CARA INOKULASI PATOGEN TULAR TANAH PADA TANAH STERIL DAN TIDAK STERIL
CARA INOKULASI PATOGEN TULAR TANAH PADA TANAH STERIL DAN
TIDAK STERIL
(Laporan
Praktikum Patogen Tular Tanah)
Oleh
:
Samsudin
1710517210017
Kelompok
5
PROGRAM
STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................
i
DAFTAR TABEL.......................................................................................
ii
PENDAHULUAN......................................................................................
1
Latar Belakang.................................................................................
1
Tujuan.............................................................................................. 2
TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................. 3
BAHAN
DAN METODE...........................................................................
5
Alat dan Bahan................................................................................
5
Alat......................................................................................... 5
Bahan...................................................................................... 5
Waktu dan
Tempat...........................................................................
5
Prosedur
Kerja.................................................................................
5
HASIL
DAN PEMBAHASAN..................................................................
7
Hasil.................................................................................................
7
Pembahasan...................................................................................... 7
KESIMPULAN...........................................................................................
10
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR
TABEL
Nomor Halaman
1.
Hasil Inokulasi
Patogen Tular Tanah Pada Tanah Steril
dan Tidak Steril................................................................................ 7
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Tanah “Soil”
merupakan lapisan yang menempati bagian atas kulit bumi yang terdiri dari benda
padat ” bahan anorganik dan organik” serta air dan udara tanah. Tanah telah
dikenal sejak awal peradaban manusia terutama setelah manusia menggunakan tanah
untuk bercocok tanam dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tanah merupakan
salah satu sumber alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena fungsi
dan perannya mencakup berbagai aspek kehidupan serta penghidupan masyarakat
baik segi sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Oleh karena itu masalah tanah
merupakan tanggung jawab secara nasional untuk mewujudkan cara pemanfaatan,
penguasaan dan pemilikan tanah sebgai sebesar – besarnnya untuk kemakmuran
rakyat.
Tanah didefinisikan
sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang
tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan
organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair
dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat
tersebut. Tanah berguna sebagai bahan bangunan jalan pada berbagai macam
perkerjaan teknik sipil, disamping itu tanah berfungsi juga sebagai pendukung
pondasi dari bangunan. Jadi seorang ahli teknik sipil harus juga mempelajari
sifat - sifat dasar dari tanah, seperti asal usulnya, penyebaran ukuran
butiran, kemampuan mengalirkan air, sifat pemampatan bila dibebani
(compressibility), kekuatan geser, kapasitas daya dukung terhadap beban, dan
lain-lain (Das, 1995).
Sterilisasi
basah biasanya dilakukan di dalam autoklaf atau sterilisator uap yang mudah
diangkat (portable) dengan menggunakan air jenuh bertekanan pada suhu 121 0C
selama 15 menit. Maka sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan
apa saja yang dapat ditembus uap air (misalnya minyak) dan tidak rusak bila
dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 0C dan 121 0C.
Bahan-bahan yang biasanya disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan
yang umum, air suling, peralatan laboratorium, biakan yang dibuang, medium yang
tercemar, dan bahan-bahan dari karet.
Sterilisasi
kering atau sterilisasi panas kering dapat diterapkan dengan cara pemanasan
langsung sampai merah, meayangkan di atas nyala api, pembakaran dan sterilisasi
dengan udara panas (oven). Pemanasan kering sering digunakan dalam sterilisasi
alat-alat gelas di laboratorium. Dalam sterilisasi panas kering, bahan yang
sering disterilkan adalah pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, dan
barang-barang pecah belah lainnya.
Tujuan
Adapun
tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui cara inokulasi patogen tular tanah pada tanah steril dan tidak steril.
TINJAUAN
PUSTAKA
Tomat merupakan
tanaman sayuran yang sudah dibudidayakan sejak ratusan tahun silam, tetapi
belum diketahui dengan pasti kapan awal penyebarannya. Jika ditinjau dari
sejarahnya, tanaman tomat berasal dari Amerika, yaitu daerah Andean yang
merupakan bagian dari negara Bolivia, Cili, Kolombia, Ekuador, dan Peru. Semula
di negara asalnya, tanaman tomat hanya dikenal sebagai tanaman gulma. Namun,
seiring dengan perkembangan waktu, tomat mulai ditanam, baik di lapangan maupun
di pekarangan rumah, sebagai tanaman yang dibudidayakan atau tanaman yang
dikonsumsi (Purwati dan Khairunisa, 2007).
Iklim yang cocok
untuk tanaman tomat adalah pada musim kemarau dengan pengairan yang cukup.
Kekeringan menyebabkan banyak daun gugur, lebih-lebih bila disertai dengan
angin kencang. Sebaliknya, pada musim hujan pertumbuhannya kurang baik karena
kelembapan dan suhu yang tinggi akan menimbulkan banyak penyakit (Pracaya,
1998).
Pertumbuhan
tanaman tomat akan baik bila udara sejuk, suhu pada malam hari antara 100C
– 200C dan pada siang hari antara 180C – 290C.
Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan banyak buah rusak terkena sengatan
matahari. Suhu di atas 400C menyebabkan pertumbuhan terhambat, sedangkan pada
suhu 600C tanaman tomat tidak dapat hidup/ mati (Pracaya, 1998).
Kandungan bahan
organik dalam tanah juga mempengaruhi ketersediaan unsur hara. Tanah dengan
kandungan bahan organik tinggi memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi, hal
ini mempengaruhi ketersediaan hara yang dapat diserap oleh tanaman. Selain itu,
kandungan bahan organik dalam tanah menimbulkan adanya aktivitas mikroorganisme
dalam tanah, bakteri pengurai, jamur, yang mengundang organisme lainnya seperti
cacing, sehingga terbentuk rongga dalam tanah yang dapat menjadi pori udara dan
pori air. Dengan demikian, ketersediaan air dan udara dalam tanah tercukupi
(Tafajani, 2010).
Nematoda puru
akar merupakan salah satu jenis nematoda parasit tumbuhan yang tersebar Iuas di
dunia dan bersifat sangat merusak, mengakibatkan kehilangan hasil di daerah
tropis rata-rata per tahun mencapai 29% pada tomat, 15% pada lada, 23 % pada
terong, dan sampai 26% pada kobis ( Sigh & Sitaramaiah, 1993).
Nematoda dewasa
terus-menerus bergerak tiap detik, tiap jam, tiap hari dan menetap di sekitar
akar, dalam gerakan - gerakan tersebut nematoda menggigit dan menginjeksikan
air ludah pada bagian akar tumbuhan. Hal ini menyebabkan sel tumbuhan menjadi
rusak. Gejala kerusakan pada akar akibat gigitan nematoda ditandai dengan
adanya puru akar (gall) (Nugrohorini, 2000).
Puru akar
merupakan ciri khas dari serangan nematoda Meloidogyne. Puru akar tersebut
terbentuk karena terjadinya pembelahan sel-sel raksasa pada jaringan tanaman
sel-sel ini membesar dua atau tiga kali dari sel-sel normal. Selanjutnya akar
yang terserang akan mati dan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat.
Respon tanaman terhadap nematoda puru akar merupakan respon dari seluruh bagian
tanaman dan respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman memberikan
respon terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan hasil
(Robert, 1999).
Alat dan Bahan
Alat
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, drum pengukus, kompor
gas, gas 3 kg dan polybag ukuran sedang 2 buah,
Bahan
Adapun
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah, air, bibit tomat semaian
dan paket telur nematoda yang telah dipecah.
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19 Maret 2019 sampai hari Selasa tanggal
30 Maret 2019. di Laboraturium Fitopatologi dan Rumah Kaca Fitopatologi Jurusan
Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Prosedur Kerja
Adapun
prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah :
A. Membuat
Media
1. Menyiapkan
alat dan bahan
2. Memasukkan
tanah kedalam karung untuk memudahkan saat melakukan oven, pada drum pengukus
sebelumnya sudah dimasukkan air 1/3 dari volume drum pengukus.
3. Drum
pengukus yang sudah dimasukkan karung berisi tanah kemudian ditutup, kemudian
nyalakan api tunggu ± 4 jam waktu mensterilkan tanah tersebut.
4. Setelah
selesai sterilisasi tanah, tanah dalam karung dikeluarkan dari karung dan
dikering anginkan sebentar, lalu masukkan kedalam polybag yang disiapkan.
5. Memasukkan
tanah yang tidak diberi sterilisasi pada polybag yang disediakan
6. Memasukkan
bibit tanaman tomat pada polybag yang berisi tanah steril dan tidak steril
B. Inokulasi
Nematoda
1. Menyiapkan
alat dan bahan
2. Memecahkan
paket telur nematoda meloidogyne sp yang sudah disiapkan sebelumnya.
3. Memasukkan
hasil telur nematoda yang dipecahkan kedlam gelas beaker yang telah diisi oleh
air aquades
4. Setelah
dirasa cukup banyak telur nematoda yang berhasil dipecahkan maka siap
inokulasikan kepolybag yang berisi tanah steril dan tidak steril.
5. Sebelum
menginokulasikan telur nematoda keatas permukaan tanah dalam polybag yang
beirisi tanaman tomat, gelas beaker yang berisi telur nematoda diaduk
perlahan-lahan kemudian
6. siramkan
perlahan-lahan kesekitar perakaran bibit tanaman.
7. Lakukan
pengamatan hingga pada tanaman tersebut menimbulkan gejala.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil
dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Cara Inokulasi Patogen Tular Tanah
Pada Tanah Steril dan Tidak
Steril
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
1
|
![]() |
Pada tanah steril pertumbuhan akar cukup bagus,
beberapa bagian akar memiliki bintil akar berukuran kecil dan pertumbuhan
daun menjadi layu namun masih bisa melakukan fotosintesis.
|
2
|
![]() |
Pada tanah tidak steril pertumbuhan akar cukup
baik, disertai jumlah akar yang memiliki bintil akar lebih banyak
dibandingkan tanah steril dan pertumbuhan tanaman kerdil serta layu.
|
Pembahasan
Pada
praktikum kali ini membahas tentang cara inokulasi patogen tular tanah menggunakan
tanah steril dan tanah tidak steril pada bibit tanaman tomat. Hal pertama yang
dilakukan adalah menyiapkan tanah sebagai media tumbuh yaitu menggunakan tanah
steril yang sebelumnya di oven didalam drum pengukus selama kurang lebih 4 jam
pada polybag, dan pada polybag yang satu lagi dimasukkan tanah yang tidak steril
atau tidak diberi perlakuan apapun.
Setelah
media tanaman selesai dibuat, selanjutnya membuat suspensi nematoda agar
memudahkan saat menginokulasikan telur nematoda pada permukaan tanah tomat,
saat melakukan penyiraman jangan dari permukaan daun tetapi dari bagian sekitar
daerah perakaran tanaman.
Pada
pengamatan untuk mengetahui apakah tanaman tomat sudah menimbulkan gejala
didalam tanah maka dilakukan pencabutan
dan didapatkan hasil yaitu tanah steril pertumbuhan akar cukup bagus, beberapa
bagian akar memiliki bintil akar berukuran kecil dan pertumbuhan daun menjadi
layu namun masih bisa melakukan fotosintesis. Sedangkan pada tanah tidak steril
pertumbuhan akar cukup baik, disertai jumlah akar yang memiliki bintil akar
lebih banyak dibandingkan tanah steril dan pertumbuhan tanaman kerdil serta
layu.
Mekanisme
penyerangan oleh Meloidogyne spp dimulai dengan masuknya
nematoda kedalam akar tumbuhan melalui bagian-bagian epidermis yang terletak
dekat tudung akar. Nematoda ini mengeluarkan enzim yang dapat menguraikan
dinding sel tumbuhan terutama terdiri dari protein, polisakarida seperti pektin
sellulase dan hemisellulase serta patin sukrosa dan glikosid menjadi
bahan-bahan lain. Meloidogyne spp mengeluarkan enzim sellulase
yang dapat menghidrolisis selulosa enzim endopektin metal transeliminase yang
dapat menguraikan pektin. Dengan terurainya bahan-bahan penyusun dinding sel
ini maka dinding sel akan rusak dan terjadilah luka. Selanjutnya nematode ini
bergerak diantara sel-sel atau menembus sel-sel menuju jaringan sel yang
terdapat cukup cairan makanan,
kemudian menetap dan berkembangbiak kemudian nematoda tersebut
masih mengeluarkan enzim proteolitik dengan melepaskan AIA ( Asam indol asetat)
yang merupakan heteroauksin tritopan yang diduga membantu terbentuknya puru.
Faktor
yang menyebabkan mengapa tanah steril masih dapat diserang nematoda adalah patogen
itu sendiri dalam hal ini telur nematoda Meloidogyne sp masih aktif
berkembang, tanah tersebut jarang diperhatikan morfologis dan fiiologisnya itu
yang menyebabkan tanaman layu kekurangan air, pada daerah perakaran tanaman
terdapat beberapa bintil akar nematoda, salah satu faktor juga mengapa walaupun
pada tanah steril tetap terkena gejala patogen tular tnah yaitu mungkin
penyiraman tanaman tersebut saling berdekatan dengan tanah tidak steril
kelompok 6 dan sebelahnya lagi dengan tanah tidak steril milik kelompok kami
sendiri.
Sedangkan
pada tanah tidak steril sudah dapat dipediksi sebelumnya yaitu tanah tersebut
pasti memiliki kemampuan untuk menimbulkan gejala bintil akar karena hal
pertama tanah masih memiliki jasad renik yang tidak mati, telur nematoda yang
diinokulasikan juga sangat bagus dan aktif, namun mengapa bintil akar tetap
berukuran kecil walaupun lebih banyak dibandingkan tanah steril yaitu karena
jarang diperhatikan terutama aspek fisiologis dari tanaman seperti jarang
disiram, hal ini membuat agrerat tanah menjadi tidak disukai nematoda untuk bergerak
karena aerasi tanah sedikit, kondisi lingkungan juga cukup panas membuat tanah
menjadi sedikit kering diatas permukaan daun tersebut.
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Pada
tanah steril pertumbuhan akar cukup bagus, beberapa bagian akar memiliki bintil
akar berukuran kecil dan pertumbuhan daun menjadi layu namun masih bisa
melakukan fotosintesis.
2. Pada
tanah tidak steril pertumbuhan akar cukup baik, disertai jumlah akar yang
memiliki bintil akar lebih banyak dibandingkan tanah steril dan pertumbuhan
tanaman kerdil serta layu.
3. Faktor
yang menyebabkan mengapa tanah steril masih dapat diserang nematoda adalah
patogen itu sendiri dalam hal ini telur nematoda Meloidogyne sp masih
aktif berkembang, tanah tersebut jarang diperhatikan morfologis dan fisiologisnya
4. Pada tanah tidak steril
sudah dapat dipediksi sebelumnya yaitu tanah tersebut pasti memiliki kemampuan
untuk menimbulkan gejala bintil akar karena hal pertama tanah masih memiliki
jasad renik yang tidak mati
DAFTAR PUSTAKA
Das, Braja M.
1995. Mekanika Tanah 1. Erlangga. Jakarta.
Nugrohorini.
2000. Monograf Nematoda Parasit Tanaman. UPN Press, Surabaya.
Pracaya. 1998.
Bertanam Tomat. Kanisius, Yogyakarta.
Purwati, E. dan Khairunisa, 2007, Budi Daya Tomat Dataran
Rendah, Penebar Swadaya, Depok.
Singh RS dan Sitaramaiah. 1993. Plant Patogens The
Plant Parasitic Nematodes. New York (US): International Science Publisher.
Roberts, P.A. 1999. The future of nematology ;
integration of new and improved management strategies. Journal of Nematology 25
: 383-394.
Tafajani, D. S., 2010, Panduan Komplit Bertanam
Sayur dan Buah-buahan, Cahaya Atma, Yogyakarta.


Komentar
Posting Komentar