PENGAMATAN MORFOLOGI BINTIL AKAR
PENGAMATAN MORFOLOGI BINTIL AKAR
(Laporan
Praktikum Biokimia Tanaman)
Oleh
:
Samsudin
1710517210017
Kelompok
Oksigen (O2)
PROGRAM
STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR
ISI...............................................................................................
i
DAFTAR
TABEL.......................................................................................
ii
PENDAHULUAN......................................................................................
1
Latar Belakang.................................................................................
1
Tujuan.............................................................................................. 3
TINJAUAN
PUSTAKA........................................................................... 4
BAHAN
DAN METODE...........................................................................
7
Alat dan Bahan................................................................................
7
Alat......................................................................................... 7
Bahan...................................................................................... 7
Waktu dan Tempat...........................................................................
7
Prosedur Kerja.................................................................................
7
HASIL
DAN PEMBAHASAN..................................................................
9
Hasil.................................................................................................
9
Pembahasan...................................................................................... 10
KESIMPULAN
DAN SARAN..................................................................
12
Kesimpulan...................................................................................... 12
Saran................................................................................................ 12
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR
TABEL
Nomor Halaman
1.
Hasil Pengamatan Bintil
Akar Tanaman Kacang Tanah................... 9
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kacang tanah
merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting dalam pola menu
makanan penduduk. Di masyarakat, kacang tanah ini memiliki beberapa nama antara
lain kacang cina, kacang brol, dan kacang brudul (Jawa). Kacang tanah adalah
komoditas agrobisnis yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan salah
satu sumber protein dalam pola pangan penduduk Indonesia. Kebutuhan kacang
tanah dari tahun ketahun terus meningkat, sejalan dengan bertambahnya jumlah
penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, kapasitas industri pakan dan makanan
Indonesia (Fachruddin, 2000).
Polong kacang
tanah berkulit keras dan berwarna putih kecoklatan dan setiap polong mempunyai
1-4 biji. Polong terbentuk setelah terjadi pembuahan. Bakal buah tersebut
tumbuh memanjang, hal ini disebut ginofor yang akan menjadi tangkai polong.
Ginopor terbentuk diudara, sedangkan polong terbentuk di dalam tanah. Biji
kacang tanah berbentuk agak bulat sampai lonjong, terbungkus kulit biji tipis
berwarna putih dan merah (Marzuki, 2007).
Tanaman kacang
tanah dapat tumbuh pada iklim yang panas tetapi sedikit lembab (RH 65% - 75%),
dan curah hujan tidak terlalu tinggi, yakni antara 800-1300 mm/tahun serta
musim kering rata-rata sekitar 4 bulan/tahun dan pada saat berbunga tanaman
kacang tanah mengendaki keadaan yang lembab sehingga kuncup buah dapat menembus
tanah dengan baik. Di Indonesia pada umumnya kacang tanah ditanam di daerah
dataran rendah dengan ketinggian maksimal 1.000 m dpl dan daerah yang paling
cocok untuk tanaman kacang tanah adalah daerah dataran dengan ketinggian 0-500
m dpl (Cahyono, 2007).
Kacang tanah
memerlukan sinar matahari penuh dan dengan adanya keterbatasan cahaya matahari
akibat adanya naungan atau terhalang oleh tanaman akan mengakibatkan turunnya
hasil produksi kacang tanah yang disebabkan karena cahaya mempengaruhi proses
fotosintesis dan respirasi (Pitojo, 2005).
Kacang tanah (Arachis
hypogaea L.) secara ekonomi merupakan tanaman kacang-kacangan yang
menduduki urutan kedua setelah kedelai, sehingga berpotensi untuk dikembangkan
karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar dalam negeri yang cukup
besar. Biji kacang tanah dapat digunakan langsung untuk pangan dalam bentuk
sayur, di goreng atau di rebus, dan sebagai bahan baku industri seperti keju,
sabun dan minyak, serta brangkasannya untuk pakan ternak dan pupuk. Hasil
tanaman kacang tanah di Indonesia tergolong rendah, karena masih berada di
bawah potensi produksi. Hasil kacang tanah lokal baru mencapai 1,45 ton ha-1 ,
lebih rendah dibanding dengan potensi hasil varietas unggul seperti; varietas
Panter dan Singa yang dapat mencapai hasil 4,5 ton ha-1 . Salah satu cara yang
dapat digunakan untuk mengurangi kepadatan tanah dan cukup baik ditinjau dari
aspek ekologis adalah dengan pemberian pupuk organik dari kotoran hewan (pupuk
kandang). Hal positif yang diperoleh dari pemberian pupuk organik tersebut
adalah dapat memperbaiki sifat fisik dan struktur tanah, meningkatkan KTK tanah
dan kapasitas menahan air (Marzuki, 2007).
Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui letak bentuk dan ukuran serta
mengamati aktivitas bakteri pada bintil akar.
TINJAUAN PUSTAKA
Bakteri berasal
dari kata bakterion (bahasa Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Bentuk
bakteri dibagi atas tiga golongan, yaitu golongan basil (tongkat/batang),
golongan kokus (bulat), dan spiril (bengkok). Bentuk tubuh bakteri dipengaruhi
oleh keadaan medium dan usia bakteri (Dwijoseputro, 2010).
Bakteri
merupakan mikroba uniseluler, pada umumnya tidak mempunyai klorofil. Ada
beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksual dengan pembelahan sel.
Bakteri umumnya berukuran kecil dengan karakteristik dimensi sekitar 1 µm. Sel
dapat tunggal ataupun rantaian. Beberapa kelompok memiliki flagella dan dapat
bergerak aktif. Bakteri memiliki berat jenis 1,05-1,1 g cm -3 dan berat sekitar
10-12 g sebagai partikel kering, bentuknya ada bulat (cocci), batang (bacil)
dan lengkung. Bentuk bakteri dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan
tertentu. Bakteri dikenal dengan bentuk yang disebut involusi, yaitu perubahan
bentuk yang disebabkan karena faktor-faktor keadaan sekitar yang tidak menguntungkan
seperti faktor makanan, suhu dan hal lain yang kurang menguntungkan bagi
bakteri. Selain bentuk involusi dikenal pula pleomorfi, yaitu bentuk yang
bermacam-macam dan teratur yang terdapat pada suatu bakteri meskipun
ditumbuhkan pada syarat-syarat pertumbuhan yang sesuai (Hidayat et al.,
2006).
Rhizobium
merupakan bakteri yang mampu bersimbiosis dengan tanaman leguminosa. Akar
tanaman akan mengeluarkan suatu zat yang merangsang aktifitas bakteri
Rhizobium. Apabila bakteri sudah bersinggungan dengan akar rambut, akar rambut
akan mengeriting. Setelah memasuki akar, bakteri 5 berkembang biak ditandai
dengan pembengkakan akar. Pembengkakan akar akan semakin besar dan akhirnya
terbentuklah bintil akar (Hidayat et al., 2006).
Bakteri
Rhizobium adalah kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai penyedia hara bagi
tanaman. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada di
dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan Rhizobium terhadap pertumbuhan
tanaman khususnya berkaitan dengan masalah ketersediaan hara bagi tanaman
inangnya. Simbiosis ini menyebabkan bakteri Rhizobium dapat menambat nitrogen
dari atmosfir, dan selanjutnya dapat digunakan oleh tanaman inangnya (Sari,
2010).
Rhizobium yang
berasosasi dengan tanaman legume mampu menfiksasi 100-300 kg N/ha dalam satu
musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan
yang perlu diperhatikan adalah efisiensi inokulan rhizobium untuk jenis tanaman
tertentu. Rizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legume dan
meningkatkan produksi anatara 10 % - 25%. Tanggapan tanaman sangat bervariasi
tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto, 2002).
Simbiosis antara
Rhizobium dengan Leguminose dicirikan oleh struktur bintil akar pada tanaman inang
(leguminoseae). Pembentukan bintil akar dimulai dengan sekresi produk
metabolism tanaman ke daerah perakaran yang menstimulasi pertumbuhan
bakteri. Proses pembentukan bintil akar di awaali dengan kolonisasi
bakteri bintil akar di rhizosfer tanaman kacang-kacangan (Rahmawati, 2005).
Secara umum,
fiksasi nitrogen biologis sebagai bagian dari input nitrogen untuk mendukung
pertumbuhan tanaman telah menurun akibat intensifikasi pemupukan anroganik.
Penurunan penggunaan pupuk nitrogen yang nyata agaknya hanya dapat dicapai jika
agen biologis pemfiksasi nitrogen diintegrasikan dalam sistem produksi tanaman
(Hindersah, 2004).
Nitrogen
merupakan suatu unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah
banyak, yang berfungsi sebagai penyusun protein dan penyusun enzim. Tanaman
memerlukan suplai nitrogen pada semua tingkat pertumbuhan, terutama pada awal
pertumbuhan, sehingga adanya sumber N yang murah akan sangat membantu
mengurangi biaya produksi. Jika unsur nitrogen terdapat dalam keadaan kurang,
maka pertumbuhan dan produksi tanaman akan terganggu. (Armiadi, 2009).
Alat dan Bahan
Alat
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Alat tulis, Lembar Pretest,
Lembar Laporan Sementara, Tabung Reaksi, Mortal dan Pestel.
Bahan
Adapun
bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanaman Kacang Tanah, tanaman Kedelai, Legume Cover Crop/ LCC (Arachis pintoi),
Akuades.
Waktu dan Tempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Kamis,
tanggal 4 April 2019, pukul 09.50-11.30
WITA. Di laboraturium Kimia Analisis Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur Kerja
Adapun prosedur
kerja praktikum kali ini adalah :
1. Membersihkan
bintil akar dari tanah yang melekat pada akar tanaman.
2. Mengamati
dan menggambarkan letak bentuk dan
ukuran bintil akar dari tanaman tersebut.
3. Menghancurkan
bintil akar dengan mortal dan pestel.
4. Masukkan ke dalam
tabung reaksi.
5. Menambah
kan akuades
6. Mengamati
aktivitas bakteri
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun
hasil pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Bintil Akar Tanaman Kacang
Tanah
Gambar
|
Keterangan
|
1. Jumlah
percabangan akar ada 6 cabang.
2. Jumlah
dan jarak rata-rata bintil akar tiap percabangan yaitu :
·
Cabang ke-1 terdapat 10 bintil akar (3
bintil besar dan 7 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 2,3 cm + 1 cm + 1
cm + 1,1 cm + 0,2 cm + 0,4 cm + 0,3 cm + 0,4 cm + 0,3 cm = 7 cm / 2 = 3,5 cm.
·
Cabang ke-2 terdapat 2 bintil akar (1
bintil besar dan 1 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,4 cm / 2 = 0,2
cm
·
Cabang ke-3 terdapat 4 bintil akar (2
bintil besar dan 2 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,4 cm + 0,4 cm +
0,5 cm = 1,3 cm / 2 = 0,65 cm.
·
Cabang ke-4 terdapat 4 bintil akar (1
bintil besar dan 3 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,1 cm + 0,5 cm +
0,3 cm = 0,9 cm / 2 = 0,45 cm.
·
Cabang ke-5 terdapat 2 bintil akar
(tidak ada bintil besar dan 2 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,2 cm
/ 2 = 0,1 cm.
·
Cabang ke-6 terdapat 2 bintil akar (1
bintil besar dan 1 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,6 cm / 2 = 0,3
cm.
3. Jumlah
bintil akar keseluruhan adalah 24 bintil akar, tidak ada bintil akar yang
aktif.
|
|
Pembahasan
Pada
praktikum kali ini membahas tentang pengamatan morfologi bintil akar, bahan
yang digunakan bintil dari tanaman kacang tanah, pertama membersihkan bintil
akar secara hati-hati dari tanah menggunakan air yang mengalir, pastikan tidak
ada lagi tanah yang menempel pada bintil akar tersebut. Selanjutnya melakukan
pengamatan dengan melihat semua cabang
perakaran, lalu menghitung jumlah bintil besar dan bintil kecil pada setiap
percabangan yang telah dihitung sebelumnya, serta jarak rata-rata bintil akar
tersebut. Selanjutnya dokumentasikan untuk memudahkan saat menggambar letak
bentuk, ukuran bintil akar tersebut. Kemudian memecahkan satu persatu bintil
akar menggunakan tangan jika ukuran bintil rata-rata kecil dan jumlahnya
sedikit, tetapi jika bintil berukuran besar dan jumlahnya banyak maka menggunakan
mortal dan pestel
Pada
saat pengamatan didapatkan jumlah percabangan akar ada 6 cabang. jumlah dan
jarak rata-rata bintil akar tiap percabangan yaitu pada Cabang ke-1 terdapat 10
bintil akar (3 bintil besar dan 7 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 2,3
cm + 1 cm + 1 cm + 1,1 cm + 0,2 cm + 0,4 cm + 0,3 cm + 0,4 cm + 0,3 cm = 7 cm /
2 = 3,5 cm. Cabang ke-2 terdapat 2 bintil akar (1 bintil besar dan 1 bintil
kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,4 cm / 2 = 0,2 cm. Cabang ke-3 terdapat 4
bintil akar (2 bintil besar dan 2 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,4
cm + 0,4 cm + 0,5 cm = 1,3 cm / 2 = 0,65 cm. Cabang ke-4 terdapat 4 bintil akar
(1 bintil besar dan 3 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,1 cm + 0,5 cm
+ 0,3 cm = 0,9 cm / 2 = 0,45 cm. Cabang ke-5 terdapat 2 bintil akar (tidak ada
bintil besar dan 2 bintil kecil). Jarak rata-ratanya adalah 0,2 cm / 2 = 0,1
cm. Cabang ke-6 terdapat 2 bintil akar (1 bintil besar dan 1 bintil kecil).
Jarak rata-ratanya adalah 0,6 cm / 2 = 0,3 cm.
Jumlah bintil
akar keseluruhan adalah 24 bintil akar, tidak ada bintil akar yang aktif karena
pada saat pemecahan bintil akar menggunakan tangan (secara manual) tidak
ditemukan bagian dalam bintil akar tidak berwarna merah cerah , sedangkan jika
berwarna merah menandakan bahwa bakteri rhizobium tersebut aktif dalam
melakukan fiksasi nitrogen ,namun jika berwarna coklat atau hitam menandakan
bakteri didalam bintil akar tersebut tidak aktif atau mati. Rhizobium tersebut
mungkin telah tidak aktif lagi sebelum diambil dikarenakan tanah perakaran
tanaman tersebut mungkin kurang air atau kekeringan, umur tanaman yang terlalu
tua atau bisa juga karena tanaman tersebut merupakan tanaman sisa-sisa panen
petani yang dibiarkan begitu saja.
Mikroorganisme
tanah seperti bakteri, fungi, actinomycetes juga berpengaruh merangsang atau
menghambat aktivitas rhizobium, misalnya kegagalan membentuk bintil di bagian
tertentu akibat adanya mikroorganisme antagonistik terhadap rhizobium di dalam
tanah. Keasaman tanah dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
berkrangnya populasi rhizobium dalam tanah. Penetralan tanah dengan kalsium
hidroksida atau kalsium karonat mengembalikan kondisi menjadi menguntungkan
bagi pekembangbiakan rhizobium. Temperatur mempempengaruhi pertumbuhan maupun
kelestarian rhizobium. Fungisida, herbisida dan pelindung tanaman yang lain
mungkin terbukti beracun bagi rhizobium dan mengurangi inokulum dalam tanah.
Kerentanan rhizobium terhadap bahan-bahan kimia ini berbeda antar spesies yang
berbeda.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari
praktikum kali ini adalah
1. Pada
akar tanaman kacang tanah yang diamati memiliki 6 cabang perakaran dan semua
cabang memiliki bintil akar.
2. Pada
cabang ke-1 ditemukan paling banyak bintil akar yaitu 10 bintil akar yang
terdiri 3 bintil besar dan 7 bintil kecil
3. Pada
cabang ke-5 ditemukan hanya 2 bintil akar namun tidak ada bintil besar, semua
bintil cabang ke-5 adalah bintil kecil
4. Jumlah
bintil akar semua percabangan adalah 24 dan semua bintil akar tersebut bakteri
rhizobium tidak aktif.
Saran
Sebaiknya
ruangan laboratorium memiliki pendingin ruangan agar tidak membuat praktikan
kegerahan saat melakukan praktikum, saat kegiatan praktikum berlangsung para asisten diharap memperhatikan
praktikan melakukan proses demi proses praktikum yang dilakukan oleh para
praktikan.
DAPTAR PUSTAKA
Armiadi. 2009. Penambatan Nitrogen secara Biologis pada Tanaman
Leguminosa. Wartazoa. 19(1) : 17-24.
Cahyono, B. 2007. Kedelai. CV.
Aneka Ilmu. Semarang.
Dwidjoseputro. 2010. Dasar Dasar
Mikrobiologi. Penerbit Djembatan. Jakarta.
Fachruddin, L. 2000. Budidaya
Kacang Kacangan. Kanisius. Yogyakarta.
Hidayat N., dkk. 2006. Mikrobiologi
Industri. Kanisius. Yogyakarta.
Hindersah,
R dan T. simarmata. 2004. Kontribusi Rizobakteri Azotobacter dalam
Meningkatkan Kesehatan Tanah Melalui
Fiksasi N2 dan Produksi Fitohormon di Rizosfir. Jurnal Natur
Indonesia. 6:127-133.
Marzuki, R. 2007. Bertanam Kacang
Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pitojo, S. 2005. Benih Kacang
Tanah. Kanisius. Yogyakarta.
Rahmawati,
N. 2005. Pemanfaatan Biofertilizer pada Pertanian Organik. Fakultas
Pertanian.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Sari,
R. F. 2010. Optimasi Aktivitas Selulase Ekstraseluler dari Isolasi Bakteri RF,
10. Skripsi
Fakultas Studi Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Susanto, R. 2002. Penerapan
Pertanian Organik. Penerbit Kasinius. Yogyakarta.
Rahmawati,
N. 2005. Pemanfaatan Biofertilizer pada Pertanian Organik. Fakultas
Pertanian.
Universitas Sumatera Utara. Medan.
Komentar
Posting Komentar