PENGENALAN METODE POSTULAT KOCH


PENGENALAN METODE POSTULAT KOCH
(Laporan Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan)






                                                                                 
Oleh :
Samsudin
1710517210017
Kelompok 3












PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI…………………………………………………………...                ii
BAB I PENDAHULUN………………………………………………..                1
A.    Latar Belakang…………………………………………….                1
B.     Tujuan………………………………………………………               2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………               3
BAB III ISI……………………………………………………………..                6
A.    Sejarah Koch……………………………………………….               6
B.     Pengertian Postulat………………………………………...             10
C.    Kriteria Postulat Koch…………………………………….              11
BAB IV PENUTUP…………………………………………………….             14
            Kesimpulan……………………………………………………..             14
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejarah adanya penyakit tanaman telah tertulis di kitab injil (perjanjian lama) yaitu adanya penyakit blight dan mildew yang menyerang dan cukup membuat dunia gentar. Kemudian juga tertulis dalam Kitab Suci Al-Quranul Karim, pada Abad ke VI, yaitu pada Surat Al-Qolam ayat 17-20, yang menyatakan bahwa Allah subhanahu wataala berfirman “Kami (Allah) telah menguji pemilik kebun (anggur), ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti  akan panen esok hari, mereka lupakan (dalam pembicaraannya) hak-hak fakir-miskin, akibatnya Allah turunkan pada malam harinya organisme penyebab penyakit (bisa jamur, virus, atau bakteri) pada saat pemilik kebun tersebut tertidur lelap, hingga nampaklah kebun tersebut (menunjukkan gejala) hitam lekam. Ini adalah bukti bahwa keberadaan penyakit tanaman memang sudah ada dari zaman dahulu (Ika Rochdjatun S, 1990)
Perkembangan suatu penyakit pada tumbuhan inang didukung oleh tiga faktor, yaitu inang yang rentan, patogen yang virulen dan lingkungan yang mendukung. Patogen terbukti memiliki daya virulensi yaitu keberhasilan untuk menyebabkan suatu penyakit sebagai ekspresi dari patogenisitas. Gejala layu dan rontok pada daun seiring dengan perkembangan bercak dapat diduga sebagai akibat dari substansi-substansi yang disekresikan oleh patogen dalam mekanisme penyerangannya untuk melumpuhkan inang. Kelompok-kelompok utama substansi yang disekresikan patogen ke dalam tubuh tumbuhan yang menyebabkan timbulnya penyakit, baik langsung atau tidak langsung adalah enzim, toksin, zat pengatur tumbuh, dan polisakarida (Semangun, 1996).
Penyakit tanaman adalah suatu keadaan dimana tumbuhan mengalami gangguan fungsi fisiologis secara terus menerus sehingga menimbulkan gejala dan tanda. Gangguan fisiologis ini disebabkan oleh faktor biotik (bakteri, cendawan, virus dan nematoda) maupun faktor abiotik (suhu, kelembaban, unsur hara mineral) (Agrios, 1996).
Penyakit tanaman merupakan adanya penurunan dari keadaan normal dari tanaman yang menyela atau memodifikasi fungsi-fungsi vitalnya. Penyakit tanaman sebagian besar disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus.  Penyakit tanaman lebih sering diklasifikasikan oleh gejala mereka daripada oleh agen penyakit, karena penemuan agen mikroskopis seperti bakteri tanggal hanya dari 19 persen ( Jackson, 2009).
Penyakit dapat dikenal dengan mata telanjang dari gejalanya. Penyakit tumbuhan yang belum ada campur tangan manusia merupakan hasil interaksi antara patogen, inang dan lingkungan. Konsep ini disebut dengan segitiga penyakit atau plant disease triangle, sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah campur tangan manusia adalah interaksi antara patogen, inang, lingkungan dan manusia. Konsep ini disebut segi empat penyakit atau plant disease square (Triharso, 1996).

Tujuan
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar praktikan dapat mengetahui pengenalan postulat Koch.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Postulat Koch merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui penyebab suatu penyakit yang disebabkan oleh agen biotik non obligat. Terdapat empat kriteria Postulat Koch. Untuk menetapkan bahwa suatu patogen spesifik merupakan penyebab suatu penyakit, para peneliti harus menemukan patogen yang sama pada setiap individu sakit yang diteliti. mengisolasi patogen dari seseorang yang menderita sakit yang sama dan membiakkan mikroba itu dalam biakan murni, menginduksi penyakit itu pada hewan percobaan dengan cara memindahkan patogen dari biakan dan mengisolasi patogen yang sama dari hewan percobaan setelah penyakit itu berkembang (Campbell,  2003).
            Teknik Postulat Koch meliputi empat tahapan, yaitu asosiasi, isolasi, inokulasi, dan reisolasi. Asosiasi yaitu menemukan gejala penyakit dengan tanda penyakit (patogen) pada tanaman atau bagian tanaman yang sakit. Isolasi yaitu membuat biakan murni patogen pada media buatan (pemurnian biakan). Inokulasi adalah menginfeksi tanaman sehat dengan patogen hasil isolasi dengan tujuan mendapatkan gejala yang sama dengan tahap asosiasi. Reisolasi yaitu mengisolasi kembali patogen hasil inokulasi untuk mendapatkan biakan patogen yang sama dengan tahap isolasi (Gilang, 2012).
Pada tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metode laboratorium dan menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan, mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium dan biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada tanaman yang sesuai dapat menimbulkan penyakit serta mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari tanaman yang telah terinfeksi tersebut (Purnomo, 2015)
Secara sederhana langkah-langkah Postulat Koch terdiri atas, pertama isolasi yaitu mengambil bagian tertentu dari tubuh jamur untuk di tanam pada media PDA. Bagian yang diambil adalah spora jamur yang terletak di bagian bilah (lamella). Isolasi pada cabai terserang antraknosa ini dilakukan dengan pemotongan pada perbatasan daerah yang sakit dan sehat pada permukaan bagian tanaman. Potongan tersebut dimasukkan ke dalam 9 ml aquades selama 1 menit. Kemudian dimasukkan ke dalam klorok 1 ml selama 1 menit dan direndam kembali dengan aquades selama 1 menit. Hal ini lakukan untuk memastikan bahwa bagian cabai ini steril. Setelah itu, potongan diletakan di atas tissue lalu digoreskan pada media dengan jarum ose dalam kondisi steril di Laminar Air Flow. Cawan petri yang digunakan diberi label, diletakkan di dalam nampan lalu ditutup dengan plastik (Tim Penyusun, 2010)
Pengamatan isolasi ini dilakukan selama 4 hari, dengan variable pengamatan, yaitu waktu mulai tumbuh jamur, warna koloni, gambar bentuk koloni, dan ada tidaknya kontaminan. Pada hari ke-1, jamur mulai terlihat tumbuh meski hanya sedikit. Hari ke-2, jamur mulai mengalami pertumbuhan pesat. Hifa-hifa yang tumbuh mulai banyak. Pada hari ke-3, jamur yang tumbuh semakin banyak namun mulai terlihat jelas adanya kontaminan. Lalu di hari ke-4, hifa-hifa jamur semakin memenuhi cawan petri berdampingan dengan adanya kontaminan (Tim penyusun, 2010).
Kedua, reisolasi adalah suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroorganisme dari mikroorganisme lain yang ikut tumbuh selama proses isolasi untuk mendapatkan kultur murni. Adapun beberapa teknik yang digunakan pada saat dilakukan reisolasi adalah teknik monospora dan teknik pengambilan hifa. Teknik monospora yaitu suatu teknik pemurnian yang dilakuakn dengan cara mengisolasi spora tunggal atau mengambil spora tunggal untuk dipindahkan pada media yang baru, sedangkan teknik pengambilan hifa dilakukan dengan cara pengambilan sebagian sekumpulan hifa jamur untuk dipindahkan pada medium yang baru, (Tim Penyusun, 2010).
BAB III
ISI
Sejarah Koch
Robert Koch lahir pada tanggal 11 Desember 1843 di Clausthal-Zellerfeld, Hannover, Jerman dengan nama Robert Heinrich Hermann Koch. Ayahnya adalah seorang ahli pertambangan terkemuka. Koch menempuh pendidikan dasar di sekolah lokal yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pada saat memasuki sekolah menengah atas, Koch menunjukkan ketertarikannya yang sangat tinggi terhadap biologi.
Dalam biografi Robert Koch pada sebuah publikasi yang berjudul Nobel Lectures, Physiology or Medicine 1901-1921 dijelaskan, Koch mempelajari ilmu kedokteran di University of Gottingen pada tahun 1862. Kemudian, di tempat ini Koch mengenal seorang profesor dalam bidang anatomi, Jacob Henle. Perkenalan tersebut tampaknya menjadi pengalaman yang bersejarah bagi Koch.
Jacob Henle adalah orang pertama yang mempengaruhi Koch untuk mempelajari bakteriologi. Hal itu dirasakan Koch ketika mengetahui pendapat Henle yang menyatakan, penyakit menular disebabkan oleh organisme parasit hidup. Setelah itu, Koch pun lulus dan mendapat gelar M.D. (medical doctor) pada tahun 1866. Koch kemudian menikah dengan Emmy Fraats yang memberikannya seorang anak bernama Gertrud.
Penelitian Koch terhadap antraks dimulai ketika antraks menjadi penyakit hewan dengan prevalensi paling tinggi pada masa itu. Dengan berbekal sebuah mikroskop sederhana dalam laboratorium di ruangan rumahnya, Koch mencoba membuktikan secara ilmiah mengenai bacillus yang menyebabkan antraks. Hal itu dilakukan dengan menyuntikkan Bacillus anthracis ke dalam tubuh sejumlah tikus. Koch mendapatkan Bacillus anthracis tersebut dari limpa hewan ternak yang mati karena antraks.
Hasilnya, semua tikus yang telah disuntik oleh Bacillus anthracis ditemukan dalam keadaan mati. Sementara itu, tikus yang di suntik oleh darah yang berasal dari limpa hewan sehat ditemukan dalam keadaan masih hidup. Melalui percobaannya ini, Koch memperkuat hasil penelitian ilmuwan lain yang menyatakan, penyakit ini dapat menular melalui darah dari hewan yang menderita antraks.
Rasa keingintahuan Koch terhadap antraks semakin besar setelah berhasil melakukan percobaan pertamanya. Casimir Davaine merupakan ilmuwan yang membuktikan penularan langsung Bacillus anthracis di antara beberapa ekor sapi. Namun, Koch ingin mengetahui apakah Bacillus anthracis yang tidak pernah kontak dengan segala jenis hewan dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Koch menemukan metode dalam pemurnian bacillus dari sampel darah untuk kemudian dikembangbiakkan.
Melalui metode tersebut Koch mampu mengidentifikasi, mempelajari, dan mengambil gambar bacillus yang sedang dikembangbiakkan. Setelah itu dapat disimpulkan, jika Bacillus anthracis berada dalam lingkungan yang tidak disukainya dan berada di luar inang (host), bakteri tersebut akan memproduksi spora untuk melawan lingkungan yang tidak cocok baginya. Kondisi seperti ini dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama. Ketika kondisi lingkungan telah kembali cocok dan normal, spora akan memicu berkembangnya kembali bacillus. Jika spora tersebut tertanam dalam tanah, maka akan menyebabkan penyebaran antraks secara spontan (spontaneous outbreak).
Dari percobaan keduanya tersebut, Koch menyimpulkan, meskipun bacillus tidak kontak dengan segala jenis hewan, namun mereka tetap dapat menyebabkan timbulnya antraks. Hasil penemuan tersebut didemonstrasikan oleh Koch di hadapan dua orang profesor yang bernama Ferdinand Cohn dan Cohnheim. Kedua orang profesor itu sangat terkesan dengan penemuan Koch.
Pada tahun 1876 Ferdinand Cohn mempublikasikan penemuan Koch dalam sebuah jurnal. Tidak lama setelah itu, Koch menjadi cukup terkenal dan dirinya diberi penghargaan berupa sebuah pekerjaan di Kantor Kesehatan Kekaisaran (Imperial Health Office) pada tahun 1880 di Berlin.
Popularitas dan penghargaan tidak membuat Koch cepat berpuas diri. Di tempat kerjanya yang baru, Koch mendapat fasilitas berupa laboratorium yang lebih baik dari sebelumnya. Koch kemudian menemukan metode penanaman kultur bakteri dalam media padat seperti kentang. Koch pun mengembangkan metode baru dalam mengidentifikasi bakteri dengan zat warna (staining) agar lebih mudah terlihat.
Berbagai metode yang ditemukan oleh Koch tersebut dapat membuat bakteri patogen lebih mudah didapatkan dalam kultur murni (pure culture). Padahal sebelumnya, bakteri patogen sangat sulit didapatkan karena tercampur dengan organisme lain yang dapat ikut teridentifikasi. Dengan alasan tersebut, Koch memberikan rumusan berupa sejumlah kondisi yang harus dipenuhi sebelum bakteri dianggap sebagai penyebab penyakit. Rumusan tersebut dikenal dengan Postulat-postulat Koch (Koch’s Postulates).
Dalam Postulat-postulat Koch disebutkan, untuk menetapkan suatu organisme sebagai penyebab penyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat.
Pertama, ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah diperiksa. Kedua, telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah beberapa generasi berada dalam kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari hewan yang telah diinokulasi dan dapat dikulturkan kembali.
Penelitian-penelitian yang dilakukan Koch tidak terbatas pada antraks. Penyakit lain seperti TBC (tuberculosis) dan kolera turut diteliti pula oleh Koch. Pada tahun 1883, Koch dikirim ke Mesir sebagai pimpinan Komisi Kolera German (German Cholera Commission) untuk menginvestigasi penyebaran kolera di negara tersebut. Meskipun Koch belum membuktikannya dalam berbagai percobaan, Koch dapat mengidentifikasi bakteri bernama Vibrio bacterium sebagai penyebab kolera.
Koch diangkat sebagai profesor dalam bidang ilmu kesehatan di Universitas Berlin pada tahun 1885. Selain itu, Koch pun mendapatkan gelar profesor kehormatan di fakultas kedokteran dan menjabat sebagai pimpinan pada Lembaga Penyakit-penyakit Menular (Insitute for Infectious Diseases). Koch telah berkeliling ke berbagai tempat di dunia untuk mempelajari berbagai macam penyakit, termasuk ke Pulau Jawa.

Pengertian Postulat
Postulat (asumsi/aksioma) atau patokan pikir itu adalah suatu keterangan yang benar, yang kebenarannya itu dapat diterima tanpa harus diuji atau dibuktikan lebih lanjut, digunakan untuk menurunkan keterangan lain sebagai landasan  awal untuk menarik suatu kesimpulan. Postulat mempunyai beberapa prinsip untuk ,menjamin kebenaran dari sebuah postulat, Prinsip-prinsip Postulat :
1.      Prinsip Kausalitas adalah keyakinan bahwa setiap kejadian mempunyai sebab dan dalam situasi yang sama, sebab yang sama menimbulkan efek yang sama.
2.      Prinsip Prediktif Uniformatif mengatakan bahwa sekelompok kejadian akan menunjukkan derajat hubungan di antara mereka di kemudian hari sama dengan apa yang mereka perlihatkan pada masa yang lalu atau sekarang.
3.      Prinsip Objektivitas mengharuskan si penyelidik untuk bersikap tidak memihak mengenai berbagai data di hadapannya. Fakta-fakta harus dapat dihayati dengan cara yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh orang normal. Maksud dari sikap ini adalah untuk menghilangkan berbagai unsur subjektif dan pribadi sedapat mungkin dan memusatkan perhatian kepada hal yang sedang dipelajari.
4.      Prinsip Empirisme mendorong si penyelidik untuk menganggap  bahwa kesan dari indranya dapat dipercaya dan bahwa ia dapat mengkonsep kebenaran dengan menunjukkan fakta-fakta yang telah dialaminya. Pengetahuan adalah hasil dari pengamatan, pengalaman, dan eksperimen dan semua itu bertentangan dengan otoritas, intuisi atau pikiran sadar.
5.      Prinsip Kehematan atau parsimony mengatakan bahwa oleh karena banyak hal yang sama seseorang memilih keterangan yang paling sederhada dan menganggapnya sebagai yang paling benar. Prinsip ini mengekang adanya keruwetan yang tidak perlu. Ia mengingatkan kita terhadap keterangan yang berbelit-belit. Prinsip ini biasanya disebut “pisau cuk Occam” untuk mengingatkan kita kepada William of Occam, seorang filsuf Inggris pada abad ke-14 yang mengatakan bahwa kesatuan tidak boleh digandakan lebih daripada yang diperlukan (entities should not be multiplied beyond necessary).
6.      Prinsip Isolasi atau segregation menghendaki agar fenomena yang diselidiki itu dipisahkan dari yang lain sehingga dapat diselidiki sendiri.
7.      Prinsip Kontrol mengatakan bahwa kontrol adalah sangat perlu, khususnya untuk melakukan eksperimen. Tanpa kontrol, banyak faktor yang berbeda-beda pada waktu yang sama, dan ekperimen tidak dapat diulang. Jika keadaan berubah waktu eksperimen dilakukan, hasilnya mungkin tidak benar.
8.      Prinsip Pengukuran yang pasti atau exact measurement prinsip ini menghendaki agar berbagai hasil penyelidikan dapat dijelaskan secara kuantitatif atau matematik. Ini adalah tujuan ilmu fisika yang memerlukan berbagai ukuran objektif yang dapat diteliti kebenarannya.
Kriteria Postulat Koch
Pada tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu:
1.      Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.
2.      Mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
3.      Biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan penyakit.
4.      Mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut.
Sebagai contoh dari keterangan diatas, bahwa bakteri Bassilus antracis  pasti selalu ditemukan pada penyakit antraks. Apabila bakteri yang diambil dari limpa sapi yang terinfeksi antraks, kemudian bakteri tersebut mampu hidup jika diisolasi dalam lingkungan yang sesuai. Untuk mengetahui sifat Bassilus antracis hasil biakan tersebut, kemudian bakteri tersebut dapat diinjeksikan pada tikus yang sehat. Setelah selang beberapa waktu tikus tikus yang sehat tersebut mati. Hal ini menunjukan jika sifat mikroorganisme tersebut mampu membuat infeksi asli. Apabila Bassilus antracis dari tikus yang mati diambil lagi dan diisolasi lagi maka akan tetap mempunyai sifat patogen bagi DNA yang sesuai.
Adanya kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri penyebab berbagai penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus, adanya bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit tertentu yang ditimbulkan oleh lebih dari 1 mikroorganisma memerlukan modifikasi dari postulat Koch. Pada tahun 1892 Dimitri Ivanovski menunjukkan bahwa agen yang menyebabkan penyakit mosaik pada tembakau dapat ditularkan melalui ekstrak tanaman yang sakit. Ekstrak terebut disaring dengan filter yang ditemukan oleh kawan-kawan Pasteur dimana filter tersebut diketahui dapat menyaring bakteri. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa agen tersebut mempunyai ukuran yang jauh lebih kecil dari bakteri. Yellow fever merupakan penyakit pertama pada manusia yang diketahui disebabkan oleh virus.
Pada tahun 1900 seorang ahli bedah bernama Walter reed (1851-1902) dengan menggunakan manusia sebagai volunteer membuktikan bahwa virus tersebut dibawa oleh nyamuk tertentu lainnya membawa protozoa penyebab malaria. Salah satu cara penting untuk mencegah penyakit tersebut adalah mengurus air yang tergenang yang digunakan nyamuk untuk tempat berkembang biak.
 BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Robert Koch lahir pada tanggal 11 Desember 1843 di Clausthal-Zellerfeld, Hannover, Jerman dengan nama Robert Heinrich Hermann Koch. Berbagai metode yang ditemukan oleh Koch tersebut dapat membuat bakteri patogen lebih mudah didapatkan dalam kultur murni (pure culture). Padahal sebelumnya, bakteri patogen sangat sulit didapatkan karena tercampur dengan organisme lain yang dapat ikut teridentifikasi. Rumusan tersebut dikenal dengan Postulat-postulat Koch (Koch’s Postulates).
Pertama, ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah diperiksa. Kedua, telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah beberapa generasi berada dalam kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari hewan yang telah diinokulasi dan dapat dikulturkan kembali.
Prinsip-prinsip Postulat yaitu Prinsip Kausalitas, Prediktif Uniformatif, Objektivitas, Empirisme, Kehematan atau parsimony, Isolasi atau segregation, kontrol dan Pengukuran yang Pasti atau exact measurement.
Kriteria postulat Koch yaitu mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan, mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium dan biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan penyakit serta mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan (Terjemahan Munzir Busnia). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Campbell, Neil A, Jane B Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara. Jakarta.
Jackson RW. 2009. Plant Pathogenic Bacteria: Genomics and Molecular Biology. Caister Academic Press.
Ogoshi, A., B. Sneh and L. Burpee. 1985. Identification of Rhizoctonia sp. APS Press. Minnesota.
Purnomo, Bambang. 2015. Penuntun praktikum penyakit tanaman. Laboratorium IHPT. Fakultas Pertanian UNIB
Sastrahidayat, Ika R. 1990. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Usaha Nasional. Surabaya
Semangun, H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada Univ Press. Yogyakarta.
Tim penyusun.2010. Panduan Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan. Universitas Lampung. Lampung.
Triharso. 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGHITUNG KERAPATAN KOLONI BAKTERI DENGAN MENGGUNAKAN COLONY COUNTER

ISOLASI PATOGEN PADA TANAMAN BERGEJALA

AKTIVITAS ENZIM PAPAIN