CARA ISOLASI PATOGEN TULAR TANAH


CARA ISOLASI PATOGEN TULAR TANAH
(Laporan Praktikum Patogen Tular Tanah)




                                                                                 


Oleh :
Samsudin
1710517210017
Kelompok 5












PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................              i
DAFTAR TABEL.......................................................................................             ii
PENDAHULUAN......................................................................................            1
Latar Belakang.................................................................................            1
Tujuan..............................................................................................             4
TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................             5
BAHAN DAN METODE...........................................................................            8
Alat dan Bahan................................................................................            8
Alat.........................................................................................             8
Bahan......................................................................................             8
Waktu dan Tempat...........................................................................            8
Prosedur Kerja.................................................................................            8
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................          11
Hasil.................................................................................................          11
Pembahasan......................................................................................           16
KESIMPULAN...........................................................................................          18
DAFTAR PUSTAKA                                                                                               





DAFTAR TABEL
Nomor                                                                                                        Halaman
1. Cara Isolasi dari Tanah......................................................................                 11
2. Cara Isolasi dari Tanaman….............................................................                 13
3. Hasil Isolasi.......................................................................................                 15
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Awalnya tanaman cabai tumbuh didaratan Amerika selatan dan Amerika Tengah, termasuk Meksiko, kira-kira sejak 2500 tahun sebelum masehi. Masyarakat yang pertama kali memanfaatkan dan mengembangkan cabai adalah orang Inca di Amerika Selatan, orang maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko. Mereka memanfaatkan tanaman berbuah pedas tersebut sebagai bumbu penyedap makanan mereka. Salah satu prasasti yang ditemukan di Amerika juga memperlihatkan bahwa pimpinan terakhir Aztek, Montezuma, selalu meminum cokelat kekaisaran yang diberi dengan bubuk cabai untuk sarapan (Harpenas dan Dermawan, 2010).
Masuknya cabai ke Indonesia belum ditemukan keterangan pasti, namun sudah sejak dahulu kala dibudidayakan di berbagai daerah, baik di dataran rendah, di dataran menengah, maupun di dataran tinggi. Di Indonesia, tanaman cabai tersebar luas di berbagai daerah, tetapi sebagai pusat penyebaran penting ialah Purworejo, Kebumen, Tegal, Pekalongan, Pati, Padang, Bengkulu, dan daerah lain (Prajnanta, 2007).
Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) adalah tumbuh-tumbuhan perdu yang berkayu, dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Saat ini cabai menjadi salah satu komoditas sayuran yang banyak di butuhkan masyarakat, baik masyarakat lokal maupun internasional. Setiap harinya permintaan akan cabai, semakin bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di berbagai negara. Budidaya ini menjadi peluang usaha yang masih sangat menjanjikan, bukan hanya untuk pasar lokal saja namun juga berpeluang untuk memenuhi pasar ekspor (Santika, 2008).
Dalam budidaya cabai salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan produksi adalah pemilihan jenis cabai. Cabai keriting mempunyai kelebihan tahan terhadap kelembapan udara. Cabai keriting memiliki beberapa manfaat selain dijadikan sebagai bahan penyedap makanan, cabai keriting juga bisa dimanfaatkan menjadi berbagai macam produk olahan seperti saos cabai, sambel cabai, pasta cabai, bubuk cabai, cabai kering, dan produk instan. Bahkan produk-produk tersebut sudah berhasil diekspor ke Singapura, Hongkong, Saudi Arabia, Brunei Darussalam dan India (Santika, 2008).
Budidaya Cabai Keriting memberikan keuntungan yang menarik, tetapi budidaya cabai keriting juga sering menemui kegagalan dan kerugian besar. Untuk menghindari kegagalan tersebut, dilakukan aplikasi teknologi yang tepat guna, yaitu Teknologi Enzymatis. Teknologi Enzymatis merupakan teknologi baru yang sangat tepat untuk menghadapi permasalahan yang ada pada budidaya cabai. Dilihat dari kandungan gizi dan manfaat yang dimiliki cabai, maka cabai juga penting dikomsumsi oleh manusia. Untuk itu pembudidayaan tanaman cabai harus diperhatikan agar produksi tanaman cabai meningkat dari tahun ketahun. Dalam satu periode tanam, cabai dapat dipanen beberapa kali bila musim dan perawatannya baik dapat dipanen 15-17 kali, namun umumnya sebanyak 10-12 kali. Perawatan tanaman cabai lebih rumit dibandingkan dengan perawatan tanaman hortikultura lainnya, sehingga biaya perawatannya lebih mahal rendahnya produksi juga dapat membuat harga cabai meningkat (Tuhumury dan Amanupunyo, 2013).
Batang utama cabai tegak dan pangkalnyakayu dengan panjang 20-28 cm dengan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabanganberwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm, diameter batang percabanganmencapai 0,5-1 cm. Percabangan bersifat dikotomi atau menggarpu, tumbuhnyacabang beraturan secara berkesinambungan. Batang cabai memiliki batang berkayu, berbuku-buku, percabangan lebar,penampang bersegi, batang muda berambut halus berwarna hijau. Tanaman cabai berbatang tegak yang bentuknya bulat. Tanaman cabai dapat tumbuh setinggi 50-150 cm, merupakan tanaman perdu yang warna batangnya hijau dan beruas-ruas yang dibatasi dengan buku-buku yang panjang tiap ruas 5-10 cm dengan diameter data 5-2 cm (Hewindati, 2006).
Tanaman cabai sangat cocok ditanam pada ketinggian 0-500 m dpl dengan suhu antara 190- 300 C dan curah hujan 1.000-3.000 mm/tahun. Tanaman cabai membutuhkan tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara serta dapat tumbuh optimal pada tanah regosol dan andosol dengan pH tanah antara 6 - 7. Untuk menghindari genangan air pada lahan, Untuk penanaman cabai keriting lebih baik pada lahan yang agak miring dengan tingkat kemiringan tidak lebih dari 250. Lahan yang terlalu miring dapat menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan (Rahman, 2010).


Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui cara isolasi patogen tular tanah.
TINJAUAN PUSTAKA
Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Isolasi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode cawan tuang dan metode cawan gores. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentudari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobianya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan (Waluyo, 2007).
Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media. Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni dengan cara disterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit (Fathir et al., 2009).
Delapan bakteri yang telah diuji dan dipilih untuk dilakukan karakterisasi pertumbuhannya dengan membandingkan kecepatan pertumbuhan bakteri tersebut pada media ekstrak tanah yang mengandung sikloheksimid dengan media NA. Waktu yang dibutuhkan untuk tumbuh pada kedua media berbeda, pada media ekstrak tanah membutuhkan waktu dua hari, sedangkan pada media NA hanya 1 hari, hal ini karena media  NA adalah media yang kaya  nutrisi, sedangkan media ekstrak tanah media yang selektif untuk pertumbuhannya. Isolat bakteri yang diduga dan diharapkan tumbuh pada media ekstrak tanah ini adalah Actinomycetes yaitu kelompok bakteri bakteri Gram-positif yang memiliki kandungan tinggi G + C. Umumnya bakteri ini dibagi dua kelompok yaitu kelompok Streptomyces dan non strepmyces atau actonomycetes. Bakteri kelompok ini umum dan berlimpah di alam seperti bahan-bahan organik. Actinomycetes juga penting sebagai sumber bakteri penghasil antibiotika (Panagan, 2011). 
Identifikasi bakteri merupakan suatu usaha untuk mengetahui jenis serta nama suatu mikroorganisme dalam satu kelompok tertentu berdasarkan karakteristik persamaan dan perbedaan yang dimiliki oleh masing masing mahluk hidup. Identifikasi bakteri dilakukan dengan membanding bandingkan ciri ciri yang ada dengan bakteri yang belum diketahui sebelumnya. Identifikasi bakteri yang baru diisolasi memerlukan deskripsi, perincian dan perbandingan yang cukup dengan deskripsi yang telah di publikasikan untuk mikroorganisme yang serupa (Suryanto, 2004).
Teknik isolasi mikroba adalah suatu usaha untuk menumbuhkan mikroba diluar dari lingkungan alamiahnya. Mikroorganisme dapat diperoleh dari lingkungan air, tanah, udara, substrat yang berupa bahan pangan, tanaman dan hewan. Jenis mikroorganismenya dapat berupa bakteri, khamir, jamur, kapang dll. Populasi mikroba di lingkungan sangat beranekaragam sehingga dalam mengisolasi diperlukan beberapa tahap penanaman sehingga berhasil diperoleh koloni tunggal. Koloni yang tunggal ini kemudian yang akan diperbanyak untuk suatu tujuan penelitian misalnya untuk mengisolasi DNA mikroba yang dapat mendeteksi mikroba yang telah resistem terhadap suatu antibiotik.atau untuk mengetahui mikroba yang dipakai untuk bioremediasi holokarbon (Ani, 2002).
 
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah cawan petri, botol kaca, laminar air flow, tabung reaksi, jarum ose, shaker, suntikan, rak tabung reaksi, lampu bunsen, neraca analitik, pisau, gelas beaker dan vortex.

Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah tanaman yang terserang, cling warp, media pda, aluminium foil, media NA, tisu, alkohol 70%, natrium hipoklorit (naocl) dan air steril

Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 28 Maret 2019, pada pukul 14.50-16.50 WITA. Di laboraturium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah :
A.    Isolasi Tanah
1.      Menimbang tanah sebanyak 10 gram menggunakan neraca analitik
2.      Memasukkan tanah kedalam botol kaca kemudian campurkan air steril sebanyak 90 ml
3.      Membalut bagian mulut botol kaca dengan aluminium foil lalu eratkan
4.      Shaker botol kaca yang berisi isolat tanah selama 30 menit dan sampai larutan homogen
5.      Mengambil isolat tanah dengan suntikan sebanyak 0,1 ml kemudian campurkan dengan 9 ml, kemudian Portex hingga laporan homogen
6.      Sterilkan tangan sebelum melakukan isolasi dibawah laminar air flow (LAF) dengan 70%
7.      Membuka cling warp pada media NA dengan memanaskan cawan petri yang berisi media NA dengan menggunakan lampu bunsen
8.      Memijarkan jarum suntikan dibawah bunsen, kemudian mengambil isolat tanah sebanyak 1 ml menggunakan suntikan
9.      Memijarkan segitiga perata dibawah lampu bunsen
10.  Membuka cawan petri yang berisi media NA kemudian semprotkan isolat tanah yang telah diambil sebelumnya ratakan dengan segitigan perata sampai seluruh permukaan media NA
11.  Menutup cawan kemudian balut dengan cling warp
12.  Berilah label untuk memudahkan pengamatan
B.     Isolasi Pangkal Batang dan Batang Tanaman
1.      Memotong kecil 2 potongan kecil bagian dari pangkal batang dan 2 potongan kecil dari batang tanaman yang terserang menggunakan pisau secara hati-hati
2.      Sterilkan potongan pangkal batang dan batang dengan menggunakan NaOCl selama 1 menit kemudian memindahkan potongan tersebut dengan pinset kedalam cawan petri yang berisi air steril selanjutnya letakkan diatas tisu untuk dikeringkan
3.      Sterilkan tangan sebelum melakukan isolasi LAF menggunakan alkohol 70%
4.      Membuka cling warp yang berisi media media NA kemudian pijarkan pinggiran cawan petri dibawah lampu bunsen
5.      Memanaskan pinset dibawah lampu bunsen, kemudian mengambil potongan isolat pangkal batang dan batang selanjutnya letakkan didalam cawan petri, atur sehingga mudah melakukan pengamatan
6.      Menutup cawan petri lalu pijarkan pinggiran cawan petri selanjutnya balutlah dengan cling warp
7.      Berilah label untuk memudahkan pengamatan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Adapun hasil praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Cara Isolasi dari Tanah
No
Gambar
Keterangan
1


Tanah yang akan dijadikan isolat
2


Proses memasukkan tanah yang sudah ditimbang sebelumnya kedalam botol kaca.
3


Proses menshaker botol kaca yang berisi suspensi selama ± 20 menit dengan kecepatan 150 rpm.
4


Proses mengambil suspensi tanah yang telah dishaker menggunakan suntikan



Tabel 1. Lanjutan
5


Proses memvortex suspensi sebelumnya yang dimasukkan kedalam tabung reaksi hingga suspensi menjadi homogen
6


Proses menyebarkan suspensi tanah yang telah divortex sebelumnya keatas permukaan media NA sebanyak 1 ml.
7



Proses meratakan bagian permukaan media NA dengan segtiga perata
8


Proses memijarkan pinggiran cawan petri yang telah dimasukkan suspensi sebelumnya
9


Proses membalut pinggiran cawan petri dengan cling warp
Tabel 1. Lanjutan
10


suspensi tanah yang siap diamati setelah diberi label sebelumnya


Tabel 2. Cara Isolasi dari Tanaman
No
Gambar
Keterangan
1


Bagian pangkal batang dan batang tanaman yang akan dijadikan isolat.
2


Proses memotong bagian pangkal batang dan batang tanaman dengan pisau
3


Proses mencelupkan potongan pangkal batang dan batang tanaman dengan NaOCl selama 1 menit kemudian dicelupkan pada air steril.
4


Proses mengeringkan potongan pangkal batang dan batang yang telah dicelupkan sebelumnya
Tabel 2. Lanjutan
5



Proses memijarkan bagian pinggir media NA sebelum diletakkan isolat.
6

 

Proses meletakkan potongan isolat dengan pinset
7


Potongan isolat telah diletakkan pada empat sisi dari cawan petri agar memudahkan saat pengamatan.
8


Proses memijarkan bagian pinggir media NA yang didalamnya berisi potongan isolat pangkal batang dan batang.
9



Proses membalut cawan petri dengan cling warp.
Tabel 2. Lanjutan
10


Cawan petri yang berisi potongan isolat pangkal batang dan batang dan siap untuk diamati sebelummnya diberikan label.

Tabel 3. Hasil isolasi
No
Gambar
Gambar
Keterangan
1

A.      Isolat tanah pada hari pertama.


B.     Isolat pangkal batang dan batang pada hari pertama.
A.    Pada isolat tanah belum ditemukan yang tumbuh.

B.     Pada isolat pangkal batang dan batang tanaman belum ditemukan.
2

A.    Isolat tanah pada hari kedua.

B.     Isolat pangkal batang dan batang pada hari kedua.
A.    Pada isolat tanah telah ditemukan 3 koloni bakteri.

B.     Pada isolat pangkal batang dan batang tanaman ditemukan hifa pada semua isolat potongan.

3

A.      Isolat tanah pada hari ketiga.


B.  Isolat pangkal batang dan batang pada hari ketiga.
A.    Pada isolat tanah banyak ditemukan koloni bakteri yang tumbuh dan hampir menutupi 2/3 bagian media NA.

B.     Pada isolat pangkal batang dan batang tanaman ditemukan selain bakteri yang tumbuh terdapat juga cendawan.

Pembahasan
Pada praktikum ini kami melakukan isolasi tanah , pangkal batang tanaman dan batang tanaman cabai yang diduga terkena serangan oleh jenis patogen tular tanah yaitu bakteri. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat suspensi tanah dengan cara menimbang 10 gram, lalu dimasukkan kedalam botol kaca, kemudian masukkan air steril sebanyak 90 ml lalu tutup dengan aluminium foil selanjutnya di shaker dengan kecepatan 150 rpm selama kurang lebih 20 menit. Lalu ambil suspensi tanah tersebut dengan suntikan sebanyak 1 ml kemudian pindahkan kedalam tabung reaksi yang sebelumnya air steril sebanyak 9 ml, lalu vortex hingga suspensi tersebut homogen. Selanjutnya melakukan isolasi dengan media NA dibawah Laminar Air Flow (LAF) dan diberi label untuk memudahkan saat pengamatan.
Sedangkan pada isolasi dari pangkal batang dan batang tanaman hal pertama yang dilakukan adalah memotong bagian pangkal batang dan batang tersebut masing-masing 2 potongan, lalu potongan tersebut dicelupkan kedalam cawan petri yang berisi NaOCl selama 1 menit dan tenggelamkan, kemudian celupkan kembali kedalam cawan petri yang berisi air steril sejumlah 3 cawan secara bergantian lalu keringkan diatas tisu. Selanjutnya melakukan isolasi dengan media NA dibawah Laminar Air Flow (LAF) dan diberi label untuk pengamatan selanjutnya. Tujuan merendam bagian potongan pangkal batang dan batang tanaman adalah untuk mensterilkan atau meminimalkan kontaminan yang nantinya tumbuh didalam media.
            Pengamatan dilakukan selama 3 hari dari hari jum’at sampai hari minggu dan didapatkan hasil sebagai berikut             Pada hari pertama baik pada media NA yang berisi isolat tanah maupun pangkal batang dan batang tanaman tidak ditemukan patogen apapun yang tumbuh diatas permukaan media NA. Pada hari kedua pada isolat tanah ditemukan beberapa koloni bakteri tumbuh pada media NA sedangkan pada pada isolat pangkal batang dan batang tanaman ditemukan beberapa hifa tumbuh pada beberapa potongan isolat. Pada hari ketiga pada isolat tanah koloni bakteri yang hampir menutupi 2/3 bagian permukaan dari media NA sedangkan pada isolat pangkal batang dan batang tanaman ditemukan beberapa koloni bakteri, selain bakteri ditemukan juga beberapa hifa cendawan. Diduga pada isolat potongan pangkal batang dan batang tanaman cabai tersebut juga diserang juga diserang oleh patogen patogen lain yaitu cendawan atau jamur.
            Berdasarkan hasil pengamatan dan melihat secara makroskopis dapat dilihat bahwa pada isolat tanah yang tumbuh adalah patogen jenis bakteri karena tidak ditemukan hifa spora yang tumbuh ini menandakan yang tumbuh tersebut adalah jenis bakteri sedangkan pada isolasi pangkal batang dan batang tanaman tumbuh koloni bakteri berwarna ungu berukuran kecil, selain bakteri ditemukan juga hifa cendawan yang hampir menyebar dari pada koloni bakteri yang diinginkan sebelumnya.
            Bakteri yang tumbuh memiliki ciri-ciri koloni yang tumbuh berwarna ungu dengan ukuran koloni bakteri itu kecil. Bakteri tersebut diduga jenis bakteri gram positif karena beberapa ciri-ciri dan pengamatan diatas lebih mengacu bahwa bakteri yang tumbuh adalah bakteri gram positif.
KESIMPULAN
            Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Pada hari pertama tidak ditemukan patogen yang tumbuh pada isolat tanah dan isolat pangkal batang.
2.      Pada isolat tanah tumbuh bakteri pada hari kedua pengamatan, sedangkan pada hari kedua pada isolat pangkal batang dan batang tumbuh hifa cendawan.
3.      Pada hari ketiga mulai banyak koloni bakteri yang tumbuh pada isolat tanah, sedangkan pada isolat pangkal batang dan batang tumbuh cendawan semakin menyebar hifa menutupi hampir kurang lebih 2/3 bagian permukaan media NA.
4.      Pada saat melakukan isolasi mungkin terkontaminasi atau memang dari tanaman itu sendiri terserang 2 patogen sekaligus yaitu bakteri dan cendawan.
DAFTAR PUSTAKA
Adhi Santika, 2008. Agribisnis Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta
Ani. 2002. Buku Pedoman Praktikum Mikrobiologi. IPB Press. Bogor
Fathir,. 2009. Mikrobiologi Dasar. Erlangga. Jakarta
Harpenas, Asep & R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hewindati, Yuni Tri dkk. 2006. Hortikultura. UT Press. Jakarta
Prajnanta, Final. 2007. Agribisnis Cabai Hibrida.  Penebar Swadaya. Jakarta
Rahman, S. 2010. Meraup Untung  Bertanam Cabai Rawit dengan Polybag. Lily Publisher. Yogyakarta.
Suryanto, D. 2004. Mengenal Lintasan Aerobik Degradasi Senyawa Hidrokarbon Aromatik Monosiklik Mikroorganisme. Wartauniversitaria. 18 (19) : 92-94
Tuhumury, G.N.C. & H.R.D. Amanupunyo. 2013. Kerusakan Tanaman Cabai Akibat Serangan Virus di Desa Waimital Kecamatan Kairatu. Jurnal Agrologia. 2(1): 38-41.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGHITUNG KERAPATAN KOLONI BAKTERI DENGAN MENGGUNAKAN COLONY COUNTER

ISOLASI PATOGEN PADA TANAMAN BERGEJALA

AKTIVITAS ENZIM PAPAIN