ANALISIS VEGETASI
ANALISIS
VEGETASI
(Laporan Praktikum
Ilmu Gulma dan Pengendaliannya)
Oleh
:
Samsudin
1710517210017
Kelompok
7
PROGRAM
STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR
ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................
i
DAFTAR TABEL.......................................................................................
ii
PENDAHULUAN......................................................................................
1
Latar Belakang.................................................................................
1
Tujuan.............................................................................................. 3
BAHAN
DAN METODE...........................................................................
4
Alat dan Bahan................................................................................
4
Alat......................................................................................... 4
Bahan...................................................................................... 4
Waktu dan Tempat...........................................................................
4
Prosedur Kerja.................................................................................
4
HASIL
DAN PEMBAHASAN..................................................................
6
Hasil.................................................................................................
6
Pembahasan...................................................................................... 6
KESIMPULAN...........................................................................................
9
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Hasil Pengamatan Vegetasi Gulma…………………………………… 6
Latar Belakang
Tanaman
yang tumbuhnya tidak diinginkan adalah gulma. Gulma di suatu tempat
mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan
obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan
sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian, banyak juga tumbuhan
diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut
umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sembodo, 2010).
Gulma sering kali
menimbulkan berbagai masalah pada lahan pertanian. Kerusakan tanaman atau
penurunan produksi pertanian akibat gulma pada umumnya memiliki korelasi yang
searah dengan populasi gulma itu sendiri. Dalam hal ini faktor yang paling
tampak adalah perebutan penguasaan sarana tumbuh, ruang gerak dan nutrisi
antara tanaman dan gulma. Posisi gulma sebagai tumbuhan yang tidak
diinginkan menyebabkan pengendalian gulma mendapat perhatian lebih. Salah satu
cara untuk mengetahui cara tepat dalam pengendalian gulma adalah dengan
analisis vegetasi (Andrixinata, 2010).
Kebanyakan
Gulma merupakan tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar
biji dalam waktu singkat perkembangbiakan gulma sangat mudah baik secara
generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang
halus, ringan, dan berjumlah sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air,
hewan, maupun manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian
batang yang berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan
membentuk tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon,
rhizomma, dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru (Barus, 2003).
Karena
luas dan keadaan vegetasi yang sangat bervariasi maka yang selalu menimbulkan
pertanyaan adalah berapa luas/jumlah petak contoh yang memedai. Terutama bila
kita hanya menggunakan petak contoh tunggal , luas yang memadai harus kita
tentukan. Luas/jumlah petak-contoh minimal ini berbentuk kaudrat atau
lingkaran, dapat ditentukan dengan menyusun sebuah kurva-jenis (Syakir, 2008).
Konsepsi dan metode
analisis vegetasi sesungguhnya sangat bervariasi, tergantung keadaan vegetasi
itu sendiri dan tujuannya. Misalnya apakah ditujukan untuk mempelajari tingkat
suksesi, apakah untuk evaluasi hasil suatu pengendalian gulma. Metode yang
digunakan harus disesuaikan dengan struktur dan komposisi vegetasi. Untuk areal
yang luas dengan vegetasi semak rendah misalnya, digunakan metode garis (line intersept), untuk pengamatan sebuah
contoh petak dengan vegetai “tumbuh menjalar” (cpeeping) digunakan metode titik (point intercept) dan untuk suatu survei daerah yang luas dan tidak
tersedia cukup waktu, estimasi visual (visual
estimation) mungkin dapat digunakan
oleh peneliti yang sudah berpengalaman. Juga harus diperhatikan keadaan
geologi, tanah, topografi, dan data vegetasi yang mungkin telah ada sebelumnya,
serta fasilitas kerja atau keadaan, seperti peta lokasi yang bisa dicapai,
waktu yang tersedia, dan lain sebagainya; semuanya untuk memperoleh efisiensi.
Pengamatan gulma dilakukan dengan analisis vegetasi untuk penentuan nilai NJD
atau SDR (Nisbah Jumlah Dominasi) dengan perhitungan analisis vegetasi
(Tjitrosoedirdjo et al., 1984).
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali
ini adalah :
1.
Memperoleh gambaran
secara langsung mengenai hubungan didalam penyebaran pertumbuhan gulma pada
suatu lahan.
2.
Memperoleh
gambaran jenis gulma utama yang harus dikendalikan.
3.
Menentukan cara
pengendalian gulma yang efektif dan efisien pada lahan pengamatan
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
Adapun alat yang digunakan dalam
praktikum kali ini yaitu meteran, patok dan timbangan.
Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini
yaitu gulma dan tali rapia.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari
selasa tanggal 5 November 2019, pada pukul 1630-17.30 WITA, di area kampus
Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur Kerja
Adapun
prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
1.
Menyiapkan alat
dan bahan
2.
Menentukan petak
sampel yang berukuran 4×4 meter.
3.
Amati gulma yang
ada pada petakan sampel tersebut, kemudian ambil dan hitung jumlah individu
gulma yang ada
4.
Kemudian lakukan
penimbangan terhadap berat basah asetiap jenis gulma
5.
Ambil sampel
dari setiap jenis untuk dilakukan identifikasi
6.
Tentukan :
a.
Kepadatan mutlak
(KM)
KM = ∑ individu suatu
jenis dalam setiap petak
b.
Frekuensi mutlak
(FM)
FM = ∑ petak contoh
yang ditumbuhi gulma tertentu
c.
Kepadatan nisbi
(KN)
KN = (DM gulma tertentu
/ ∑ nilai KM semua jenis) × 100%
d.
Frekuensi nisbi
(FN)
FN = (FM gulma tertentu
/ ∑ nilai FM semua jenis) × 100%
e.
Dominansi mutlak
(DM)
DM = ∑ semua berat
basah tiap petak
f.
Dominansi nisbi
(DN)
DN = (DM gulma tertentu
/ ∑ nilai FM semua jenis) × 100%
g.
Nilai penting
(SDR)
SDR = (KN% + FN% + DN%)
/ 3
·
Peta petakan
(4×4 meter)
|
V
|
||
|
III
|
IV
|
|
|
I
|
II
|
|
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Hasil
Adapun hasil yang didapatkan dalam
praktikum kali ini adalah :
|
No
|
Jenis gulma
|
Petak
|
KM
|
FM
|
DM
|
KN%
|
FN%
|
DN%
|
SDR
|
||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
|||||||||
|
1
|
Asystasia sp
|
140/250
|
-
|
61/330
|
300/1450
|
-
|
501
|
3
|
2030
|
33,4
|
20
|
23,06
|
25,48
|
|
2
|
Axonopus compressus
|
5/40
|
-
|
55/250
|
6/25
|
410/3600
|
476
|
4
|
3915
|
31,73
|
26,67
|
44,47
|
34,29
|
|
3
|
Ageratum conyzoides
|
3/10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
3
|
1
|
10
|
0,2
|
6,67
|
0,11
|
2,32
|
|
4
|
Asystasia intrusa
|
-
|
70/402
|
-
|
-
|
196/1750
|
266
|
2
|
2152
|
17,73
|
13,33
|
24,45
|
18,50
|
|
5
|
Cynodon dactylon
|
-
|
-
|
-
|
6/90
|
210/500
|
216
|
2
|
590
|
14,4
|
13,33
|
6,70
|
11,47
|
|
6
|
Asystasia gangetica
|
-
|
-
|
-
|
-
|
3/10
|
3
|
1
|
10
|
0,2
|
6,67
|
0,11
|
2,32
|
|
7
|
Cyperus rotundus
|
-
|
-
|
-
|
-
|
34/95
|
34
|
1
|
95
|
2,26
|
6,67
|
1,08
|
3,33
|
|
8
|
Borreria laevis
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1/1
|
1
|
1
|
1
|
0,06
|
6,67
|
0,011
|
2,24
|
|
∑ total
|
3
|
1
|
2
|
3
|
6
|
1500
|
15
|
8803
|
99,62
|
100,01
|
99,991
|
99,95
|
|
Tabel 1. Hasil Pengamatan
Vegetasi Gulma
Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas
tentang vegetasi gulma pada suatu areal yang sebelumnya telah dipatokan atau
batas, hal pertama tanah di buat persegi dengan ukuran 4 dikali 4 meter, kemudian
didalam 4 meter tersebut dibuat lagi petakan sesuai dengan di peta petakan pada
bahan dan metode. Selanjutnya setelah dibuat petak dilakukan penghitungan
spesies dan jumlahnya dengan cara mencabut secara manual gulma tersebut dengan
menggunakan tangan, hal kedua setelah gulma tersebut dicabut maka dihitung
berat nya menggunakan timbangan dan diambil dokumentasi gulma tersebut. Hal ketiga
kemudian tiap spesies dihitung untuk mendapatkan KM (Kepadatan Mutlak), FM (Frekuensi
Mutlak), KN (Kepadatan Nisbi), FN (Frekuensi Nisbi), DM (Dominansi Mutlak), DN
(dominansi nisbi) dan SDR (Nisbah Jumlah Dominasi).
Vegetasi adalah
berbagai macam jenis tumbuhan atau tanaman yang menempati suatu ekosistem.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, vegetasi di definisikan sebagai suatu
bentuk kehidupan yang berhubungan dengan
tumbuh-tumbuhan atau tanam-tanaman. Istilah vegetasi dalam ekologi adalah
istilah yang digunakan untuk menyebut komunitas tumbuh-tumbuhan yang hidup di
dalam suatu ekosistem.
Gulma
dari golongan monokotil pada umumnya disebut juga dengan istilah gulma berdaun
sempit atau jenis gulma rumput-rumputan. Sedangkan gulma dari golongan dikotil
disebut dengan istilah gulma berdaun lebar. Ada pula jenis gulma lain yang
berasal dari golongan teki-tekian (atau golongan sedges).
Pada
pengamatan yang dilakukan dari 5 petak yang diamati, pada petak 1 hanya ada 3 jenis
gulma yaitu asystasia sp., Axonopus compressus dan Ageratum conyzoides, pada petak 2
terdapat 1 jenis gulma yaitu Asystasia
sp.. untuk petak 3 terdapat 2 jenis gulma yaitu Asystasia sp. dan Axonopus
compressus, pada petak 4 terdapat 3 jenis gulma yaitu Asystasia sp., Axonopus
compressus dan Cynodon dactylon, serta pada petak 5 terdapat 6
jenis gulma yaitu Axonopus compressus,
Asystasia intrusa, Cynodon dactylon, Asystasia gangelica, Cyperus
rotundus dan Borreria laevis.
Pada
perhitungan KM didapatkan jumlah total yaitu 1500, pada FM jumlah total yaitu
15, pada DM didapatkan jumlah total 8803, pada KN% didapatkan jumlah total
yaitu 99,62, pada FN% didapatkan jumlah total yaitu 100,01, pada DN% didapatkan
jumlah total yaitu 99,991 dan pada SDR didapatkan jumlah total yaitu 99,95.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil oleh
praktikum ini adalah :
1.
Pada petak 1 didapatkan 3 jenis gulma,
petak 2 didapatkan hanya 1 jenis gulma, petak 3 didapatkan 2 jenis gulma, petak
4 didapatkan 3 jenis gulma dan pada petak 5 didapatkan 6 jenis gulma.
2.
Spesies gulma yang mendominasi adalah Axonopus compressus karena terdapat
dalam 4 petak yaitu petak 1, petak 3, petak 4 dan petak 5.
3.
Spesies gulma yang paling sedikit yaitu
jenis gulma Borreria laevis yaitu
hanya 1 dan ditemukan pada petak 5 saja..
DAFTAR PUSTAKA
Andrixinata. 2010. Laporan
Pengendalian Gulma Analisis Vegetasi Gulma. Departemen Agronomi Hortikultura.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat.
Barus,
Emanuel .2003. Pengendalian Gulma Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta.
Sembodo,
D.R.J. 2010. Gulma dan Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Syakir, M. 2008. Pemanfaatan
limbah sagu sebagai pengendalian gulma pada lada perdu. Jurnal Littri Vol. 14
No. 3 : 107 – 112.
Tjitrosoedirdjo, S., H. Utomo, dan
J. Wiroatmodjo., 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT Gramedia.
Jakarta.
Komentar
Posting Komentar