ALLELOPATHY


ALLELOPATHY
(Laporan Praktikum Ilmu Gulma dan Pengendaliannya)






                                                                                 
Oleh :
Samsudin
1710517210017
Kelompok 7












PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
                                         DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI...............................................................................................              i
DAFTAR TABEL.......................................................................................             ii
PENDAHULUAN......................................................................................            1
Latar Belakang.................................................................................            1
Tujuan..............................................................................................             3
BAHAN DAN METODE...........................................................................            4
Alat dan Bahan................................................................................            4
Alat.........................................................................................             4
Bahan......................................................................................             4
Waktu dan Tempat...........................................................................            4
Prosedur Kerja.................................................................................            4
HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................            6
Hasil.................................................................................................            6
Pembahasan......................................................................................             7
KESIMPULAN...........................................................................................          11
DAFTAR PUSTAKA                                                                                               







DAFTAR TABEL
Nomor                                                                                                                    Halaman
1. Hasil Pengamatan Alelopati Daun Pinus Dengan Panjang Akar………             6
2. Hasil Pengamatan Alelopati Daun Pinus Dengan Panjang Plumula…...             7


 PENDAHULUAN

Latar Belakang
           Gulma adalah tanaman tumbuhan liar yang tidak dikehendaki tumbuh di antara tanaman pokok. Beberapa gulma sering menjadi inang hama dan penyakit tanaman tertentu atau mengandung zat tertentu (zat allelophaty) yang dapat merugikan tanaman pokok. Persaingan gulma pada awal pertumbuhan akan mengurangi kuantitas hasil, sedangkan persaingan dan gangguan gulma menjelang panen berpengaruh besar terhadap kualitas hasil. Perbedaan cara penanaman, laju pertumbuhan dan umur varietas yang ditanam, dan tingkat ketersediaan unsur hara juga akan menentukan besarnya persaingan gulma dengan tanaman (Djojosumarto, 2001).
Dalam persaingan antara individu-individu dari jenis yang sama atau jenis yang berbeda untuk memperebutkan kebutuhan-kebutuhan yang sama terhadap factor-faktor pertumbuhan, kadang-kadang sustu jenis tanaman mengeluarkan suatu jenis senyawa kimia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan jenis-jenis tanaman lain dan mungkin juga dapat  mempengaruhi pertumbuhan dari anakannya sendiri, dan inilah yang merupakan suatu peristiwa yang dikenal dengan allelopati (Onrizal. 2008).
Alelopati merupakan interaksi antar populasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa atau antibiotisme. Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu (Willis, 2007).
Alelopati tentunya menguntungkan bagi spesies yang menghasilkannya, namun merugikan bagi tumbuhan sasaran. Oleh karena itu, tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan alelokimia umumnya mendominasi daerah-daerah tertentu, sehingga populasi hunian umumnya adalah populasi jenis tumbuhan penghasil alelokimia. Dengan adanya proses interaksi ini, maka penyerapan nutrisi dan air dapat terkonsenterasi pada tumbuhan penghasil alelokimia dan tumbuhan tertentu yang toleran terhadap senyawa ini (Rohman, 2001).
Proses pembentukkan senyawa alelopati sungguh merupakan proses interaksi antarspesies atau antarpopulasi yang menunjukkan suatu kemampuan suatu organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan berkompetisi dengan organisme lainnya, baik dalam hal makanan, habitat, atau dalam hal lainnya (Rohman, 2001).
Peristiwa allelopati ialah peristiwa adanya pengaruh jelek dari zat kimia (allelopat) yang dikeluarkan tumbuhan tertentu yang dapat merugikan pertumbuhan tumbuhan lain yang tumbuh di sekitarnya.Pertumbuhan jagung banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor genetic dan lingkungan, diantara faktor lingkungan adalah adanya persaingan dengan gulma. Pertumbuhan gulma disekitar tanaman jagung perlu dikendalikan karena menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen (Kurniawan, 2006).


Tujuan
            Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui pengaruh senyawa beracun dari daun kirinyuh, daun babandotan, daun pinus, daun akasia terhadap pertumbuhan biji jagung.

BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu blender, cawan petri, gelas ukur 100 ml, gelas beaker, sendok, timbangan, pinset, pisau dan saringan.

Bahan
            Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu 50 gr daun babandotan, 50 gr daun akasia, 50 gr daun pinus, 50 gr daun akasia, jagung dan air.

Waktu dan Tempat
            Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 31 Oktober 2019, pada pukul 16.30-17.30 WITA di Laboratorium Entomologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru.

Prosedur Kerja
            Adapun prosedur kerja yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah
1.      Menyiapkan alat dan bahan.
2.      Menghaluskan masing-masing daun dengan blender ditambahkan air secukupnya kemudian hasil blender tersebut dengan saringan sehingga dihasilkan hanya ekstraksi daun tersebut.
3.      Memasukan tisu sebelumnya sesuaikan dengan cawan petri.
4.      Merendam sebelumnya biji jagung kemudian diatur letak tumbuhnya pada cawan petri yang berisi tisu sebelumnya.
5.      Kemudian dilakukan pengambilan dosis larutan pinus dengan volume 25 ml kemudian ditambahkan 75 ml air sehingga jumlah volumenya 100 ml.
6.      Selanjutnya volume 100 ml campuran tersebut dimasukkan dalam hand sprayer.
7.      Lakukan hal yang sama dengan dosis 50 ml ekstrasi daun pinus ditambahkan 50 ml air.
8.      Lakukan hal yang sama dengan membuat dengan dosis 75 ml ekstrasi daun pinus ditambahkan 25 ml air.
9.      Semprotkan masing masing dosis kedalam cawan petri yang berisi jagung.
10.  Amati setiap hari sampai biji jagung tumbuh akar dan plumula, setiap hari dibasahi tisu dengan air (menggunakan 12 jam terkena cahaya dan 12 jam tidak terkena cahaya).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
            Adapun hasil yang didapatkan dalam praktikum kali ini adalah
Tabel 1. Hasil Pengamatan Alelopati Daun Pinus Dengan Panjang Akar.
No

Perlakuan
Benih
Pengamatan Hari Ke-
Jumlah
Rata-rata
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12


1.


Kontrol
1
0,6
1
1,5
2
2,2
2,3
2,4
2,5
2,7
2,7
2,8
2,9
25,6
2,13
2
0,4
0,8
1
1,2
1,3
1,4
1,4
1,5
1,6
1,8
1,9
2
16,3
1,36
3
-
0,2
0,5
0,1
1
1,1
1,2
1,4
1,4
1,5
1,7
1,8
11,9
0,99
4
0,4
0,9
1,2
1,6
1,9
2
2,1
2,3
2,4
2,6
2,7
2,9
23,0
1,92
5
0,7
0,9
1,3
1,4
1,5
1,8
2
2,1
2,2
2,3
2,4
2,6
21,2
1,77
Subtotal













98
8,17
Rata-rata













19,6
1,634


2.


100%
1
-
-
-
-
-
0,4
0,5
0,5
0,6
0,6
0,7
0,8
4,1
0,34
2
-
-
-
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
1,3
1,4
1,5
8,4
0,7
3
-
-
-
-
-
-
-
0,1
1,8
0,3
0,4
0,5
3,1
0,26
4
-
-
-
-
-
-
-
-
2,4
-
-
-
2,4
0,2
5
-
-
-
-
-
-
-
-
3
-
0,1
0,2
3,3
0,3
Subtotal













21,3
1,8
Rata-rata













4,26
0,36


3.


50%
1
-
-
-
-
0,1
0,2
0,4
0,5
0,7
0,8
0,8
0,9
4,4
0,37
2
-
-
-
-
-
-
-
0,2
0,3
0,4
0,5
0,5
1,9
0,16
3
-
-
-
-
-
0,2
0,3
0,4
0,6
0,7
0,8
0,9
3,9
0,32
4
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
5
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0,1
0,1
0,2
0,0167
Subtotal













10,4
0,87
Rata-rata













2,08
0,17


4.


25%
1
-
-
0,4
0,8
1,1
1,2
1,3
1,4
1,5
1,6
1,7
1,8
12,8
1,067
2
-
-
0,5
0,9
1,3
1,6
1,9
2,1
2,3
2,4
2,5
2,6
18,1
1,51
3
-
-
0,4
0,6
0,8
1
1,1
1,3
1,5
1,7
1,9
2
12,3
1,025
4
-
0,2
0,2
0,4
0,5
0,6
0,6
0,7
0,7
0,8
0,8
0,9
6,4
0,53
5
-
-
0,2
0,3
0,4
0,5
0,5
0,6
0,6
0,7
0,7
0,8
5,3
0,44
Subtotal













54,9
4,57
Rata-rata













10,98
0,914





Tabel 2. Hasil Pengamatan Alelopati Daun Pinus Dengan Panjang Plumula.
No

Perlakuan
Benih
Pengamatan Hari Ke-
Jumlah
Rata-rata
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12


1.


Kontrol
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
3
-
-
-
-
-
0,5
0,7
0,8
1
1,1
1,3
1,5
6,9
0,57


4
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
5
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
Subtotal













6,9
0,57
Rata-rata













1,38
0,114


2.


100%
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
3
-
-
-
-
-
-
-
0,3
0,3
0,4
0,5
0,6
2,1
0,17
4
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
5
-
-
-
-
-
-
-
0,3
0,3
0,5
0,6
0,6
2,3
0,192
Subtotal













4,4
0,362
Rata-rata













0,88
0,072


3.


50%
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
4
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
5
-
-
-
-
-
-
0,2
0,4
0,5
0,6
0,6
0,7
3
0,25
Subtotal













3
0,25
Rata-rata













0,6
0,05


4.


25%
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
2
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
3
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0
0
4
-
-
-
-
-
-
0,2
0,4
0,5
0,7
0,8
0,9
3,5
0,292
5
-
-
-
-
-
-
-
0,6
0,6
0,7
0,9
0,9
3,7
0,308
Subtotal













7,2
0,6
Rata-rata













1,44
0,12

Pembahasan
            Berdasarkan praktikum ini diperoleh, Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan menaggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di bandingkan dengan yang lain.
            Pengamatan pada praktikum ini adalah dengan mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala yaitu 1 kali sehari selama 12 hari. Pengukuran dilakukan dengan mengukur panjang akar, panjang plumula dan jumlah biji yang berkecambah. Pada pengukuran panjang akar dan panjang plumula dari kontrol semua biji berkecambah dengan panjang akar 2 cm dan hanya 1 biji yang tumbuh plumula yaitu dengan  panjang 6,9 cm Sedangkan untuk perlakuan 100% ekstrak pinus hanya semua biji yang berkecambah dengan panjang akar 0,35 cm dan hanya 2 biji yang tumbuh plumula yaitu dengan panjang plumula 0,17 cm. Untuk perlakuan 50% ekstrak pinus terdapat 4 biji yang berkecambah dengan panjang akar 0,22 cm dan untuk plumula terdapat 1 biji dengan panjang plumula 0,25 cm . Pada perlakuan 25% ekstrak pinus semua biji yang berkecambah dengan panjang akar 0,84 cm dan untuk plumula terdapat 2 biji dengan panjang plumula 0,3 cm.
            Dalam percobaan allelopati ini, adapun jenis tanaman yang dijadikan ekstrak yang diketahui mengandung zat allelopati yaitu ekstrak pinus . Bagian-bagian tanaman yang digunakan adalah bagian daun. Mekanisme pengaruh alelokimia (khususnya yang menghambat) terhadap pertumbuhan dan perkembangan organisme (khususnya tumbuhan) sasaran melalui serangkaian proses yang cukup kompleks, proses tersebut diawali di membran plasma dengan terjadinya kekacauan struktur, modifikasi saluran membran, atau hilangnya fungsi enzim ATP-ase. Hal ini akan berpengaruh terhadap penyerapan dan konsentrasi ion dan air yang kemudian mempengaruhi pembukaan stomata dan proses fotosintesis. Hambatan berikutnya mungkin terjadi dalam proses sintesis protein, pigmen dan senyawa karbon lain, serta aktivitas beberapa fitohormon. Sebagian atau seluruh hambatan tersebut kemudian bermuara pada terganggunya pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sasaran.
            Alelopati tentunya menguntungkan bagi spesies yang menghasilkannya, namun merugikan bagi tumbuhan sasaran. Oleh karena itu, tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan alelokimia umumnya mendominasi daerah-daerah tertentu, sehingga populasi hunian umumnya adalah populasi jenis tumbuhan penghasil alelokimia. Dengan adanya proses interaksi ini, maka penyerapan nutrisi dan air dapat terkonsenterasi pada tumbuhan penghasil alelokimia dan tumbuhan tertentu yang toleran terhadap senyawa ini.
            Pada tabel pertama didapatkan hasil yaitu dosis 50% daun pinus dengan rata-rata 2,08 lebih tinggi daya alelopatinya dibandingkan dosis 25% dan 100% dosis yang diberikan. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya biji jagung yang berkecambah sedangkan pada tabel kedua didapatkan hasil yaitu dosis 50% daun pinus dengan rata-rata panjang plumula yaitu 0,6 jauh lebih tinggi daya alelopati yang dihasilkannya hal ini dibuktikan dengan hanya satu biji jagung yang dapat tumbuh plumula berbeda dengan dosis 25% dan 100% daun pinus yang diberikan. Disimpulkan bahwa perlakuan 50% dosis daun pinus adalah dosis yang paling efektif.

            Daun pinus sendiri mengandung senyawa yang dapat menghambat perkecambahan yang disebabkan oleh senyawa-senyawa alelopati berupa fenol yang terserap ke dalam biji hal ini diperkuat dengan uji kuantitatif laboratorium Kimia Fakultas MIPA Univeritas Brawijaya bahwa daun Pinus merkusii segar mengandung Fenol sebesar 2,018 ± 0,013 %. Menurut Kristanto (2006) dan Robinson (1991) senyawa alelokimia berupa fenol dan flavonoid efektif menghambat aktivitas enzim selama proses perkecambahan. Senyawa tersebutlah yang menyebabkan biji jagung sedikit atau terhambat daya perkecambahannya.
KESIMPULAN
          Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum ini adalah :
1.      Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain.
2.      Berdasarkan kedua tabel pemberian dosis 50% daun pinus adalah yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan dan perkecambahan biji jagung dibandingkan dosis lainnya.
3.      Pada daun pinus terdapat senyawa alelokimia berupa fenol dan flavonoid efektif menghambat aktivitas enzim selama proses perkecambahan. Senyawa tersebutlah yang menyebabkan biji jagung sedikit atau terhambat daya perkecambahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Djojosumarto, P. 2001. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Kristanto, B.A., 2006. Perubahan karakter tanaman jagung (Zea mays L.) akibat alelopati dan persaingan teki (Cyperus rotundus L.) J.Indon. Trop.Anim. Agric. 31 (3) :189- 194
Kurniawan. 2006. Pengaruh Alelopati Gulma Teki (Cyperus Rotundus) dan Alang-Alang ( Imperata cylindrica) Terhadap Kadar Protein dan Serat Kasar Hijau Jagung (Zea mays L.). PS. September 2006. Jakarta.
Onrizal dan Kusmana, C. 2005. Ekologi Hutan. Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Robinson, T. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Rohman, F. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Universitas Malang. Malang.
Willis, R. J. 2007. The History of Allelopathy. Australia: University of Melbourne, Parkville,Victoria, Australia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGHITUNG KERAPATAN KOLONI BAKTERI DENGAN MENGGUNAKAN COLONY COUNTER

ISOLASI PATOGEN PADA TANAMAN BERGEJALA

AKTIVITAS ENZIM PAPAIN