PENGENALAN METODE POSTULAT KOCH
PENGENALAN
METODE POSTULAT KOCH
(Laporan
Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan)
Oleh
:
Samsudin
1710517210017
Kelompok
3
PROGRAM
STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI…………………………………………………………... ii
BAB I PENDAHULUN……………………………………………….. 1
A.
Latar Belakang……………………………………………. 1
B.
Tujuan……………………………………………………… 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………
3
BAB III ISI…………………………………………………………….. 6
A.
Sejarah Koch………………………………………………. 6
B.
Pengertian Postulat………………………………………... 10
C.
Kriteria Postulat Koch……………………………………. 11
BAB IV PENUTUP……………………………………………………. 14
Kesimpulan…………………………………………………….. 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejarah
adanya penyakit tanaman telah tertulis di kitab injil (perjanjian lama) yaitu
adanya penyakit blight dan mildew
yang menyerang dan cukup membuat dunia gentar. Kemudian juga tertulis dalam
Kitab Suci Al-Quranul Karim, pada Abad ke VI, yaitu pada Surat Al-Qolam ayat
17-20, yang menyatakan bahwa Allah subhanahu wataala berfirman “Kami (Allah)
telah menguji pemilik kebun (anggur), ketika mereka bersumpah bahwa mereka
pasti akan panen esok hari, mereka lupakan (dalam pembicaraannya) hak-hak
fakir-miskin, akibatnya Allah turunkan pada malam harinya organisme penyebab
penyakit (bisa jamur, virus, atau bakteri) pada saat pemilik kebun tersebut
tertidur lelap, hingga nampaklah kebun tersebut (menunjukkan gejala) hitam lekam.
Ini adalah bukti bahwa keberadaan penyakit tanaman memang sudah ada dari zaman
dahulu (Ika Rochdjatun S, 1990)
Perkembangan
suatu penyakit pada tumbuhan inang didukung oleh tiga faktor, yaitu inang yang
rentan, patogen yang virulen dan lingkungan yang mendukung. Patogen terbukti
memiliki daya virulensi yaitu keberhasilan untuk menyebabkan suatu penyakit
sebagai ekspresi dari patogenisitas. Gejala layu dan rontok pada daun seiring
dengan perkembangan bercak dapat diduga sebagai akibat dari substansi-substansi
yang disekresikan oleh patogen dalam mekanisme penyerangannya untuk melumpuhkan
inang. Kelompok-kelompok utama substansi yang disekresikan patogen ke dalam
tubuh tumbuhan yang menyebabkan timbulnya penyakit, baik langsung atau tidak
langsung adalah enzim, toksin, zat pengatur tumbuh, dan polisakarida (Semangun,
1996).
Penyakit
tanaman adalah suatu keadaan dimana tumbuhan mengalami gangguan fungsi
fisiologis secara terus menerus sehingga menimbulkan gejala dan tanda. Gangguan
fisiologis ini disebabkan oleh faktor biotik (bakteri, cendawan, virus dan
nematoda) maupun faktor abiotik (suhu, kelembaban, unsur hara mineral) (Agrios,
1996).
Penyakit
tanaman merupakan adanya penurunan dari keadaan normal dari tanaman yang
menyela atau memodifikasi fungsi-fungsi vitalnya. Penyakit tanaman sebagian
besar disebabkan oleh jamur, bakteri, dan virus. Penyakit tanaman lebih
sering diklasifikasikan oleh gejala mereka daripada oleh agen penyakit, karena
penemuan agen mikroskopis seperti bakteri tanggal hanya dari 19 persen (
Jackson, 2009).
Penyakit
dapat dikenal dengan mata telanjang dari gejalanya. Penyakit tumbuhan yang
belum ada campur tangan manusia merupakan hasil interaksi antara patogen, inang
dan lingkungan. Konsep ini disebut dengan segitiga penyakit atau plant disease triangle, sedangkan
penyakit tanaman yang terjadi setelah campur tangan manusia adalah interaksi
antara patogen, inang, lingkungan dan manusia. Konsep ini disebut segi empat
penyakit atau plant disease square (Triharso,
1996).
Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah
ini adalah agar praktikan dapat mengetahui pengenalan postulat Koch.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Postulat
Koch merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui penyebab suatu
penyakit yang disebabkan oleh agen biotik non obligat. Terdapat empat kriteria
Postulat Koch. Untuk menetapkan bahwa suatu patogen spesifik merupakan penyebab
suatu penyakit, para peneliti harus menemukan patogen yang sama pada setiap individu
sakit yang diteliti. mengisolasi patogen dari seseorang yang menderita sakit
yang sama dan membiakkan mikroba itu dalam biakan murni, menginduksi penyakit
itu pada hewan percobaan dengan cara memindahkan patogen dari biakan dan mengisolasi
patogen yang sama dari hewan percobaan setelah penyakit itu berkembang
(Campbell, 2003).
Teknik Postulat Koch meliputi empat tahapan, yaitu asosiasi, isolasi,
inokulasi, dan reisolasi. Asosiasi yaitu menemukan gejala penyakit dengan
tanda penyakit (patogen) pada tanaman atau bagian tanaman yang sakit.
Isolasi yaitu membuat biakan murni patogen pada media buatan (pemurnian
biakan). Inokulasi adalah menginfeksi tanaman sehat dengan patogen hasil
isolasi dengan tujuan mendapatkan gejala yang sama dengan tahap
asosiasi. Reisolasi yaitu mengisolasi kembali patogen hasil inokulasi
untuk mendapatkan biakan patogen yang sama dengan tahap isolasi (Gilang,
2012).
Pada
tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metode laboratorium dan menentukan
kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan
penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu
Mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang
ditimbulkan, mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan
murni di laboratorium dan biakan murni tersebut bila diinjeksikan pada tanaman
yang sesuai dapat menimbulkan penyakit serta mikroorganisme tersebut dapat
diisolasi kembali dari tanaman yang telah terinfeksi tersebut (Purnomo, 2015)
Secara
sederhana langkah-langkah Postulat Koch terdiri atas,
pertama isolasi yaitu mengambil bagian tertentu dari tubuh jamur
untuk di tanam pada media PDA. Bagian yang diambil adalah spora
jamur yang terletak di bagian bilah (lamella). Isolasi
pada cabai terserang antraknosa ini
dilakukan dengan pemotongan pada perbatasan daerah yang sakit dan sehat pada
permukaan bagian tanaman. Potongan tersebut dimasukkan ke dalam 9 ml aquades
selama 1 menit. Kemudian dimasukkan ke dalam klorok 1 ml selama 1 menit dan
direndam kembali dengan aquades selama 1 menit. Hal ini lakukan untuk
memastikan bahwa bagian cabai ini steril. Setelah itu, potongan diletakan di
atas tissue lalu digoreskan pada media dengan jarum ose dalam kondisi steril
di Laminar Air Flow. Cawan
petri yang digunakan diberi label, diletakkan di dalam nampan lalu ditutup
dengan plastik (Tim Penyusun, 2010)
Pengamatan
isolasi ini dilakukan selama 4 hari, dengan variable pengamatan, yaitu waktu
mulai tumbuh jamur, warna koloni, gambar bentuk koloni, dan ada tidaknya
kontaminan. Pada hari ke-1, jamur mulai terlihat tumbuh meski hanya sedikit.
Hari ke-2, jamur mulai mengalami pertumbuhan pesat. Hifa-hifa yang tumbuh mulai
banyak. Pada hari ke-3, jamur yang tumbuh semakin banyak namun mulai terlihat
jelas adanya kontaminan. Lalu di hari ke-4, hifa-hifa jamur semakin memenuhi
cawan petri berdampingan dengan adanya kontaminan (Tim penyusun, 2010).
Kedua,
reisolasi adalah suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan
mikroorganisme dari mikroorganisme lain yang ikut tumbuh selama proses isolasi
untuk mendapatkan kultur murni. Adapun beberapa teknik yang digunakan pada saat
dilakukan reisolasi adalah teknik monospora dan teknik pengambilan hifa.
Teknik monospora yaitu suatu teknik pemurnian yang dilakuakn dengan cara
mengisolasi spora tunggal atau mengambil spora tunggal untuk dipindahkan pada
media yang baru, sedangkan teknik pengambilan hifa dilakukan dengan cara pengambilan
sebagian sekumpulan hifa jamur untuk dipindahkan pada medium yang baru, (Tim
Penyusun, 2010).
BAB III
ISI
Sejarah Koch
Robert
Koch lahir pada tanggal 11 Desember 1843 di Clausthal-Zellerfeld, Hannover,
Jerman dengan nama Robert Heinrich Hermann Koch. Ayahnya adalah seorang ahli
pertambangan terkemuka. Koch menempuh pendidikan dasar di sekolah lokal yang
terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pada saat memasuki sekolah menengah
atas, Koch menunjukkan ketertarikannya yang sangat tinggi terhadap biologi.
Dalam
biografi Robert Koch pada sebuah publikasi yang berjudul Nobel Lectures,
Physiology or Medicine 1901-1921 dijelaskan, Koch mempelajari ilmu
kedokteran di University of Gottingen pada tahun 1862. Kemudian, di tempat ini
Koch mengenal seorang profesor dalam bidang anatomi, Jacob Henle. Perkenalan
tersebut tampaknya menjadi pengalaman yang bersejarah bagi Koch.
Jacob
Henle adalah orang pertama yang mempengaruhi Koch untuk mempelajari
bakteriologi. Hal itu dirasakan Koch ketika mengetahui pendapat Henle yang
menyatakan, penyakit menular disebabkan oleh organisme parasit hidup. Setelah
itu, Koch pun lulus dan mendapat gelar M.D. (medical doctor) pada tahun 1866. Koch kemudian menikah dengan Emmy
Fraats yang memberikannya seorang anak bernama Gertrud.
Penelitian
Koch terhadap antraks dimulai ketika antraks menjadi penyakit hewan dengan
prevalensi paling tinggi pada masa itu. Dengan berbekal sebuah mikroskop
sederhana dalam laboratorium di ruangan rumahnya, Koch mencoba membuktikan
secara ilmiah mengenai bacillus yang
menyebabkan antraks. Hal itu
dilakukan dengan menyuntikkan Bacillus
anthracis ke dalam tubuh sejumlah tikus. Koch mendapatkan Bacillus anthracis tersebut dari
limpa hewan ternak yang mati karena antraks.
Hasilnya,
semua tikus yang telah disuntik oleh Bacillus
anthracis ditemukan dalam keadaan mati. Sementara itu, tikus yang di
suntik oleh darah yang berasal dari limpa hewan sehat ditemukan dalam keadaan
masih hidup. Melalui percobaannya ini, Koch memperkuat hasil penelitian ilmuwan
lain yang menyatakan, penyakit ini dapat menular melalui darah dari hewan yang
menderita antraks.
Rasa
keingintahuan Koch terhadap antraks
semakin besar setelah berhasil melakukan percobaan pertamanya. Casimir Davaine
merupakan ilmuwan yang membuktikan penularan langsung Bacillus anthracis di antara beberapa ekor sapi. Namun, Koch
ingin mengetahui apakah Bacillus
anthracis yang tidak pernah kontak dengan segala jenis hewan dapat
menyebabkan timbulnya penyakit. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Koch
menemukan metode dalam pemurnian bacillus dari
sampel darah untuk kemudian dikembangbiakkan.
Melalui
metode tersebut Koch mampu mengidentifikasi, mempelajari, dan mengambil
gambar bacillus yang sedang
dikembangbiakkan. Setelah itu dapat disimpulkan, jika Bacillus anthracis berada dalam lingkungan yang tidak
disukainya dan berada di luar inang (host),
bakteri tersebut akan memproduksi spora untuk melawan lingkungan yang tidak
cocok baginya. Kondisi seperti ini dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama.
Ketika kondisi lingkungan telah kembali cocok dan normal, spora akan memicu
berkembangnya kembali bacillus.
Jika spora tersebut tertanam dalam tanah, maka akan menyebabkan penyebaran antraks secara spontan (spontaneous outbreak).
Dari
percobaan keduanya tersebut, Koch menyimpulkan, meskipun bacillus tidak kontak dengan segala
jenis hewan, namun mereka tetap dapat menyebabkan timbulnya antraks. Hasil
penemuan tersebut didemonstrasikan oleh Koch di hadapan dua orang profesor yang
bernama Ferdinand Cohn dan Cohnheim. Kedua orang profesor itu sangat terkesan
dengan penemuan Koch.
Pada
tahun 1876 Ferdinand Cohn mempublikasikan penemuan Koch dalam sebuah jurnal.
Tidak lama setelah itu, Koch menjadi cukup terkenal dan dirinya diberi
penghargaan berupa sebuah pekerjaan di Kantor Kesehatan Kekaisaran (Imperial Health Office) pada tahun 1880
di Berlin.
Popularitas
dan penghargaan tidak membuat Koch cepat berpuas diri. Di tempat kerjanya yang
baru, Koch mendapat fasilitas berupa laboratorium yang lebih baik dari
sebelumnya. Koch kemudian menemukan metode penanaman kultur bakteri dalam media
padat seperti kentang. Koch pun mengembangkan metode baru dalam
mengidentifikasi bakteri dengan zat warna (staining)
agar lebih mudah terlihat.
Berbagai
metode yang ditemukan oleh Koch tersebut dapat membuat bakteri patogen lebih
mudah didapatkan dalam kultur murni (pure
culture). Padahal sebelumnya, bakteri patogen sangat sulit didapatkan
karena tercampur dengan organisme lain yang dapat ikut teridentifikasi. Dengan
alasan tersebut, Koch memberikan rumusan berupa sejumlah kondisi yang harus
dipenuhi sebelum bakteri dianggap sebagai penyebab penyakit. Rumusan tersebut
dikenal dengan Postulat-postulat Koch (Koch’s Postulates).
Dalam
Postulat-postulat Koch disebutkan, untuk menetapkan suatu organisme sebagai
penyebab penyakit, maka organisme tersebut harus memenuhi sejumlah syarat.
Pertama,
ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah diperiksa. Kedua,
telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah
beberapa generasi berada dalam kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari
hewan yang telah diinokulasi dan dapat dikulturkan kembali.
Penelitian-penelitian
yang dilakukan Koch tidak terbatas pada antraks. Penyakit lain seperti TBC (tuberculosis) dan kolera turut
diteliti pula oleh Koch. Pada tahun 1883, Koch dikirim ke Mesir sebagai
pimpinan Komisi Kolera German (German Cholera Commission) untuk menginvestigasi
penyebaran kolera di negara tersebut. Meskipun Koch belum membuktikannya dalam
berbagai percobaan, Koch dapat mengidentifikasi bakteri bernama Vibrio bacterium sebagai penyebab kolera.
Koch
diangkat sebagai profesor dalam bidang ilmu kesehatan di Universitas Berlin
pada tahun 1885. Selain itu, Koch pun mendapatkan gelar profesor kehormatan di
fakultas kedokteran dan menjabat sebagai pimpinan pada Lembaga
Penyakit-penyakit Menular (Insitute for
Infectious Diseases). Koch telah berkeliling ke berbagai tempat di dunia
untuk mempelajari berbagai macam penyakit, termasuk ke Pulau Jawa.
Pengertian Postulat
Postulat
(asumsi/aksioma) atau patokan pikir itu adalah suatu keterangan yang benar,
yang kebenarannya itu dapat diterima tanpa harus diuji atau dibuktikan lebih
lanjut, digunakan untuk menurunkan keterangan lain sebagai landasan awal
untuk menarik suatu kesimpulan. Postulat mempunyai beberapa prinsip untuk
,menjamin kebenaran dari sebuah postulat, Prinsip-prinsip Postulat :
1.
Prinsip
Kausalitas adalah keyakinan bahwa setiap kejadian mempunyai sebab dan
dalam situasi yang sama, sebab yang sama menimbulkan efek yang sama.
2.
Prinsip
Prediktif Uniformatif mengatakan bahwa sekelompok kejadian akan
menunjukkan derajat hubungan di antara mereka di kemudian hari sama dengan apa
yang mereka perlihatkan pada masa yang lalu atau sekarang.
3.
Prinsip
Objektivitas mengharuskan si penyelidik untuk bersikap tidak memihak
mengenai berbagai data di hadapannya. Fakta-fakta harus dapat dihayati dengan
cara yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh orang normal. Maksud dari sikap
ini adalah untuk menghilangkan berbagai unsur subjektif dan pribadi sedapat mungkin dan memusatkan
perhatian kepada hal yang sedang dipelajari.
4.
Prinsip Empirisme mendorong si penyelidik untuk menganggap
bahwa kesan dari indranya dapat dipercaya dan bahwa ia dapat mengkonsep
kebenaran dengan menunjukkan fakta-fakta yang telah dialaminya. Pengetahuan
adalah hasil dari pengamatan, pengalaman, dan eksperimen dan semua itu
bertentangan dengan otoritas, intuisi atau pikiran sadar.
5.
Prinsip
Kehematan atau parsimony mengatakan
bahwa oleh karena banyak hal yang sama seseorang memilih keterangan yang paling
sederhada dan menganggapnya sebagai yang paling benar. Prinsip ini mengekang adanya
keruwetan yang tidak perlu. Ia mengingatkan kita terhadap keterangan yang
berbelit-belit. Prinsip ini biasanya disebut “pisau cuk Occam” untuk
mengingatkan kita kepada William of Occam, seorang filsuf Inggris pada
abad ke-14 yang mengatakan bahwa kesatuan tidak boleh digandakan lebih daripada
yang diperlukan (entities should not be
multiplied beyond necessary).
6.
Prinsip
Isolasi atau segregation menghendaki
agar fenomena yang diselidiki itu dipisahkan dari yang lain sehingga dapat
diselidiki sendiri.
7.
Prinsip
Kontrol mengatakan bahwa kontrol adalah sangat perlu, khususnya untuk
melakukan eksperimen. Tanpa kontrol, banyak faktor yang berbeda-beda pada waktu
yang sama, dan ekperimen tidak dapat diulang. Jika keadaan berubah waktu
eksperimen dilakukan, hasilnya mungkin tidak benar.
8.
Prinsip
Pengukuran yang pasti atau exact
measurement prinsip ini menghendaki agar berbagai hasil penyelidikan
dapat dijelaskan secara kuantitatif atau matematik. Ini adalah tujuan ilmu
fisika yang memerlukan berbagai ukuran objektif yang dapat
diteliti kebenarannya.
Kriteria Postulat Koch
Pada
tahun 1880, Koch memanfaatkan kemajuan metoda laboratorium dan menentukan
kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba spesifik merupakan
penyebab penyakit tertentu. Kriteria ini dikenal dengan postulat Koch yaitu:
1.
Mikroorganisme
tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan penyakit yang ditimbulkan.
2.
Mikroorganisme
dapat diisolasi dan ditumbuhkan sebagai biakan murni di laboratorium.
3.
Biakan murni
tersebut bila diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan
penyakit.
4.
Mikroorganisme
tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah terinfeksi tersebut.
Sebagai
contoh dari keterangan diatas, bahwa bakteri Bassilus antracis
pasti selalu ditemukan pada penyakit antraks. Apabila bakteri yang diambil dari
limpa sapi yang terinfeksi antraks,
kemudian bakteri tersebut mampu hidup jika diisolasi dalam lingkungan yang
sesuai. Untuk mengetahui sifat Bassilus
antracis hasil biakan tersebut, kemudian bakteri tersebut dapat
diinjeksikan pada tikus yang sehat. Setelah selang beberapa waktu tikus tikus
yang sehat tersebut mati. Hal ini menunjukan jika sifat mikroorganisme tersebut
mampu membuat infeksi asli. Apabila Bassilus
antracis dari tikus yang mati diambil lagi dan diisolasi lagi maka
akan tetap mempunyai sifat patogen bagi DNA yang sesuai.
Adanya
kriteria tersebut menjadi jalan ditemukannya berbagai bakteri penyebab berbagai
penyakit dalam waktu yang cukup singkat (kurang dari 30 tahun). Penemuan virus,
adanya bakteri yang dapat menimbulkan berbagai penyakit serta adanya penyakit
tertentu yang ditimbulkan oleh lebih dari 1 mikroorganisma memerlukan modifikasi
dari postulat Koch. Pada tahun 1892 Dimitri Ivanovski menunjukkan bahwa agen
yang menyebabkan penyakit mosaik pada tembakau dapat ditularkan melalui ekstrak
tanaman yang sakit. Ekstrak terebut disaring dengan filter yang ditemukan oleh
kawan-kawan Pasteur dimana filter tersebut diketahui dapat menyaring bakteri. Penelitian
selanjutnya menunjukkan bahwa agen tersebut mempunyai ukuran yang jauh lebih
kecil dari bakteri. Yellow fever
merupakan penyakit pertama pada manusia yang diketahui disebabkan oleh virus.
Pada
tahun 1900 seorang ahli bedah bernama Walter reed (1851-1902) dengan
menggunakan manusia sebagai volunteer membuktikan bahwa virus tersebut dibawa
oleh nyamuk tertentu lainnya membawa protozoa penyebab malaria. Salah satu cara
penting untuk mencegah penyakit tersebut adalah mengurus air yang tergenang
yang digunakan nyamuk untuk tempat berkembang biak.
PENUTUP
Kesimpulan
Robert
Koch lahir pada tanggal 11 Desember 1843 di Clausthal-Zellerfeld, Hannover,
Jerman dengan nama Robert Heinrich Hermann Koch. Berbagai metode yang ditemukan
oleh Koch tersebut dapat membuat bakteri patogen lebih mudah didapatkan dalam
kultur murni (pure culture). Padahal
sebelumnya, bakteri patogen sangat sulit didapatkan karena tercampur dengan
organisme lain yang dapat ikut teridentifikasi. Rumusan tersebut dikenal dengan
Postulat-postulat Koch (Koch’s Postulates).
Pertama,
ditemukan pada semua kasus dari penyakit yang telah diperiksa. Kedua,
telah diolah dan dipelihara dalam kultur murni (pure culture). Ketiga, mampu membuat infeksi asli (original infection), meskipun sudah
beberapa generasi berada dalam kultur. Keempat, dapat diperoleh kembali dari
hewan yang telah diinokulasi dan dapat dikulturkan kembali.
Prinsip-prinsip
Postulat yaitu Prinsip Kausalitas, Prediktif Uniformatif, Objektivitas,
Empirisme, Kehematan atau parsimony,
Isolasi atau segregation,
kontrol dan Pengukuran yang Pasti atau exact measurement.
Kriteria
postulat Koch yaitu mikroorganisme tertentu selalu ditemukan berasosiasi dengan
penyakit yang ditimbulkan, mikroorganisme dapat diisolasi dan ditumbuhkan
sebagai biakan murni di laboratorium dan biakan murni tersebut bila
diinjeksikan pada binatang yang sesuai dapat menimbulkan penyakit serta
mikroorganisme tersebut dapat diisolasi kembali dari hewan yang telah
terinfeksi tersebut.
Agrios, G.N. 1996. Ilmu Penyakit
Tumbuhan (Terjemahan Munzir Busnia). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Campbell, Neil A, Jane B Reece, dan
Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Penerbit
Erlangga. Jakarta
Djafarudin. 2001. Dasar-dasar
Perlindungan Tanaman (Umum). Bumi Aksara. Jakarta.
Jackson RW. 2009. Plant Pathogenic Bacteria: Genomics and
Molecular Biology. Caister Academic Press.
Ogoshi, A., B. Sneh and L. Burpee.
1985. Identification of Rhizoctonia
sp. APS Press. Minnesota.
Purnomo, Bambang. 2015. Penuntun
praktikum penyakit tanaman. Laboratorium IHPT. Fakultas Pertanian UNIB
Sastrahidayat, Ika R. 1990. Ilmu
Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Usaha Nasional. Surabaya
Semangun, H. 1996. Pengantar
Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gajah Mada Univ Press. Yogyakarta.
Tim penyusun.2010. Panduan
Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan. Universitas Lampung. Lampung.
Triharso. 1996. Dasar-Dasar
Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar