aplikasinya…………..                    8

BAB III PENUTUP....................................................................................           12

DAFTAR PUSTAKA

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bakteri Corynebacterium sp. dan Bacillus sp. termasuk dalam agens hayati yang bersifat antagonis dan dapat mengendalikan beberapa jenis penyakit tanaman terutama yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri Corynebacterium sp. diketahui dapat mengendalikan penyakit tanaman kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. oryzae dan penyakit layu pada tanaman pisang yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum (BPTPH, 2008).

Salah satu penyakit yang sering menyerang pertanaman padi adalah penyakit Hawar Daun Bakteri (BLB) atau disebut penyakit Kresek. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit utama padi. Secara ekonomis penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan hasil yang cukup tinggi, terutama pada musim hujan, mencapai 20,6-35,6%, sedangkan pada musim kemarau dapat mencapai 7,5-23,8% (Suparyono et al., 1993).

Penyebab penyakit hawar daun bakteri yang sering disebut penyakit kresek adalah bakteri pathogen Xanthomonas campestris pv. oryzae, penyakit ini termasuk salah satu penyakit yang paling merugikan pada tanaman padi. Secara ekonomis penyakit ini cukup penting karena kehilangan hasilnya cukup besar, hal ini karena kondisi pertanian di daerah tropis yang panas dan lembab, sehingga perkembangan penyakit lebih optimal (Semangun, 2000). Pengendalian Hawar Daun Bakteri (HDB) dapat dijadikan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas padi. Pada saat ini upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit tanaman masih mengandalkan penggunaan pestisida sebagai upaya pengendalian utama. Kenyataannya menunjukkan bahwa upaya pengendalian secara kimiawi bukan merupakan alternatif yang terbaik, karena sifat racun yang terdapat dalam senyawa tersebut dapat meracuni manusia, ternak piaraan, serangga penyerbuk, musuh alami, tanaman, serta lingkungan sehingga dapat menimbulkan pengaruh negative selain yang penggunaan senyawa kimia yang berlebihan dan terus menerusmembuat hama dan penyakit menjadi resisten.

Ismail et al., (2011), menyatakan bahwa bakteri Corynebacterium sp. dapat menekan penyakit bengkak akar pada kubis dan penyakit layu bakteri pada pisang. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengendalian, serta untuk membatasi pencemaran lingkungan maka kebijakan pengendalian secara konvensional diubah menjadi kebijakan pengendalian hama berdasarkan prinsip PHT. Salah satu upaya pengendalian penyakit ini salah satunya dengan pemanfaatan agensia hayati Corynebacterium. Bakteri Corynebacterium sp. yang merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis (agens antagonis) yang dapat mengendalikan beberapa jenis OPT utamanya terhadap penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae..

 

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana Morfologi dan Siklus hidup Corynebacterium sp

2.      Antibiotik/ Senyawa apa  yang dihasilkan dan  Mekanismenya

3.      Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi Corynebacterium sp

4.      Bagaiman Penggunaannya sebagai Biopestisida

5.      Bagaimana Cara Isolasi dan perbanyakan, serta aplikasinya.

 

 

1.3  Tujuan

1.      Untuk Mengetahui Morfologi & Siklus hidup Corynebactrium sp

2.      Untuk Mengetahui Antibiotik/ Senyawa yang dihasilkan dan  Mekanismenya

3.      Untuk Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi Corynebacterium sp

4.      Untuk Mengetahui Penggunaannya sebagai Biopestisida

5.      Untuk Mengetahui Cara Isolasi dan perbanyakan, serta aplikasinya.


BAB II

ISI

2.1   Morfologi dan Siklus Hidup

Menurut Agrios (1997), bakteri Corynebacterium dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Procaryotae (Bacteria)

Divisio : Firmicutes

Class : Thallobacteria

Family : Streptomytaceae

Genus : Clavibacter

Species : Clavibacter (Corynebacterium sp)

Corynebacterium merupakan bakteri antagonis yang secara morfologis dapat dikenali dari bentuk elevasi cembung, berbentuk batang dan jenis gram positif, koloninya berwarna putih kotor dan dibawah lampu ultraviolet tidak bereaksi (BPTPH, 2011). Bentuk bakteri Corynebacterium adalah berbentuk batang lurus sampai agak sedikit membengkok dengan ukuran 0,5 sampai 0,9 × 1,5 sampai 4 μm. Kadang-kadang mempunyai segmen berwarna dengan bentuk yang tidak menentu tetapi ada juga yang berbentuk gada yang membengkak. Bakteri ini umumnya tidak bergerak, tetapi beberapa spesiesnya ada yang bergerak dengan rata-rata dua bulu cambuk polar (Agrios, 1997).

Bakteri Corynebacterium termasuk bakteri gram positif karena dengan pewarnaan diferensial dengan larutan ungu kristal, sel bakteri berwarna ungu, tetapi ketika ditambahkan larutan safranin warna merah sel bakteri tidak menyerap larutan safranin sehingga tetap berwarna ungu. Bakteri gram positif pada umumnya bersifat non patogenik (Pelczar, 1986).

2.2  Antibiotik/ Senyawa yang dihasilkan dan  Mekanisme Corynebacterium sp

Molase berperan sebagai bahan pembawa, pelindung sinar matahari, dan sebagai sumber nutrisi. Kandungan utama molase ialah senyawa gula terutama sukrosa (Burges dan Jones 1998). Bahan lain yang digunakan sebagai sumber makanan ialah tepung gandum dan jagung, dedak gandum, kecambah gandum, tepung kedelai, dan gluten jagung (Paau 1998).

Selanjutnya Burges dan Jones (1998) menyebutkan bahwa molase merupakan salah satu bahan additive yang paling bermanfaat dan salah satu dari sedikit bahan yang banyak memberikan manfaat positif di laboratorium maupun di lapangan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sifatnya yang multifungsi, sebagai pelindung matahari, pengental, phagostimulant, dan sebagai penutup faktor perlawanan dari daun. Selain itu molase juga dapat berperan sebagai pengawet (preservative) selama penyimpanan.

Bakteri antagonis adalah jasad renik (mikroorganisme) yang mengintervensi kegiatan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan. Pada dasarnya terdapat 3 mekanisme antagonis dari bakteri yaitu :

1.        Hiperparasitisme : terjadi apabila organisme antagonis memparasit organisme parasit (patogen tumbuhan)

2.        Kompetisi ruang dan hara : terjadi persaingan dalam mendapatkan ruang hidup dan hara, seperti karbohidrat, Nitrogen, ZPT dan vitamin.

3.        Antibiosis : terjadi penghambatan atau penghancuran suatu organisme oleh senyawa metabolik yang diproduksi oleh organisme lain (Zainal, 2011).

Corynebacterium sp. merupakan bakteri antagonis yang ditemukan pada daun padi di daerah Jatisari Karawang, bakteri ini berhasil diisolasi dan terbukti efektif dalam mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan dan bakteri, pada beberapa tanaman pangan serta hortikultura seperti penyakit kresek pada padi serta penyakit layu dan bercak daun pada tanaman cabai serta kubis-kubisan. Biopestisida yang berbahan dasar Corynebacterium sp. dibuat formulasinya oleh Balai Besar Peramalan Organisme Penggangu Tumbuhan (BBPOPT) dan kelompok tani Patih di Subang dalam bentuk cair dan diberi nama dagang AntiKres (BBPOPT 2007).

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Faktor yang mempengaruhi kemampuan bakteri Cyanobacterium sp dalam menekan pathogen tanaman yaitu daya antagonis dari bakteri tersebut jika daya antagonisnya rendah maka kemungkinan besar kecil untuk dapat menekan pathogen tersebut dan jika daya antagonisnya tinggi bisa menyebabkan keberhasilan dalam menghambat. Jika lambat dalam pengaplikasian Corynebacterium ini kemampuannya dalam menekan bisa sedikit lambat karena persaingan kompetisi ruang dan hara dalam perakaran tanaman, namun Corynebacterum mudah dalam menyesuaikan diri. Selain itu faktor dari makanan  bagi Corynebacterium juga berpengaruh dalam kelangsungan hidupnya, jika sedikit makanan maka pertumbuhan dan perkembnagannya juga sedikit lama.

Pertumbuhan dan perkembangan suatu makhluk hidup dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar terdiri atas makanan, air, suhu, kelembaban dan cahaya sementara faktor dalam bisa dipengaruhi oleh gen dan hormon.

 

2.4  Penggunaannya sebagai Biopestisida

Pemanfaatan bakteri Corynebacterium di bidang pertanian yaitu dengan penerapan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dengan cara memaksimalkan penerapan berbagai metode pengendalian hama secara komprihensif dan mengurangi penggunaan pestisida. Salah satu komponen PHT tersebut adalah pengendalian hayati dengan memanfaatkan bakteri antagonis sebagai pengganti pestisida, hal initerbukti efektif pada beberapa jenis bakteri potensial yang digunakan sebagai agensia hayati. Bakteri-bakteri antagonis ini dapat menghasilkan antibiotik dan siderofor juga bisa berperan sebagai kompetitor terhadap unsur hara bagi patogen tanaman, pemanfaatan bakteri-bakteri antagonis ini dimasa depan akan menjadi salah satu pilihan bijak dalam usaha meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian hayati untuk menunjang budidaya pertanian berkelanjutan (Hasanuddin dalam Manik, 2011).

Bakteri antagonis tersebut adalah Corynebacterium. Efektifitas Corynebacterium sebagai bakteri antagonis terhadap penyakit HDB nampaknya cukup baik dan Corynebacterium menunjukkan penghambatan pada pemunculan gejala awal, penyebaran maupun intensitas serangan (BBPOPT, 2007). Bakteri antagonis Corynebacterium yang di eksplorasi dari tanaman padi awalnya diduga mempunyai pengaruh buruk, bahkan berperan sebagai bakteri patogen pada beberapa jenis sayuran (Tomat, Cabe Rawit, Sawi, Terong dan Mentimun), akan tetapi setelah diuji dengan inokulasi buatan suntik, siram dan semprot ternyata tidak menyebabkan timbulnya penyakit pada tanaman. Hal ini membuktikan bahwa jenis bakteri ini aman diaplikasikan terhadap penyakit sasaran (Wibowo dalam Banjarnahor, 2011).

Beberapa hasil kajian dan pengalaman para petani di lapangan tentang penggunaan bakteri Corynebacterium sebagai agens hayati dalam mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) telah banyak dikemukakan. Penelitian dirumah kaca (MK, 1998) diketahui bahwa Cornebacterium dapat menekan gejala Bacterial Red Stripe (BPS/Pseudomonas sp.) sebesar52% dan terhadap HDB (BLB / Xanthomonas campestris pv. oryzae sebesar 28%. Corynebacterium efektif menekan laju infeksi HDB di lapang (Purwakarta MK, 1999) sebesar 27%, dan secondary infection (penularan antar rumpun) dapat ditekan sebesar 84%.

2.5  Cara Isolasi dan perbanyakan, serta aplikasinya

a.       Media Perbanyakan Stater Corynebacterium

Media PSA ( Potato Sukrosa Agar )

Media PSA merupakan media dasar dalam teknik perbanyakan agens hayati. Media PSA dapat digunakan untuk mengisolasi hasil-hasil ekplorasi dan juga untuk menyimpan stater atau biang dari isolat agens hayati yang sudah murni dan sudah diuji efektifitasnya. Bahan-bahan dan cara membuat media PSA, adalah sebagai berikut :

Bahan untuk media PSA 1 liter.

Air : 1 liter

Kentang : 300 gram

Sukrosa / gula pasir : 15 gram

Agar : 30 gram

media padat. 10 g media cair

Cara Membuat

Pilih kentang yang sehat, kupas kemudian cuci bersih.Kentang yang sudah bersih, diiris tipis-tipis.Rebus irisan kentangdengan air sebanyak 1 liter di panci, sampai kentang empuk atau sudah tidak terasa lagi (hambar), jika dimakanAngkat rebusan kentang dan saring. Ambil air kentang (ektrak kentang), masukan kembali ke panci.Masak ektrak kentang diatas api kecil, tambahkan gula, aduk hingga gula larut, kemudian tambahkan agar sedikit demi sedikit, sampai agar tercampur rata (tidak ada agar yang menggumpal).Angkat panci dan masukan media PSA kedalam tabung reaksi ( tes tube) sebanyak 7 ml (1 sendok makan) atau sesuai ukuran tabung reaksinya.Tutup tabung reaksi dengan kapas atau penutup steril lainya, kemudian dibungkus dengan alumunium foil.

Dapat juga digabungkan beberapa tabung reaksi yang sudah diisi media PSA (3-7 tabung reaksi) kemudian dibungkus dengan aluminium foil (tergantung besar kecilnya alumunium foil).Masukan media PSA ditabung reaksi yang sudah dibungkus aluminium foil kedalam keranjang tahan panas atau wadah lainya yang tahan panas, dan masukan kedalam autoclave (alat sterilisasi), dengan suhu 120º C, tekanan 1,2 atm dan waktu 15 menit.Setelah di seterilkan, angkat dan miringkan media PSA di tabung reaksi dengan menggunakan ganjalan kayu atau besi, agar media PSA setelah beku miring.Setelah beku dan dingin, media PSA siap diinokulasi (ditanam). Untuk penanaman bakteri ( Corynebacterium), dengan cara dibentuk spiral, agag volume bakteri yang didapatkan berjumlah besar. Setelah 1 hari penanaman, bakteri sudah terlihat pertumbuhanya, tapi untuk digunakan perbanyakan, sebaiknya digunakan setelah umur 7 hari setelah tanam

Perbanyakan bakteri Corynebacterium sp. dengan rangkaian/proses  seperti diatas tersebut diinkubasi selama 14 hari telah memenuhi standard  mutu untuk siap digunakan. Inkubasi merupakan suatu teknik perlakuan  bagi mikroorganisme yang telah diinokulasikan pada madia (padat atau  cair), kemudian di simpan pada suhu tertentu untuk dapat melihat  pertumbuhannya. Bila suhu inkubasi tidak sesuai dengan yang diperlukan,  biasanya mikroorganisme tidak dapat tumbuh dengan baik.

Bakteri Corynebacterium sp. yang diinkubasi setelah 14 hari siap  dipanen. Bakteri yang baru dipanen dari proses fermentasi didiamkan beberapa saat agar tidak mengalami prose fermentasi lagi, seperti lampiran 7. Bakteri Corynebacterium sp. yang sudah tidak mengalami fermentasi  ditandai dengan tidak adanya lagi buih (busa udara) diatas cairan bakteri  Corynebacterium sp. seperti lampiran 8 pada lampiran dan bakteri  Corynebacterium sp. siap digunakan. Bakteri Corynebacterium sp. yang  sudah jadi dikemas seperti lampiran 8. Agens hayati bakteri  Corynebacterium sp. yang sudah dibuat hanay bertahan sampai 2 tahun, setelah 2 tahun efektivitasnya akan menurun.

b.      Aplikasi

Untuk cara penggunaan bakteri Corynebacterium sp. ada 2 aplikasi  yaitu, aplikasi untuk benih dan aplikasi penyemprotan pada tanaman.  Untuk aplikasi pada benih/bonggol, benih/bonggol diperlakukan perendaman sebelum ditanam selama ± 15 menit dengan konsentrasi  5cc/liter air seperti lampiran 11, sedangkan aplikasi penyemprotan pada  tanaman menggunakan alat sprayer atau tangki semprot seperti lampiran  10. Sebelum sprayer digunakan, bersihkan dari sisa-sisa pestisida.

Dosis  Corynebacterium sp. yang digunakan untuk mengendalikan penyakit yaitu  5cc/ 1 liter air dengan larutan semprot sebanyak 500 - 600 liter/ Ha.  Penyemprotan pada tanaman, khusus pada penyakit padi (kresek/HDB)  dilakukan penyemprotan pada umur 14, 28 dan 42 HST (Hari Setelah  Tanam).

Aplikasi bakteri Corynebacterium sp. dapat dicampur dengan  perekat, baik perekat yang membuat sendiri (kanji/aci) atau perekat yang  dijual bebas di pasaran. Waktu aplikasi dilakukan pada sore hari mulai pukul 15.00, hindari aplikasi pada saat terik matahari untuk mencegah  rusaknya bakteri Corynebacterium sp. karena pengaruh sinar matahari.  Efektifitas bakteri Corynebacterium sp. 80 %.


BAB III

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang didapat dari makalah ini, antara lain :

1.      Corynebacterium merupakan bakteri antagonis yang secara morfologis dapat dikenali dari bentuk elevasi cembung, berbentuk batang dan jenis gram positif, koloninya berwarna putih kotor dan dibawah lampu ultraviolet tidak bereaksi serta ditemukan pada daun padi di daerah Jatisari Karawang.

2.      Senyawa yang dihasilkan Corynebacterium sp. yaitu molase yang berperan sebagai bahan pembawa, pelindung sinar matahari, dan sebagai sumber nutrisi.

3.      Faktor yang mempengaruhi kemampuan bakteri Cyanobacterium sp. dalam menekan pathogen tanaman yaitu daya antagonis dari bakteri tersebut jika daya antagonisnya rendah maka kemungkinan besar kecil untuk dapat menekan pathogen tersebut dan jika daya antagonisnya tinggi bisa menyebabkan keberhasilan dalam menghambat.

4.      Pada perbanyakan agensi hayati Corynebacterium sp. menggunakan media PSA (Potato Sukrosa Agar) dan pada cara aplikasinya yaitu ada 2 yaitu melalui perendaman benih dan penyemprotan pada tanaman.


DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 1997. Plant Pathology. Academic Press. London.

Balai Besar Pengendali Organisme Penggangu Tanaman. 2007. Perbanyakan Corynebacterium dalam Teknologi Pengendalian OPT Ramah Lingkungan. Leaflet, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Penas ke XII, Banyuasin – Sumatera Selatan, 2 – 12 Juli 2007.

Banjarnahor, M.R., 2011. Pengendalian Hayati. www.raflesmartohap.blogspot.com. Akses 28 april 2020.

BPTPH, 2008. Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit. Banyumas. Jawa Tengah.

Burges, H. D. and K. A. Jones. 1998. Introduction. In Burges, H.D. (Ed.). Formulation of Microbial Biopesticides: Beneficial Microorganisms, Nemathodes, and Seed Treatments. Kluwer Academic Publisher, Dordrecht, Netherlands. 1-127.

Ismail N, Luice A. T dan Bahtiar. 2011. Potensi Corynebacterium sebagai pengendali penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi. Prosiding seminar Nasional Serealia : 459 - 465.

Manik, C.A., Uji Efektivitas Corynebacterium dan Dosis Pupuk K terhadap Serangan Penyakit Kresek (Xanthomonas campestris pv. oryzae) Pada Padi Sawah (Oriza sativa L) di Lapangan

Paau, A. S. 1998. Formulation of Beneficial Organisms Applied to Soil. In Burges, H. D. (Ed.). Formulation of Microbial Biopesticides: Beneficial Microorganisms, Nemathodes, and Seed Treatments. Kluwer Academic Publishe, Dordrecht, Netherlands. 235-254.

Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta.

Semangun, H., 2000. Penyakit – Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University –Press. Yogyakarta, hal 11-30.

Suparyono dan A. Setyono. 1993. Padi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Wibowo. 2011. Manajemen Kinerja. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

 

Zainal A. 2011. Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGHITUNG KERAPATAN KOLONI BAKTERI DENGAN MENGGUNAKAN COLONY COUNTER

ISOLASI PATOGEN PADA TANAMAN BERGEJALA

AKTIVITAS ENZIM PAPAIN