PENGAMATAN MORFOLOGI JAMUR DENGAN MEDIA KUBUS
PENGAMATAN
MORFOLOGI JAMUR DENGAN
MEDIA
KUBUS
(Laporan
Praktikum Ilmu Penyakit Tumbuhan)
Oleh
:
Samsudin
1710517210017
Kelompok
3
PROGRAM
STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR
ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................
i
DAFTAR TABEL.......................................................................................
ii
PENDAHULUAN......................................................................................
1
Latar Belakang.................................................................................
1
Tujuan.............................................................................................. 2
TINJAUAN
PUSTAKA…………………………………………………… 3
BAHAN
DAN METODE...........................................................................
6
Alat dan Bahan................................................................................
6
Alat......................................................................................... 6
Bahan...................................................................................... 6
Waktu dan Tempat...........................................................................
6
Prosedur Kerja.................................................................................
6
HASIL
DAN PEMBAHASAN..................................................................
8
Hasil.................................................................................................
8
Pembahasan...................................................................................... 8
KESIMPULAN...........................................................................................
11
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Hasil Pengamatan Morfologi Jamur
dengan Media Kubus…………... 8
Latar Belakang
Jamur adalah makhluk hidup yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Jamur
atau fungi bervariasi dalam ukuran, dari ragi yang uniseluler sampai jamur
multiseluler, seperti jamur payung dan jamur kuping yang tumbuh di kayu. Pada
umumnya, jamur memiliki tiga karakteristik utama, yaitu eukariotik, menggunakan
spora sebagai alat perkembangbiakannya, dan heterotrof. Sebagai tambahan, jamur
membutuhkan tempat yang lembab dan hangat agar dapat tumbuh. Oleh karena itu,
jamur banyak ditemukan di makanan yang lembab, di dasar kulit batang pohon, di
dasar lantai hutan, serta di lantai kamar mandi yang lembab. Oleh karena
bersifat heterotrof, secara ekologi jamur sangat penting karena berperan
sebagai pengurai dan ikut andil dalam daur nutrisi yang ada di tanah (Subahari,
2008).
Sebagian
besar tubuh fungsi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa, yang saling
berhubungan menjalin semacam jala yang disebut miselium. Miselium dapat
dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi menyerap nutrien dari
lingkungan dan miselium fertile yang berfungsi dalam reproduksi. Fungi tingkat
tingi maupun tingkat rendah mempunyai ciri khas yaitu berupa benang tunggal
atau bercabang-cabang yang disebut hifa. Fungi dibedakan menjadi dua golongan
yaitu kapang dan khamir (Syamsuri, 2004).
Semua
jamur adalah eukariota, mereka memiliki sel membran yang menutupi inti dan
mitokondria dan organel bermembran lainnnya. Meskipun mereka berbeda mencolok
dalam ukuran dan bentuk, tetapi jamur memiliki karakter tertentu, termasuk car
mereka mendapatkan makanan. Jamur yang paling sederhana adalah ragi,
uniseluler, dengan bentuk bulat atau oval. Ragi tersebar luas di tanah, daun,
buah, dan juga pada tubuh kita. Ragi berperan penting dalam kedokteran, penelitian
biologi, dan industri makanan (Solomon, 2011).
Struktur
tubuh jamur yang paling umum adalah filamen multiseluler dan sel tunggal
(ragi). Banyak spesies yang dapat tumbuh baik sebagai filamen dan ragi, tetapi
kebanyakan tumbuh sebagai filamen, hanya sedikit spesies yang tumbuh sebagai
ragi. Ragi biasanya berada di tempat yang lembab, termasuk getah tumbuhan dan
jaringan hewan, dimana terdapat nutrisi seperti gula dan asam amino
(Campbell et al., 2009).
Nama
yang diberikan untuk cendawan (fungi) berasal wakilnya yang mencolok, yaitu
cendawan topi. Fungi termasuk eukaryot dan memiliki sifat-sifat tertentu sama
dengan tumbuhan, seperti memiliki dinding sel, cendawan memiliki getah, dengan
mikroskop dapat diamati aliran plasma yang baik dan juga sifat nyata
kemampuannya. Jamur berkembang biak dengan spora dan umumnya secara seksual
maupun aseksual. Semua jamur dianggap tumbuh. Klasifikasi yang memasuki fungi
kedalam dunia karena beralasan keasaman dalam hidupnya. Habitat hidupnya pada
umumnya di tanah. Fungi yang menghasilkan tubuh buah seperti halnyapertumbuhan
lumut (Subandi, 2010).
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali
ini adalah agar praktikan mengetahui teknik pengamatan morfologi jamur dengan
media kubus.
TINJAUAN PUSTAKA
Media
tanam yang baik adalah media yang mampu mempertahankan kelembapan disekitarnya.
Kelembapan yang tinggi akan memicu pertumbuhan jamur, sebaliknya kelembapan
yang rendah akan menyebabkan media tanam menjadi kering (Agrihibo, 2013).
Berbagai
macam mikroorganisme atau bakteri tumbuh dengan baik. Kompleksnya nutrisi untuk
pertumbuhan bakteri yang terkandung menyebabkan bakteri yang tumbuh sangat
beragam. Dengan demikian banyak bakteri yang dapat tumbuh dimedia secara alami,
yang sulit diisolasi langsung, yang kaya nutrisi seperti media NA yang biasa
digunakan di lab (Panagan,2011).
Jika
media dan lingkungan sama seperti media sebelumnya, mungkin tidak diperlukan
waktu adaptasi. Apabila penyegaran inokulum telah sering dilakukan maka fase
adaptasi dapat saja tidak diperlukan bakteri untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya (Yuliana,2008).
Saat
ini media agar merupakan media yang sangat umum digunakan dalam
penelitian-penelitian mikrobiologi. Media agar ini memungkinkan untuk
dilakukannya isolasi bakteri dari suatu sampel, karakterisasi morfologi, sampai
penghitungaan bakteri yang dikenal dengan nama total plate count. Bentuk koloni bakteri dan warna-warninya mudah sekali
dikenali dengan media ini dengan cara mengubah komposisi nutrien atau
menambahkan indikator. Komposisi media bakteri dapat dimodifikasi sehingga
dapat digolongkan menjadi media umum, media selektif (bakteri tertentu saja
yang dapat tumbuh) dan media diferensial (bakteri tumbuh dengan memberikan
ciri-ciri tertentu) (Achmad, 2007).
Media
dapat digolongkan berdasarkan bentuk, susunan kimianya, dan fungsinya.
Berdasarkan bentuknya terdiri dari media padat, media semi padat, dan media
cair. Bahan makanan yang dbutuhkan mikroorganisme dibagi menjadi tujuh golongan
yaitu air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber
mineral, faktor tumbuh, dan sumber nitrogen (Pujiati, 2012).
Medium
harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah
dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan
molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar
makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh
(Label, 2008)
Medium
yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakan pada suatu mikroorganisme
harus sesuai susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis pada mikroorganisme yang
bersangkutan. Beberapa pada mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang
sangat sederhana yang hanya mengandung garam anorganik ditambah sumber karbon organik
seperti gula, sedangkan mikroorganisme lainnya memerlukan suatu medium yang
sangat kompleks yaitu berupa medium yang pada saat ditambahkan darah atau
bahan-bahan kompleks lainnya (Suriawiria, 2005).
NA
(Nutrien Agar) adalah medium yang digunakan sebagai media pertumbuhan
bakteri. Nutrient agar adalah medium yang diklasifikasikan sebagai medium
sintetik terstruktur karena tersusun oleh komponen yang pasti jenis dan
kuantitasnya. NA di buat dengan komposisi agar–agar yang sudah dipadatkan
sehingga NA juga bisa disebut sebagai nutrisi padat yang digunakan untuk
menumbuhkan bakteri. Fungsi agar–agar hanya sebagai pengental namun bukan zat
makanan pada bakteri, agar dapat mudah menjadi padat pada suhu tertentu.
Medium Nutrient Agar adalah salah satu medium padat yang memiliki
komposisi yaitu agar–agar yang telah di panaskan dan mencair dengan suhu 950C
(Sandra, 2013).
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
Adapun alat yang digunakan dalam
praktikum kali ini adalah slide glass, cover glass, tusuk gigi, tisu steril,
suntikan, LAF, pinset, jarum ent, lampu bunsen, spatula dan mikroskop.
Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini
adalah media PDA, biakan jamur, air steril dan cling wrap.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
Rabu tanggal 20 November 2019, pada pukul 13.00-14.40 WITA di Laboraturium
Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas
Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur Kerja
Adapun
prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
1.
Menyiapkan alat
dan bahan
2.
Letakkan dua
tusuk gigi, slide glass, tisu steril, cover glass, dengan rapi di dalam cawan
petri kemudian bungkus dengan koran.
3.
Sterilkan dengan
oven selama 1 jam dengan suhu 1700 C dan dinginkan
4.
Buka Koran dan
panaskan cawan petri diatas lampu bunsen
5.
Panaskan pinset
diatas lampu bunsen kemudian susun kembali tusuk gigi, slide glass dan cover
glass.
6.
Letakkan media
PDA yang telah di potong kubus pada slide glass menggunakan spatula
7.
Ambil biakan
murni dengan menggunakan jarum ent dan letakkan pada cawan petri berisi media
PDA pada slide glass dan tutup dengan menggunakan cover glass
8.
Ambil air steril
dengan pipet tetes dan letakkan pada tisu
9.
Cling wrap
cawan petri dan inkubasi selama 2 hari atau 2 × 24 jam
Lakukan pengamatan dibawah mikroskop
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil yang didapatkan dalam
praktikum ini adalah :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Morfologi
Jamur dengan Media Kubus
|
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1.
|
|
Secara makroskopik didapatkan
bahwa hifa cendawan menyebar melebihi media kubus yang disiapkan,hifa
berwarna putih.
|
|
2.
|
|
Secara mikroskopik didapatkan
bahwa hifa bertumpuk sehingga tidak terlalu jelas,terdapat spora, hifa tidak
bersepta atau sekat.
|
Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas
tentang pengamatan morfologi jamur dengan media kubus. Hal pertama yang
dilakukan adalah melakukan sterilisasi tusuk gigi, tisu steril, cover glass dan
slide glass di dalam cawan petri selama 1 jam dengan suhu 1700 C
dalam oven kemudian di dinginkan sebelumnya cawan petri di bungkus dengan koran.
Setelah di dinginkan lakukan isolasi di bawah LAF, susun tusuk gigi di dua arah
sebagai penumpu sehingga slide glass tidak langsung menyentuh tisu steril.
Selanjutnya mengambil media PDA yang telah di potong kubus, menggunakan spatula
yang telah dipijarkan sebentar diatas lampu bunsen, pengambilan media tersebut
harus dilakukan secara hati-hati agar bentuk media tersebut tidak hancur. Media
kubus tersebut diletakkan di tengah tengah slide glass, lalu ambil isolat hifa
jamur secara hati-hati ke media kubus mengunakan jarum ent usahakan jangan
sampai media hancur, selanjutnya menutup media kubus tadi dengan cover glass
dengan menggunakan spatula secara hati hati. Kemudian ambil air steril dengan
suntikan dan diteteskan pada beberapa bagian tisu steril, tujuan dari
meneteskan air tersebut adalah agar membuat tisu steril tersebut menjadi lembab
agar cendawan dapat berkembang. Terakhir cawan petri tersebut ditutup rapat
dengan di cling wrap lalu diberi
label agar mudah saat dilakukan pengamatan.
Pengamatan dilakukan 2 hari setelah
mengisolasi cendawan tersebut di dalam cawan petri, pada pengamatan secara
makroskopik didapatkan bahwa hifa cendawan menyebar sangat cepat melebihi media
kubus yang disiapkan sebelumnya, hifa berwarna putih, isolat cendawan
sebelumnya yang di ambil hifanya berwarna hitam dan tergumpal. Sedangkan pada
pengamatan secara mikroskopik di bawah mikroskop didapatkan hasil yaitu hifa
yang tumbuh bertumpuk sehingga tidak dapat di lihat dengan jelas apakah hifa
cendawan tersebut bersekat atau septa, spora cendawan tersebut terlihat
beberapa berwarna hitam.
Jamur
memiliki arti yang khas yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang
disebut miselium, atau berupa kumpulan benang-benang yang padat menjadi satu.
Jamur tidak memiliki klorofil sehingga hidupnya heterotrof. Jamur berkembang
biak secara vegetatif dan generatif dengan berbagai macam spora. Pembiakan
jamur secara generatif dengan berbagai macam spora. Pembiakan jamur secara
generatif atau aseksual dilakukan dengan isogamet atau heterogamete
(Dwidjoseputro, 2010).
KESIMPULAN
Adapun
kseimpulan yang dapat diambil dalam praktikum ini adalah
1.
Jamur memiliki
arti yang khas yaitu berupa benang tunggal bercabang-cabang yang disebut
miselium, atau berupa kumpulan benang-benang yang padat menjadi satu.
2.
Pada pengamatan secara
makroskopik didapatkan bahwa hifa cendawan menyebar sangat cepat melebihi media
kubus yang disiapkan sebelumnya, hifa berwarna putih
3.
pada pengamatan
secara mikroskopik di bawah mikroskop didapatkan hasil yaitu hifa yang tumbuh
bertumpuk sehingga tidak dapat di lihat dengan jelas apakah hifa cendawan
tersebut bersekat atau septa, spora cendawan tersebut terlihat beberapa
berwarna hitam.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad,
D,. 2007, Media Agar. Ide Besar Istri Peneliti,, Erlangga. Jakarta
Agrihibo.
2013. Media Tanam Untuk Tanaman Hias. Redaksi Ps. Jakarta
Campbell, N.A., J.B Reece., L.A
Urry., M.L Cain., S.A Wasserman., P.V Minorsky., and R.B Jackson. 2009. Biology
Ninth Edition. Pearson Education Inc, Benjamin Cummings. San Fransisco.
Dwidjoseputro,
2010. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djembatan. Jakarta.
Label,
J. 2008, Mikrobiologi : Pembuatan Medium, Erlangga. Jakarta.
Panagan, Almunady T. 2011. Isolasi
Mikroba Penghasil Antibiotika dari Tanah Kampus Unsri Indralaya menggunakan
media ekstrak tanah. Jurnal Penelitian Sains Vol 14 No.3.
Pujiati. 2012.
Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar. Ikip PGRI Madiun Press. Madiun.
Sandra,
2013, Mikrobiologi Umum, Erlangga : Jakarta.
Subahari,
T.S.S. 2008. Biologi. Penerbit Quadra. Surabaya.
Subandi.
2010. Mikrobiologi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Solomon, E.P., L.R Berg., and D.W
Martin. 2011. Biology Ninth Edition. Brooks/Cole Cengage Learning. USA.
Suriawiria,
Unus. 2005. Pengantar Mikrobiologi Umum. Angkasa. Bandung.
Syamsuri,
Istamar. 2004. Biologi. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Yuliana, Neti. 2008. Kinetika
Pertumbuhan Bakteri Asam Laktat Isolat TS yang berasal dari
Tempoyak. Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian Vol.13 No.2.
Komentar
Posting Komentar