CARA ISOLASI PATOGEN TULAR TANAH
CARA ISOLASI PATOGEN TULAR TANAH
(Laporan
Praktikum Patogen Tular Tanah)
Oleh
:
Samsudin
1710517210017
Kelompok
5
PROGRAM
STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................
i
DAFTAR TABEL.......................................................................................
ii
PENDAHULUAN......................................................................................
1
Latar Belakang.................................................................................
1
Tujuan.............................................................................................. 4
TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................. 5
BAHAN
DAN METODE...........................................................................
8
Alat dan Bahan................................................................................
8
Alat......................................................................................... 8
Bahan...................................................................................... 8
Waktu dan
Tempat...........................................................................
8
Prosedur
Kerja.................................................................................
8
HASIL
DAN PEMBAHASAN..................................................................
11
Hasil.................................................................................................
11
Pembahasan...................................................................................... 16
KESIMPULAN...........................................................................................
18
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR
TABEL
Nomor Halaman
1. Cara Isolasi dari Tanah...................................................................... 11
2. Cara Isolasi dari Tanaman…............................................................. 13
3. Hasil
Isolasi....................................................................................... 15
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Cabai
merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum
sp. Awalnya tanaman cabai tumbuh didaratan Amerika selatan dan Amerika
Tengah, termasuk Meksiko, kira-kira sejak 2500 tahun sebelum masehi. Masyarakat
yang pertama kali memanfaatkan dan mengembangkan cabai adalah orang Inca di
Amerika Selatan, orang maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko.
Mereka memanfaatkan tanaman berbuah pedas tersebut sebagai bumbu penyedap makanan
mereka. Salah satu prasasti yang ditemukan di Amerika juga memperlihatkan bahwa
pimpinan terakhir Aztek, Montezuma, selalu meminum cokelat kekaisaran yang
diberi dengan bubuk cabai untuk sarapan (Harpenas dan Dermawan, 2010).
Masuknya cabai
ke Indonesia belum ditemukan keterangan pasti, namun sudah sejak dahulu kala
dibudidayakan di berbagai daerah, baik di dataran rendah, di dataran menengah,
maupun di dataran tinggi. Di Indonesia, tanaman cabai tersebar luas di berbagai
daerah, tetapi sebagai pusat penyebaran penting ialah Purworejo, Kebumen,
Tegal, Pekalongan, Pati, Padang, Bengkulu, dan daerah lain (Prajnanta, 2007).
Tanaman Cabai (Capsicum
annuum L.) adalah tumbuh-tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya
berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Saat ini cabai menjadi
salah satu komoditas sayuran yang banyak di butuhkan masyarakat, baik
masyarakat lokal maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabai,
semakin bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara.
Budidaya ini menjadi peluang usaha yang
masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga
berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor (Santika, 2008).
Dalam budidaya
cabai salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produksi
adalah pemilihan jenis cabai. Cabai keriting mempunyai
kelebihan tahan terhadap kelembapan udara. Cabai keriting memiliki
beberapa manfaat selain dijadikan sebagai bahan penyedap makanan,
cabai keriting juga bisa dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk olahan
seperti saos cabai, sambel cabai, pasta cabai, bubuk cabai, cabai kering,
dan produk instan. Bahkan produk-produk tersebut sudah berhasil diekspor
ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, Brunei Darussalam dan India (Santika,
2008).
Budidaya
Cabai Keriting memberikan keuntungan yang menarik,
tetapi budidaya cabai keriting juga sering menemui
kegagalan dan kerugian besar. Untuk menghindari kegagalan tersebut,
dilakukan aplikasi teknologi yang tepat guna, yaitu Teknologi
Enzymatis. Teknologi Enzymatis merupakan teknologi baru
yang sangat tepat untuk menghadapi permasalahan yang ada pada budidaya
cabai. Dilihat dari kandungan gizi dan manfaat yang dimiliki cabai, maka cabai
juga penting dikomsumsi oleh manusia. Untuk itu pembudidayaan tanaman cabai
harus diperhatikan agar produksi tanaman cabai meningkat dari tahun ketahun.
Dalam satu periode tanam, cabai dapat dipanen beberapa kali bila musim dan perawatannya
baik dapat dipanen 15-17 kali, namun umumnya sebanyak 10-12 kali. Perawatan
tanaman cabai lebih rumit dibandingkan dengan perawatan tanaman hortikultura
lainnya, sehingga biaya perawatannya lebih mahal rendahnya produksi juga dapat
membuat harga cabai meningkat (Tuhumury dan Amanupunyo, 2013).
Batang utama
cabai tegak dan pangkalnyakayu dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5
cm. Batang percabanganberwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter
batang percabanganmencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau
menggarpu, tumbuhnyacabang beraturan secara berkesinambungan. Batang
cabai
memiliki batang berkayu, berbuku-buku, percabangan lebar,penampang bersegi,
batang muda berambut halus berwarna hijau. Tanaman cabai berbatang tegak yang
bentuknya bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 50-150 cm, merupakan
tanaman perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas yang dibatasi dengan
buku-buku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2 cm
(Hewindati, 2006).
Tanaman cabai
sangat cocok ditanam pada ketinggian 0-500 m dpl dengan suhu antara 190-
300 C dan curah hujan 1.000-3.000 mm/tahun. Tanaman cabai membutuhkan
tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara serta dapat tumbuh optimal
pada tanah regosol dan andosol dengan pH tanah antara 6 - 7. Untuk menghindari
genangan air pada lahan, Untuk penanaman cabai keriting lebih baik pada lahan
yang agak miring dengan tingkat kemiringan tidak lebih dari 250.
Lahan yang terlalu miring dapat menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena
tercuci oleh air hujan (Rahman, 2010).
Tujuan
Adapun
tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui cara isolasi patogen
tular tanah.
TINJAUAN PUSTAKA
Isolasi adalah
cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya,
sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur
yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Isolasi
dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode cawan tuang dan metode cawan
gores. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba
tertentudari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.
Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari
satu sel tunggal. Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan
murni yaitu, cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau
penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada
hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan (Waluyo, 2007).
Media berfungsi
untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat
fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya
harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi
pada media. Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA
juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak
selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media
sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah
satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa
dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan
sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni
dengan cara disterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit (Fathir et
al., 2009).
Delapan bakteri
yang telah diuji dan dipilih untuk dilakukan karakterisasi pertumbuhannya
dengan membandingkan kecepatan pertumbuhan bakteri tersebut pada media ekstrak
tanah yang mengandung sikloheksimid dengan media NA. Waktu yang dibutuhkan
untuk tumbuh pada kedua media berbeda, pada media ekstrak tanah membutuhkan
waktu dua hari, sedangkan pada media NA hanya 1 hari, hal ini karena media NA adalah media yang kaya nutrisi, sedangkan media ekstrak tanah media
yang selektif untuk pertumbuhannya. Isolat bakteri yang diduga dan diharapkan
tumbuh pada media ekstrak tanah ini adalah Actinomycetes yaitu kelompok
bakteri bakteri Gram-positif yang memiliki kandungan tinggi G + C. Umumnya
bakteri ini dibagi dua kelompok yaitu kelompok Streptomyces dan non strepmyces
atau actonomycetes. Bakteri kelompok ini umum dan berlimpah di alam seperti
bahan-bahan organik. Actinomycetes juga penting sebagai sumber bakteri
penghasil antibiotika (Panagan, 2011).
Identifikasi
bakteri merupakan suatu usaha untuk mengetahui jenis serta nama suatu
mikroorganisme dalam satu kelompok tertentu berdasarkan karakteristik persamaan
dan perbedaan yang dimiliki oleh masing masing mahluk hidup. Identifikasi
bakteri dilakukan dengan membanding bandingkan ciri ciri yang ada dengan
bakteri yang belum diketahui sebelumnya. Identifikasi bakteri yang baru
diisolasi memerlukan deskripsi, perincian dan perbandingan yang cukup dengan
deskripsi yang telah di publikasikan untuk mikroorganisme yang serupa (Suryanto,
2004).
Teknik isolasi
mikroba adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba diluar dari lingkungan
alamiahnya. Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara,
substrat yang berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Jenis mikroorganismenya
dapat berupa bakteri, khamir, jamur, kapang dll. Populasi mikroba di lingkungan
sangat beranekaragam sehingga dalam mengisolasi diperlukan beberapa tahap
penanaman sehingga berhasil diperoleh koloni tunggal. Koloni yang tunggal ini
kemudian yang akan diperbanyak untuk suatu tujuan penelitian misalnya untuk
mengisolasi DNA mikroba yang dapat mendeteksi mikroba yang telah resistem
terhadap suatu antibiotik.atau untuk mengetahui mikroba yang dipakai untuk
bioremediasi holokarbon (Ani, 2002).

BAHAN
DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah cawan petri, botol kaca,
laminar air flow, tabung reaksi, jarum ose, shaker, suntikan, rak tabung reaksi,
lampu bunsen, neraca analitik, pisau, gelas beaker dan vortex.
Bahan
Adapun bahan
yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanaman yang terserang, cling
warp, media pda, aluminium foil, media NA, tisu, alkohol 70%, natrium
hipoklorit (naocl) dan air steril
Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 28 Maret 2019, pada pukul 14.50-16.50
WITA. Di laboraturium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas
Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.
Prosedur Kerja
Adapun prosedur
kerja yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah :
A. Isolasi
Tanah
1. Menimbang
tanah sebanyak 10 gram menggunakan neraca analitik
2. Memasukkan
tanah kedalam botol kaca kemudian campurkan air steril sebanyak 90 ml
3. Membalut
bagian mulut botol kaca dengan aluminium foil lalu eratkan
4. Shaker
botol kaca yang berisi isolat tanah selama 30 menit dan sampai larutan homogen
5. Mengambil
isolat tanah dengan suntikan sebanyak 0,1 ml kemudian campurkan dengan 9 ml,
kemudian Portex hingga laporan homogen
6. Sterilkan
tangan sebelum melakukan isolasi dibawah laminar air flow (LAF) dengan 70%
7. Membuka
cling warp pada media NA dengan memanaskan cawan petri yang berisi media NA
dengan menggunakan lampu bunsen
8. Memijarkan
jarum suntikan dibawah bunsen, kemudian mengambil isolat tanah sebanyak 1 ml
menggunakan suntikan
9. Memijarkan
segitiga perata dibawah lampu bunsen
10. Membuka
cawan petri yang berisi media NA kemudian semprotkan isolat tanah yang telah
diambil sebelumnya ratakan dengan segitigan perata sampai seluruh permukaan
media NA
11. Menutup
cawan kemudian balut dengan cling warp
12. Berilah
label untuk memudahkan pengamatan
B. Isolasi
Pangkal Batang dan Batang Tanaman
1. Memotong
kecil 2 potongan kecil bagian dari pangkal batang dan 2 potongan kecil dari
batang tanaman yang terserang menggunakan pisau secara hati-hati
2. Sterilkan
potongan pangkal batang dan batang dengan menggunakan NaOCl selama 1 menit
kemudian memindahkan potongan tersebut dengan pinset kedalam cawan petri yang
berisi air steril selanjutnya letakkan diatas tisu untuk dikeringkan
3. Sterilkan
tangan sebelum melakukan isolasi LAF menggunakan alkohol 70%
4. Membuka
cling warp yang berisi media media NA kemudian pijarkan pinggiran cawan petri
dibawah lampu bunsen
5. Memanaskan
pinset dibawah lampu bunsen, kemudian mengambil potongan isolat pangkal batang
dan batang selanjutnya letakkan didalam cawan petri, atur sehingga mudah
melakukan pengamatan
6. Menutup
cawan petri lalu pijarkan pinggiran cawan petri selanjutnya balutlah dengan
cling warp
7. Berilah
label untuk memudahkan pengamatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Adapun
hasil praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Cara Isolasi dari Tanah
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
1
|
![]() |
Tanah yang akan dijadikan isolat
|
2
|
![]() |
Proses memasukkan tanah yang sudah ditimbang
sebelumnya kedalam botol kaca.
|
3
|
![]() |
Proses menshaker botol kaca yang berisi suspensi selama
± 20 menit dengan kecepatan 150 rpm.
|
4
|
![]() |
Proses mengambil suspensi tanah yang telah
dishaker menggunakan suntikan
|
Tabel
1. Lanjutan
5
|
![]() |
Proses memvortex suspensi sebelumnya yang
dimasukkan kedalam tabung reaksi hingga suspensi menjadi homogen
|
6
|
![]() |
Proses menyebarkan suspensi tanah yang telah
divortex sebelumnya keatas permukaan media NA sebanyak 1 ml.
|
7
|
![]() |
Proses meratakan bagian permukaan media NA dengan segtiga
perata
|
8
|
![]() |
Proses memijarkan pinggiran cawan petri yang telah
dimasukkan suspensi sebelumnya
|
9
|
![]() |
Proses membalut pinggiran cawan petri dengan cling
warp
|
Tabel
1. Lanjutan
10
|
![]() |
suspensi tanah yang siap diamati setelah diberi
label sebelumnya
|
Tabel 2. Cara Isolasi dari Tanaman
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
1
|
![]() |
Bagian pangkal batang dan batang tanaman yang akan
dijadikan isolat.
|
2
|
![]() |
Proses memotong bagian pangkal batang dan batang
tanaman dengan pisau
|
3
|
![]() |
Proses mencelupkan potongan pangkal batang dan
batang tanaman dengan NaOCl selama 1 menit kemudian dicelupkan pada air
steril.
|
4
|
![]() |
Proses mengeringkan potongan pangkal batang dan
batang yang telah dicelupkan sebelumnya
|
Tabel
2. Lanjutan
5
|
![]() |
Proses memijarkan bagian pinggir media NA sebelum
diletakkan isolat.
|
6
|
|
Proses meletakkan potongan isolat dengan pinset
|
7
|
![]() |
Potongan isolat telah diletakkan pada empat sisi
dari cawan petri agar memudahkan saat pengamatan.
|
8
|
![]() |
Proses memijarkan bagian pinggir media NA yang
didalamnya berisi potongan isolat pangkal batang dan batang.
|
9
|
![]() |
Proses membalut cawan petri dengan cling warp.
|
Tabel
2. Lanjutan
10
|
![]() |
Cawan petri yang berisi potongan isolat pangkal
batang dan batang dan siap untuk diamati sebelummnya diberikan label.
|
Tabel 3. Hasil isolasi
No
|
Gambar
|
Gambar
|
Keterangan
|
1
|
![]()
A. Isolat
tanah pada hari pertama.
|
![]()
B. Isolat
pangkal batang dan batang pada hari pertama.
|
A. Pada
isolat tanah belum ditemukan yang tumbuh.
B. Pada
isolat pangkal batang dan batang tanaman belum ditemukan.
|
2
|
![]()
A. Isolat
tanah pada hari kedua.
|
![]()
B. Isolat
pangkal batang dan batang pada hari kedua.
|
A. Pada
isolat tanah telah ditemukan 3 koloni bakteri.
B. Pada
isolat pangkal batang dan batang tanaman ditemukan hifa pada semua isolat
potongan.
|
3
|
![]()
A. Isolat
tanah pada hari ketiga.
|
![]()
B. Isolat
pangkal batang dan batang pada hari ketiga.
|
A. Pada
isolat tanah banyak ditemukan koloni bakteri yang tumbuh dan hampir menutupi
2/3 bagian media NA.
B. Pada
isolat pangkal batang dan batang tanaman ditemukan selain bakteri yang tumbuh
terdapat juga cendawan.
|
Pembahasan
Pada praktikum
ini kami melakukan isolasi tanah , pangkal batang tanaman dan batang tanaman
cabai yang diduga terkena serangan oleh jenis patogen tular tanah yaitu
bakteri. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat suspensi tanah dengan cara
menimbang 10 gram, lalu dimasukkan kedalam botol kaca, kemudian masukkan air
steril sebanyak 90 ml lalu tutup dengan aluminium foil selanjutnya di shaker
dengan kecepatan 150 rpm selama kurang lebih 20 menit. Lalu ambil suspensi
tanah tersebut dengan suntikan sebanyak 1 ml kemudian pindahkan kedalam tabung
reaksi yang sebelumnya air steril sebanyak 9 ml, lalu vortex hingga suspensi
tersebut homogen. Selanjutnya melakukan isolasi dengan media NA dibawah Laminar
Air Flow (LAF) dan diberi label untuk memudahkan saat pengamatan.
Sedangkan pada
isolasi dari pangkal batang dan batang tanaman hal pertama yang dilakukan
adalah memotong bagian pangkal batang dan batang tersebut masing-masing 2
potongan, lalu potongan tersebut dicelupkan kedalam cawan petri yang berisi
NaOCl selama 1 menit dan tenggelamkan, kemudian celupkan kembali kedalam cawan
petri yang berisi air steril sejumlah 3 cawan secara bergantian lalu keringkan
diatas tisu. Selanjutnya melakukan isolasi dengan media NA dibawah Laminar Air
Flow (LAF) dan diberi label untuk pengamatan selanjutnya. Tujuan merendam
bagian potongan pangkal batang dan batang tanaman adalah untuk mensterilkan
atau meminimalkan kontaminan yang nantinya tumbuh didalam media.
Pengamatan
dilakukan selama 3 hari dari hari jum’at sampai hari minggu dan didapatkan
hasil sebagai berikut Pada
hari pertama baik pada media NA yang berisi isolat tanah maupun pangkal batang
dan batang tanaman tidak ditemukan patogen apapun yang tumbuh diatas permukaan
media NA. Pada hari kedua pada isolat tanah ditemukan beberapa koloni bakteri
tumbuh pada media NA sedangkan pada pada isolat pangkal batang dan batang
tanaman ditemukan beberapa hifa tumbuh pada beberapa potongan isolat. Pada hari
ketiga pada isolat tanah koloni bakteri yang hampir menutupi 2/3 bagian
permukaan dari media NA sedangkan pada isolat pangkal batang dan batang tanaman
ditemukan beberapa koloni bakteri, selain bakteri ditemukan juga beberapa hifa
cendawan. Diduga pada isolat potongan pangkal batang dan batang tanaman cabai
tersebut juga diserang juga diserang oleh patogen patogen lain yaitu cendawan
atau jamur.
Berdasarkan
hasil pengamatan dan melihat secara makroskopis dapat dilihat bahwa pada isolat
tanah yang tumbuh adalah patogen jenis bakteri karena tidak ditemukan hifa
spora yang tumbuh ini menandakan yang tumbuh tersebut adalah jenis bakteri
sedangkan pada isolasi pangkal batang dan batang tanaman tumbuh koloni bakteri
berwarna ungu berukuran kecil, selain bakteri ditemukan juga hifa cendawan yang
hampir menyebar dari pada koloni bakteri yang diinginkan sebelumnya.
Bakteri
yang tumbuh memiliki ciri-ciri koloni yang tumbuh berwarna ungu dengan ukuran
koloni bakteri itu kecil. Bakteri tersebut diduga jenis bakteri gram positif
karena beberapa ciri-ciri dan pengamatan diatas lebih mengacu bahwa bakteri
yang tumbuh adalah bakteri gram positif.
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Pada
hari pertama tidak ditemukan patogen yang tumbuh pada isolat tanah dan isolat
pangkal batang.
2. Pada
isolat tanah tumbuh bakteri pada hari kedua pengamatan, sedangkan pada hari kedua
pada isolat pangkal batang dan batang tumbuh hifa cendawan.
3. Pada
hari ketiga mulai banyak koloni bakteri yang tumbuh pada isolat tanah,
sedangkan pada isolat pangkal batang dan batang tumbuh cendawan semakin
menyebar hifa menutupi hampir kurang lebih 2/3 bagian permukaan media NA.
4. Pada
saat melakukan isolasi mungkin terkontaminasi atau memang dari tanaman itu
sendiri terserang 2 patogen sekaligus yaitu bakteri dan cendawan.
DAFTAR PUSTAKA
Adhi Santika, 2008. Agribisnis
Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta
Ani. 2002. Buku
Pedoman Praktikum Mikrobiologi. IPB Press. Bogor
Fathir,. 2009.
Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta
Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya
Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hewindati, Yuni
Tri dkk. 2006. Hortikultura. UT Press. Jakarta
Prajnanta,
Final. 2007. Agribisnis Cabai Hibrida. Penebar Swadaya. Jakarta
Rahman, S. 2010. Meraup Untung Bertanam Cabai Rawit dengan Polybag. Lily
Publisher. Yogyakarta.
Suryanto, D. 2004. Mengenal Lintasan Aerobik
Degradasi Senyawa Hidrokarbon Aromatik Monosiklik Mikroorganisme.
Wartauniversitaria. 18 (19) : 92-94
Tuhumury, G.N.C. & H.R.D. Amanupunyo. 2013.
Kerusakan Tanaman Cabai Akibat Serangan Virus di Desa Waimital Kecamatan
Kairatu. Jurnal Agrologia. 2(1): 38-41.
Waluyo, L. 2007.
Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang

























Komentar
Posting Komentar