KOMPETISI GULMA DENGAN TANAMAN BUDIDAYA


KOMPETISI GULMA DENGAN TANAMAN BUDIDAYA
(Laporan Praktikum Ilmu Gulma dan Pengendaliannya)






                                                                                 
Oleh :
Samsudin
1710517210017
Kelompok 7








       


PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................              i
DAFTAR TABEL.......................................................................................             ii
DAFTAR GRAFIK…………………………………………………………         iii
PENDAHULUAN......................................................................................            1
Latar Belakang.................................................................................            1
Tujuan..............................................................................................             3
BAHAN DAN METODE...........................................................................            4
Alat dan Bahan................................................................................            4
Alat.........................................................................................             4
Bahan......................................................................................             4
Waktu dan Tempat...........................................................................            4
Prosedur Kerja.................................................................................            4
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................            6
Hasil.................................................................................................            6
Pembahasan......................................................................................             9
KESIMPULAN...........................................................................................          14
DAFTAR PUSTAKA                                                                                               






DAFTAR TABEL
Nomor                                                                                                                    Halaman
1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung (cm)…………………….               6
2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung…………………...               6
3. Hasil Pengamatan Jumlah Tongkol Tanaman Jagung………………..               7

 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Gulma adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok (tanaman yang sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang tidak diinginkan sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman lainnya yang berada disekitar tanaman pokok tersebut (Abidin, 1994).
Kompetisi dapat terjadi jika salah satu dari dua atau lebih lebih organisme yang hidupnya bersama-sama membutuhkan faktor lingkungan yang sangat terbatas persediaannya dan tidak mencukupi untuk kebutuhan bersama. Dalam keadaan seperti ini, kedua organisme akan saling berinteraksi. Dengan membatasi definisi hanya terhadap persaingan ada beberapa faktor lingkungan yang berada dalam keadaan terbatas jumlahnya, maka kompetisi dapat dibedakan dengan gangguan yang termasuk didalamnya alelopati kecuali pada beberapa keadaan seperti yng dijumpai pada jenis umbi-umbian, kompetisi ruang yang sebenarnya tidak ditemui melainkan kompetisi akan sesuatu yang terdapat didalam ruang seperti hara, air, cahaya, CO2, dan O2 (Tim, 2014).
Secara umum gulma dapat dikendalikan dengan beberapa cara antara lain preventif/ pencegahan, secara mekanis, secara kultur teknis, secara biologis, secara kimiawi. Secara peventif cara ini ditujukan terhadap spesies –spesies gulma yang sangat merugikan dan belum terdapat tumbuh dilingkungan kita. Spesies gulma asing yang cocok tumbuh di tempat-tempat baru dapat menjadi pengganggu yang dahsyat (Barnito, 2009).
Kehadiran gulma pada lahan pertanian  atau pada lahan perkebunan dapat menimbulkan berbagai masalah. Secara umum masalah-masalah yang ditimbulkan  gulma pada lahan tanaman budidaya ataupun tanaman pokok adalah Terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman budidaya)   dalam hal penyerapan zat makanan atau unsur-unsur hara di dalam tanah,  penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang tempat tumbuh.Sebagian besar tumbuhan gulma  dapat mengeluarkan zat atau cairan yang bersifat  toksin (racun), berupa senyawa kimia yang dapat mengganggu dan menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah allelopati. Sebagai tempat hidup atau inang, maupun tempat berlindung hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik. Akibatnya hama tersebut akan menyerang dan memakan tanaman pokok ataupun tanaman budidaya. Mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun pada saat pemupukan dan dapat menurunkan kualitas produksi (hasil) dari tanaman budidaya, misalnya dengan tercampurnya  biji-biji dari gulma yang kecil dengan biji tanaman budidaya (Kuntohartono, 1987).
Kompetisi yang terjadi di alam meliputi kompetisi intraspesifik yaitu interaksi negatif yang terjadi pada tumbuhan berbeda jenis. Tanaman budidaya mempunyai kemampuan untuk bersaing dengan gulma sampai batas populasi gulma tertentu. Setelah batas populasi tersebut tanaman budidaya akan kalah dalam bersaing hingga pertumbuhan dan produksi tanaman budidaya akan menurun. Kompetisi gulma dapat menyebabkan penurunan jumlah individu tanaman yang dipanan. Kompetisi antara gulma dan tanaman terjadi karena factor tumbuh yang terbatas. Faktor yang dikompetisikan anta lain hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi gulma tergantung pada beberapa factor antara lain jumlah individu gulma dan berat gulma, siklus hidup gulma, periode guma pada tanaman dan jenis gulma (Gravatar, 2010).

Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum  ini adalah untuk mengetahui kompetisi yang terjadi antara tanaman jagung dengan gulma.
 BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
            Adapun alat yang digunakan selama praktikum ini adalah cangkul, meteran dan sekop.

Bahan
            Adapun bahan yangdigunakan dalam praktikum kali ini adalah benih jagung, pupuk kandang, pupuk urea, PGPR dan air.

Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 1 Oktober sampai 13 Desember 2019, pada pukul 16.30-17.30 WITA, Di Lahan Penelitian Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur Kerja
            Adapun prosedur kerja yang gunakan dalam praktikum ini adalah :
1.      Menyiapkan alat dan bahan.
2.      Mengukur tanah dengan ukuran 3×1,5 m, lalu membuat sebanyak 2 bedengan (bedengan A dan B). Bedengan A diberikan perlakuan dengan selalu dibersihkan setiap saat, sedangkan bedengan B diberikan perlakuan dengan penyiangan dalam waktu yang ditentukan.
3.      Campurkan pupuk kandang pada bedengan tersebut.
4.      Rendam benih jagung dalam air, lalu tanam sebanyak 2 benih dalam satu lubang.
5.      Jarak tanam tanaman jagung dengan lebar 50 cm dan panjang 2 cm.
6.      Kemudian bedengan disiram.
7.      Mengamati perbedaan dengan mengukur tinggi tanaman, jumlah daun dan menghitung jumlah tongkol jagung.HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung (cm)
Perlakuan
Tinggi tanaman minggu ke
∑ tinggi (cm)
Rata-rata
I
II
III
IV
V
VI
VII
A1
5,62
21,50
39,23
67,33
98,77
138,44
153,47
524,37
74,91
A2
3,09
15,47
32,82
57,22
86,06
115,58
144,38
454,63
64,95
B1
5,06
14,75
32,43
53,58
92,00
138,53
179,32
515,67
73,67
B2
6,44
22,40
46,77
74,06
116,64
167,54
209,66
643,52
91,93
C1
4,52
17,63
36,01
67,09
103,38
151,53
175,97
556,13
79,45
C2
6,51
19,40
36,87
66,24
95,05
139,18
171,13
534,38
76,34
D1
4,33
17,40
61,74
84,76
119,56
150,71
151,59
438,49
73,08
D2
4,48
19,72
70,35
101,51
127,62
141,87
144,77
610,33
87,19
E1
6,28
25,48
48,98
81,04
121,41
159,82
135,63
578,67
82,67
E2
4,26
20,79
38,57
64,76
94,94
139,02
161,05
523,42
74,78
F1
4,57
48,57
12,65
18,13
25,57
29,85
33,25
172,62
24,66
F2
2,76
25,56
25,78
12,35
17,65
25,95
31,67
141,76
20,25
G1
2,37
8,46
2,22
4,95
6,94
9,18
1,40
35,55
5,08
G2
1,33
6,62
24,48
48,59
76,06
93,68
1,65
252,44
36,06

Tabel 2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung

Perlakuan

Jumlah daun minggu ke
∑ daun (helai)
Rata-rata
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
A1
0,85
3,54
5,62
7,54
9,15
9,36
10,23
11,00
10,97
10,97
68,26
7,56
A2
1,54
2,54
5,41
6,56
7,64
9,21
7,98
10,46
10,62
10,62
61,96
12,39
B1
2,13
3,62
5,36
6,08
9,55
10,62
11,11
11,61
10,51
10,22
80,79
8,08
B2
2,55
4,62
5,97
6,69
9,69
11,05
11,13
11,18
9,92
9,43
82,24
8,22
C1
1,62
4,05
5,97
8,15
9,72
10,72
11,26
10,95
10,38
10,38
83,20
8,32
C2
2,03
3,87
5,26
7,62
8,10
9,95
11,33
11,18
9,72
9,72
78,78
5,36
D1
3,62
10,31
8,21
8,41
9,69
10,41
10,77
11,59
11,67
11,67
96,35
9,64
D2
5,38
6,00
7,21
7,69
9,36
10,23
10,51
11,18
11,36
11,36
90,28
9,03
E1
1,26
3,87
5,97
7,84
10,03
11,08
12,45
11,92
9,79
10,56
84,77
8,48
E2
0,92
3,33
5,15
7,31
7,56
8,28
9,69
9,82
9,00
9,75
70,83
7,08
F1
2,49
6,33
8,62
12,31
13,08
16,49
21,03
24,21
10,59
13,08
128,21
12,82
F2
1,28
4,72
6,72
9,72
9,05
16,33
22,79
25,21
7,59
9,05
112,46
11,25
G1
0,69
1,68
3,28
6,03
7,10
8,49
9,15
9,99
10,77
10,31
67,49
5,50
G2
0,28
1,41
3,51
5,26
5,97
7,06
8,38
9,13
10,08
10,95
62,03
5,62



Tabel 3. Hasil Pengamatan Jumlah Tongkol Tanaman Jagung
Perlakuan
Jumlah tongkol minggu ke
∑ tongkol
Rata-rata
VIII
IX
X
XI
A1
0,44
0,69
1,08
1,18
3,38
0,85
A2
0,28
0,56
1,00
1,05
2,90
0,72
B1
0,29
0,65
1,07
1,11
3,12
0,78
B2
0,59
0,92
1,03
1,00
3,54
0,88
C1
0,38
0,64
0,92
0,92
2,86
0,72
C2
0,54
0,62
0,87
0,87
2,90
0,68
D1
0,46
0,90
1,38
1,49
4,23
1,06
D2
0,21
0,87
1,28
1,38
3,74
0,93
E1
0,21
0,72
0,85
0,81
2,58
0,59
E2
0,28
0,51
0,64
0,59
2,03
0,48
F1
0,76
0,96
3,05
0,81
5,58
1,40
F2
0,35
0,86
1,35
0,59
3,14
0,75
G1
0,31
1,21
0,51
1,07
3,10
0,41
G2
0,26
0,87
0,49
1,28
2,90
0,37

Grafik 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung (cm)






Grafik 2. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Jagung


Grafik 3. Hasil Pengamatan Jumlah Tongkol Tanaman Jagung







Pembahasan
            Pada praktikum kali ini membahas tentang kompetisi gulma dengan tanaman budidaya, dalam hal ini yaitu tanaman jagung. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan bedengan sebagai tempat tumbuh tanaman jagung menggunakan cangkul dengan ukuran 3 meter dikali 1,5 meter. Bedengan tersebut kemudian digemburkan dan ditambakan pupuk kandang satu minggu sebelum menanam biji jagung. Biji jagung sebelum ditanam terlebih dahulu direndam sebentar agar memudahkan cepatnya berkecambah, biji jagung dimasukkan 2 biji pada lubang yang telah disiapkan. Jarak tanam tanaman jangung disini yaitu 50 cm dan panjang 2 cm antar tanaman jagung tersebut. Masing-masing kelompok diberikan jatah 2 bedengan dengan masing-masing perlakuan perbersihan (sanitasi) gulma yaitu setiap hari, 10 hari, 20 hari, 30 hari, 40 hari, 50 hari, 60 hari dan 70 hari. Tanaman jagung disiram pagi dan sore hari serta pada tiap minggu diamati tinggi tanaman jagung yang tumbuh, daun jagung dan tongkol yang telah muncul pada tanaman jagung, khusus untuk pengamatan tongkol diamati pada minggu ke 8 sampai 10 hst.
Jagung merupakan tanaman hortikultura yang mana tanaman ini mampu menghasilkan karbohidrat Kompetisi yang terjadi antara tanaman jagung dan gulma. Kompetisi tersebut dapat berbentuk perebutan sumber daya yang terbatas (resource competition) atau saling menyakiti antar individu yang sejenis dengan kekuatan fisik (interference competition).
Kompetisi yang terjadi antara individu sejenis disebut sebagai kompetisi intraspesifik sedangkan interaksi antara individu yang tidak sejenis disebut interaksi interspesifik. Persaingan tumbuhan dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan. di mana sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari spesies tunggal sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan. Kompetisi antara tanaman tersebut terjadi karena faktor tumbuh yang terbatas.
Faktor yang dikompetisikan antara lain hara, cahaya, CO2, cahaya dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi tumbuhan kompetitor tergantung pada beberapa faktor  antara lain jumlah individu dan berat tanaman kompetitor, siklus hidup tanaman kompetitor, periode tanaman, dan jenis tanaman.
Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan menanggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di bandingkan dengan yang lain.
Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama.
Persaingan ini dapat terjadi antara individu yang sejenis ataupun antara individu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik.
Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan. Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain – lain.
Faktor-faktor intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Pada praktikum ini diberikan perlakuan dengan pemupukan NPK pada saat 2 minggu setelah tanam dan 2 minggu sebelum panen dan pemberian trichoderma sp dilakukan saat tanaman jagung mulai banyak terserang oleh hama ulat grayak yang mengakibatkan banyak daun yang berlubang dan ada beberapa terdapat didalam batang serta pucuk daun jagung. Oleh karena itu diberikan perlakuan penyiraman dengan trichoderma sp yang sebelumnya telah dilarutkan dalam gembor yang berisi air dengan perbandingan 1:5 (satu bungkus trichoderma untuk 2 bedengan). Setelah diberikan trichoderma beberapa tanaman makin subur dan ada yang mencapai tinggi maksimum.
Pada grafik tinggi tanaman jagung yang diberikan perlakuan 50 hari baru dibersihkan gulma dari minggu pertama sampai minggu kelima terus naik, dan mengalami puncak tertinggi pada minggu keenam dengan 159,82 cm dan pada minggu ketujuh turun diangka 135,63 cm. sedangkan pada tanaman jagung yang tidak diberi perlakuan semakin tinggi dari minggu pertama sampai minggu ketujuh yaitu pada minggu ketujuh memiliki tinggi 161,05 cm. pada grafik ini terdapat perbedaan yang signifikan antara yang diberi perlakuan dan tidak diberi perlakuan, faktor yang diduga adalah karena saat dibersihkan bedengan tersebut beberapa akar tanaman tidak dipadatkan untuk menguatkan sistem perakaran dan tegaknya batang jagung, karena hal tersebut itulah pertumbuhannya beberapa batang tidak tegak tetapi miring sedikit dan pada minggu kelima beberapa batang terlalu miring hendak roboh sehingga ditanah disekitar batang tanaman tersebut kembali dipadatkan, faktor lain diduga karena lebih besar batang yang ditopang daripada akar tanaman tersebut selain itu pada beberapa pucuk tanaman jagung diserang hama semut merah pada bagian malai tanaman jagung.
Pada grafik daun pada bedengan yang diberi perlakuan 50 hari dibersihkan dari gulma didapatkan hasil pada minggu pertama sampai minggu ketujuh makin signifikan tinggi grafik yaitu 12,45 pada minggu kedelapan turun menjadi 11,92 dan pada minggu kesembilan jumlah helai daun pada grafik turun drastis yaitu hingga 9,75 serta pada pengamatan kesepuluh naik kembali namun hanya 10,56. Sedangkan pada bedengan yang tidak diberikan perlakuan dari minggu pertama sampai minggu kedelapan terus meningkat pada grafik yaitu 9,82 dan pada minggu kesembilan turun hingga 9 serta pada minggu kesepuluh naik 9,75. Faktor yang diduga sehingga jumlah daun menurun pada minggu drastis pada minggu kesembilan baik pada bedengan yang diberi perlakuan dan tidak diberi perlakuan adalah serangan dari hama ulat grayak yang banyak sehingga banyak daun yang berlubang sehingga memperlambat tanaman untuk menghasilkan fotosintesis dan muncul bakal daun (tunas daun).
Pada grafik jumlah tongkol jagung pada bedengan diberi perlakuan diberi perlakuan 50 hari dibersihkan dari gulma didapatkan pada minggu kedelapan hingga minggu kesepuluh terus naik pada grafik hingga 0,85 dan pada minngu kesebelas turun produksi tongkol hingga 0,81. Sedangkan pada bedengan yang tidak diberi perlakuan jumlah tongkol dari minggu kedelapan hingga minggu kesepuluh terus naik hingga 0,64 dan pada minggu kesebelas produksi tongkol turun hingga 0,59. Faktor yang diduga menyebabkan turunnya produksi tongkol jagung salah satunya serangan hama semut merah pada batang dan pucuk malai jagung tersebut.


 KESIMPULAN
            Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum ini adalah :
1.      Kompetisi dapat berbentuk perebutan sumber daya yang terbatas (resource competition) atau saling menyakiti antar individu yang sejenis dengan kekuatan fisik (interference competition).
2.      Besarnya daya kompetisi tumbuhan kompetitor tergantung pada beberapa faktor  antara lain jumlah individu dan berat tanaman kompetitor, siklus hidup tanaman kompetitor, periode tanaman, dan jenis tanaman.
3.      Pada grafik tinggi tanaman jagung antara dua bedengan tersebut hasil bedengan tidak diberi pelakuan lebih tinggi dibandingkan bedengan diberi perlakuan.
4.      Pada grafik jumlah daun tanaman jagung antara dua bedengan tersebut hasil bedengan diberi perlakuan lebih banyak menghasilkan daun dibandingkan bedengan yang tidak diberi perlakuan.
5.      Pada grafik jumlah tongkol tanaman jagung antara dua bedengan tersebut hasil bedengan diberi perlakuan jumlah produksi tongkol lebih banyak dibandingkan bedengan yang tidak diberikan perlakuan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1994. Dasar Pengetahuan Ilmu Tanaman. Penerbit Angkasa. Bandung.
Barnito, N. 2009. Budidaya Tanaman Jagung. Gramedia. Jakarta.
Gravatar. 2010. Gulma Tanaman. Erlangga. Jakarta.
Kuntohartono. 1987. Pergesaran Gulma di Kebun Tebu dan Penanggulangannya. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Pasuruan. 7 hal
Tim. 2014. Penuntun Praktikum Pengendalian Gulma. UNI. Bengkulu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGHITUNG KERAPATAN KOLONI BAKTERI DENGAN MENGGUNAKAN COLONY COUNTER

ISOLASI PATOGEN PADA TANAMAN BERGEJALA

AKTIVITAS ENZIM PAPAIN