DORMANSI BIJI


DORMANSI BIJI
(Laporan Praktikum Ilmu Gulma dan Pengendaliannya)






Description: C:\Users\ACER\Pictures\Logo-Unlam.png
                                                                                 
Oleh :
Samsudin
1710517210017
Kelompok 7












PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
                                         DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................              i
DAFTAR TABEL.......................................................................................             ii
PENDAHULUAN......................................................................................            1
Latar Belakang.................................................................................            1
Tujuan..............................................................................................             3
BAHAN DAN METODE...........................................................................            4
Alat dan Bahan................................................................................            4
Alat.........................................................................................             4
Bahan......................................................................................             4
Waktu dan Tempat...........................................................................            4
Prosedur Kerja.................................................................................            4
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................            6
Hasil.................................................................................................            6
Pembahasan......................................................................................             6
KESIMPULAN...........................................................................................            9
DAFTAR PUSTAKA                                                                                               







DAFTAR TABEL
Nomor                                                                                                                    Halaman
1. Hasil Pengamatan Dormansi Biji Gulma…………………………….                6


 PENDAHULUAN

Latar Belakang
Benih dikatakan dorman apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. Dormansi pada benih berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya (Sutopo, 2004).
Dormansi merupakan strategi benih-benih tumbuhan tertentu agar dapat mengatasi lingkungan sub-optimum guna mempertahankan kelanjutan spesiesnya. Terdapat berbagai penyebab dormansi benih yang pada garis besarnya dapat digolongkan kedalam adanya hambatan dari kulit benih. Benih yang mengalami dormansi organii tidak dapat berkecambah dalam kondisi lingkungan perkecambahan yang optimum. Selain itu dormansi dapat diartikan  suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pada beberapa jenis varietas tanaman tertentu, sebagian atau seluruh benih menjadi dorman sewaktu dipanen, sehingga masalah yang sering dihadapi oleh petani atau pemakai benih adalah bagaimana cara mengatasi dormansi tersebut. Struktur benih (kulit benih) yang keras sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih. Substansi yang larut kemudian dapat membawa embrio dan respirasi, dimana dormansi biji prosesnya tidak dapat dilihat dapat menunjukkan kemampuan besar. Pada beberapa benih seperti beras, rumput, respirasi anaerob memerlukan energi untuk pertumbuhan embrio, tetapi kebanyakan benih energi disuplai dalam bentuk respirasi anaerob (Stern et al., 2004).
Dormansi dapat diatasi dengan perlakuan – perlakuan, pemarutan atau penggoresan ( skarifikasi ) yaitu dengan cara menghaluskan kulit benih ataupun menggores kulit benih agar dapat dilalui air dan udara, melemaskan kulit benih dari sifat kerasnya, memasukkan benih ke dalam botol yang disumbat dan secara periodik mengguncang – guncangnya, stratifikasi terhadap benih dengan suhu rendah ataupun suhu tinggi, perubahan suhu dan penggunaan zat kimia. (Kartasapoetra, 2003).
Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perlakuan awal pada benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan mempercepat terjadinya perkecambahan benih yang seragam. Skarifikasi (pelukaan kulit benih) adalah cara untuk memberikan kondisi benih yang impermeabel menjadi permeabel melalui penusukan; pembakaran, pemecahan, pengikiran, dan penggoresan dengan bantuan pisau, jarum, pemotong kuku, kertas, amplas, dan alat lainnya. Kulit benih yang permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk ke dalam benih sehingga proses imbibisi dapat terjadi. Benih yang diskarifikasi akan menghasilkan proses imbibisi yang semakin baik. Air dan gas akan lebih cepat masuk ke dalam benih karena kulit benih yang permeabel. Air yang masuk ke dalam benih menyebabkan proses metabolisme dalam benih berjalan lebih cepat akibatnya perkecambahan yang dihasilkan akan semakin baik (Juhanda, 2013).
Dormansi dibagi menjadi dua macam yaitu dormansi primer dan sekunder. Dormansi primer merupakan bentuk dormansi yang paling umum dan terdiri atas dua macam yaitu dormansi eksogen dan dormansi endogen. Dormansi eksogen adalah kondisi dimana persyaratan penting untuk perkecambahan (air, cahaya, suhu) tidak tersedia bagi benih sehingga gagal berkecambah. Tipe dormansi ini biasanya berkaitan dengan sifat fisik kulit benih (seed coat ) (Soejadi, 2002).
Tetapi kondisi cahaya ideal dan stimulus lingkungan lainnya untuk perkecambahan mungkin tidak tersedi.  Sedangkan dormansi sekunder adalah benih non dorman yang mengalami kondisi yang menyebabkannya menjadi dorman. Penyebabnya kemungkinan benih terekspos kondisi yang ideal untuk terjadinya perkecambahan kecuali satu yang tidak terpenuhi  (Soejadi, 2002).

Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah agar mahasiswa dapat memahami berbagai sifat dormansi pada biji gulma pada kedalaman dan tempat tertentu.
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu bak perkecambahan, cangkul, penggaris dan alat tulis.

Bahan
            Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu lapisan tanah kedalaman 0-15 cm, lapisan tanah kedalaman 30 cm, lapisan tanah kedalaman 60 cm dan air.

Waktu dan tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 26 November 2019, pukul 16.30-17.30 WITA di Tanah Areal Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2.      Ambil tanah dari masing-masing tempat (tanah terbuka, tanah tertutup/ ternaungi dan tanah sekitar tempat sampah).
3.      Tanah diambil dari mulai lapisan 0-15 cm, 30 cm dan 60 cm.
4.      Kemudian tanah tersebut diletakkan dalam bak perkecambahan.
5.      Jaga kelembapan tanah agar biji gulma yang terkandung dalam tanah dapat berkecambah.
6.      Siramlah dan mati setiap hari sampai gulma yang ada tumbuh serta dapat di identifikasi.
7.      Catat jenis gulma yang berkecambah setiap hari, apa nama spesies dan berapa jumlah individu pada setiap spesies.


 HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Adapun hasil yang didapatkan dalam praktikum ini adalah
Tabel 1. Hasil Pengamatan Dormansi Biji Gulma
No
Asal Tanah
Kedalaman
Pengamatan
Nama Spesies
Jumlah
1.
Tanah dari sekitar tempat sampah
15 cm
-
0
30 cm
-
0
45 cm
-
0
2.
Tanah dari tempat terbuka
15 cm
·         Cyperus rotundus
·         Asytasia gangetica
4
1
30 cm
·         Asytasia gangetica
4
45 cm
-
0
3.
Tanah dari tempat tertutup
15 cm
·         Caladium bicolor
1
30 cm
·         Asytasia gangetica
·         Borreria alata
4
1
45 cm
·         Moringa oleifera Lam
·         Asytasia gangetica
·         Eleusine indica L
1
1
1

Pembahasan
            Pada praktikum kali ini membahas tentang dormansi biji gulma pada beberapa tempat  seperti sekitar sampah, terbuka dan tertutup. Hal pertama yang dilakukan adalah mengambil sampel tanah dari masing-masing tempat dengan masing-masing kedalaman yaitu dari 0- 15 cm untuk tingkat pertama, 30 cm untuk tingkat kedua dan 45 cm untuk tingkat ketiga, setiap tingkat diambil sebanyak 1-2 kg tanah hasil galian kemudian ditempatkan pada bak-bak dengan diberi tanda sesuai tingkat kedalaman tanah. Bak-bak tersebut disiram dan diamati hingga muncul tunas gulma atau masa dormansi gulma selesai.
            Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Dormansi memiliki beberapa macam jenis yaitu :
1. Dormasi Fisik
Tipe dormansi ini disebut sebagai “benih keras” karena kulit bijinya yang cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan dari embrio. Hal ini disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji terhadap air, resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, dan permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas.
2. Dormansi Fisiologis
Yang terdiri dari Immaturity embrio yaitu beberapa jenis tanaman mempunyai biji dimana perkembangan embrionya tidak secepat jaringan sekelilingnya, After ripening yang sering didapati benih gagal berkecambah walaupun embrio telah terbentuk sempurna dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk berkecambah.
3. Dormansi sekunder
Benih-benih pada keadaan normal mampu berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat kehilangan kemampuan untuk berkecambah.
4. Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio.
Contohnya, keperluan akan cahaya.
            Pada praktikum ini terdapat perbedaan perlakuan untuk mengetahui dormansi jenis gulma di setiap perbedaan tempat. Dari tempat tanah dekat sampah tidak ditemukan sama sekali gulma yang tumbuh pada semua jenis tingkat kedalaman tanah galian, pada tempat terbuka ditemukan gulma Cyperus rotundus sebanyak 4, Asystasia gangetica hanya 1 pada kedalaman 15 cm, pada kedalaman 30 cm ditemukan gulma Asystasia gangetia sebanyak 4, sedangkan pada kedalaman 45 cm sama sekali tidak ada gulma yang tumbuh. Pada tanah tempat tempat tertutup di kedalaman 15 ditemukan gulma Caladium bicolor hanya 1, kedalaman 30 ditemukan jenis gulma Asystasia gangetica sebanyak 4 dan Borreria alata hanya 1 dan pada kedalaman 45 cm ditemukan gulma Moringa oleifera Lam hanya 1, Asystasia gangetica hanya 1 dan Eleusine indica L hanya 1
            Berdasarkan data diatas disimpulkan bahwa pada area tanah tempat sampah Tidak ada gulma yang tumbuh, pada tanah tempat terbuka ditemukan 2 spesies gulma dengan jumlah total 9, dan pada tanah tempat tertutup terdapat 5 spesies gulma dengan jumlah total 9. Dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa pada area tanah tertutup dinilai cukup bagus untuk gulma melakukan dormansi sampai mencapai kondisi gulma tersebut tumbuh.

 KESIMPULAN
            Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam praktikum ini adalah :
1.      Dormansi memiliki beberapa macam jenis yaitu dormansi fisik, fisiologis, sekunder dan yang disebabkan oleh hambatan metabolisme pada embrio.
2.      Pada area pengambilan tanah dekat sampah tidak ditemukan gulma yang tumbuh, pada area tanah tempat terbuka ditemukan 2 spesies gulma yang tumbuh yaitu Asystasia gangetica dan Cyperus rotundus dan pada area tanah tempat tertutup ditemukan 5 spesies gulma yang tumbuh yaitu Asystasia gangelica, Caladium bicolor, Borreria alata, Moringa oleifera Lam dan Eleusine indica L.
3.      Dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa pada area tanah tertutup dinilai cukup bagus untuk gulma melakukan dormansi sampai mencapai kondisi gulma tersebut tumbuh.

 DAFTAR PUSTAKA
Juhanda, Yayuk Nurmiaty dan Ermawati . 2013. Pengaruh Skarifikasi pada Pola Imbibisi dan Perkecambahan Benih Saga Manis (Abruss precatorius L.). Jurnal Agrotek Tropika. ISSN 2337-4993 Vol. 1, No. 1: 45 – 49, Januari 2013. Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Kartasapoetra, A. G. 2003. Teknologi Benih (Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum ). PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Soejadi dan U.S. Nugraha. 2002. Studi perilaku dormansi benih beberapa genotipe            padi, hal 147-153. Dalam E. Murniati et al. (Eds.): Industri Benih di Indonesia. Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih IPB. 291 hal.
Stern, K.R., S. Jansky, J.E. Bidlack., 2004. Introdution Plant Biology. McGraw-Hill Book Company Inc, London
Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih . Raja Grafindo Persada. Jakarta.

                

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGHITUNG KERAPATAN KOLONI BAKTERI DENGAN MENGGUNAKAN COLONY COUNTER

ISOLASI PATOGEN PADA TANAMAN BERGEJALA

AKTIVITAS ENZIM PAPAIN